
Brydan menghentikan ucapannya sejenak. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Hari sudah mulai terik, matahari pun sudah sedikit naik. Hingga mau tak mau, Brydan mengajak sang istri untuk masuk. Ia tidak mau istrinya kepanasan.
"Ayo kita masuk. Aku akan ceritakan di dalam kamar." Kata Brydan seraya menjulurkan tangannya untuk membantu sang istri bangun dari duduknya. Dengan senang hati Nadya menerima uluran tangan suaminya. Dan mereka berdua melangkah untuk masuk.
***
"Ayo Sayang, lanjutkan." Dengan tidak sabar, Nadya menarik tangan suaminya untuk dibawa ke pusaran ranjang.
"Okey. Jadi, setelah Naddie mengetahui perihal hubunganku dengan Velyn, dia mulai menjaga jarak dariku. Tepatnya dia mulai menjauh. Tanpa aku dan Velyn sadari, Naddie mulai menyusun rencananya untuk mengacaukan hubunganku dengan Velyn. Singkat cerita, Naddie mulai menganggu hubunganku dengan Velyn. Kamu tau kan menganggu dalam artian berusaha untuk merusak hubunganku dan Velyn.
Hingga suatu hari, kesabaran yang aku miliki sudah habis. Dan aku mengirimkannya ke luar negeri. Yang jauh dari tempatku tinggal sekarang di USA. Tetapi nihil, dia tetap bisa kembali dan kembali lagi. Selama ini aku tidak begitu menghiraukannya. Karena ayahnya merupakan sahabat dekat mendiang ayahku. Jika aku mau, aku bisa menyingkirkan dia dari dunia ini. Tetapi aku masih ingat betapa Uncle Gerald begitu mempercayai diriku untuk menjaga putrinya.
Maka dari itulah, aku tidak memperkenalkan dirimu, bukan karena aku malu. Tetapi ini yang aku takutkan. Dia akan kembali berulah." Brydan menjelaskan dengan begitu rinci. Mungkin ini kalimat terpanjang yang pernah ia ucapkan.
"Jadi, wanita yang kamu ajak ke restoran tempat aku bekerja itu, mantan kekasih mu?" Tanya Nadya dengan hati-hati, tentu saja ia tidak mau membuat mood suaminya menjadi buruk.
"Ya," jawab Brydan.
Jadi mantan kekasihnya itu bernama Velyn.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kalian?" Seru Nadya dengan nada yang dibuat selembut mungkin. Karena dalam pertanyaan yang baru saja ia lontarkan, mengandung bom yang bisa meledak kapan saja.
"Kau pikir bagaimana? Dia meninggalkan aku demi kariernya. Dia sudah berkhianat dari diriku." Ujar Brydan dengan entengnya.
Berkhianat? Memangnya dia menyelengkuhi dirimu? Ishh, bahasa orang satu ini memang aneh sih. Aku tidak heran lagi.
"Dan...." Tanpa aba-aba Brydan langsung menindih tubuh sang istri. Dan berbisik, "aku meminta imbalan untuk tenaga yang aku keluarkan barusan." Jika sudah begini, apalah daya, Nadya hanya bisa pasrah.
Memang apa yang kau harapkan, Nadya? Dia itu super duper perhitungan.
Dan seperti biasa, Brydan akan melakukannya sepuas yang dia mau. Hingga malam telah larut, barulah keduanya menghentikan kegiatannya. Dan langsung terlelap dalam indahnya alam bawah sadar. Haha.
____________________ 00 ______________________
"Den, kau yang bertanggung jawab atas keselamatan istriku." Ujar Brydan. Di tengah sibuknya pekerjaan yang kini tengah melanda keduanya. Masih sempat-sempatnya Brydan mengingatkan Dendy agar senantiasa menjaga sang istri.
"Sesuai perintah Anda, Tuan." Jawab Dendy dengan begitu patuh.
__ADS_1
"Kalau tidak ada hal lain, saya pamit, Tuan." Kata Dendy yang kemudian pamit untuk undur diri.
Tadi sang istri meminta izin kepada Brydan untuk keluar ke rumah Tica. Sebenarnya Brydan masih was-was akan keselamatan sang istri. Tetapi karena Nadya memaksa dan terlebih lagi menampilkan wajah super cute ala dirinya. Akhirnya dengan separuh hati, Brydan mengizinkan istrinya untuk keluar mansion.
Bersama dengan Fanny sang bodyguard. Edward sampai menunda acara hang out nya bersama Fanny. Tentunya karena ancaman Brydan.
***
Di tempat lain, tepatnya di rumah Tica. Fanny dan Nadya tengah asyik bercengkrama bersama sang pemilik rumah. Biasalah bicara ala-ala wanita. Yang hanya dimengerti oleh mereka bertiga.
Tanpa terasa, waktu terus bertambah. Kini matahari sudah hendak tenggelam. Yang menandakan hari sudah sore. Sebentar lagi Sang Penguasa pasti akan pulang. Brydan sudah mewanti-wanti sang istri agar harus berada di mansion ketika Brydan pulang bekerja. Dan Nadya menyanggupinya.
"Nyonya, sebentar lagi Tuan Brydan akan segera pulang." Ucap Fanny sembari melirik jam di pergelangan tangannya. Dan Nadya hanya mengangguk kemudian pamit untuk pulang kepada Tica.
"Tic, aku pamit yah. Lain waktu aku akan mampir lagi." Pamit Nadya sambil mengerlingkan sebelah matanya. Entah mengisyaratkan apa. Intinya hanya dia dan Tica yang tahu isyarat itu.
"Baikah, hati-hati." Jawab Tica. Kemudian pulanglah Nadya ke tempat asalnya. Mansion Brydan tentunya.
***
Sebenarnya Nadya masih ingin tahu semua hal mengenai Brydan. Tetapi Brydan tetap belum siap untuk menceritakannya. Hanya satu yang ingin sekali Nadya ketahui, yaitu kisah hidup Brydan dan Dendy. Tetapi untuk kali ini, Nadya juga tengah bersiap diri untuk menghadapi Naddie. Ya, ia harus siap untuk menghadapi wanita macam Naddie.
Sesampainya di mansion, Nadya langsung masuk ke dalam mansion. Tetapi dia melihat ada mobil asing yang terparkir cantik di garasi mansion. Dengan heran, Nadya menghampiri Pak San yang tengah berbincang dengan penjaga depan.
"Pak San." Panggil Nadya, dengan spontan Pak San langsung menoleh. Dan membungkuk ketika mendapati Nadya di hadapannya.
"Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?" Ujarnya kepada istri dari majikannya. Tetapi Nadya menggeleng. Dan kembali menilik mobil asing itu. Pak San pun mengikuti arah pandang Nadya. Dan sedetik kemudian ia paham apa yang diinginkan oleh Nadya.
"Itu adalah mobil dari Nona Naddie, Nyonya." Ucap Pak San. Dan hanya diangguki oleh Nadya. Bukan apa-apa, kini Nadya tengah berpikir, ada maksud apa wanita itu datang ke mansion sang suami.
"Oh, mobil si mentog." Kata Nadya secara spontan. Dan sukses membuat dua makhluk yang mendengarnya langsung mengernyit heran. Siapa lagi kalau bukan Fanny dan Pak San. Mereka berdua heran, mengapa sang nyonya sampai menyematkan nama itu untuk Naddie? Hanya Nadya lah yang tahu alasannya.
"Mentog?" Ujar Pak San dan Fanny secara bersamaan. Dan Nadya langsung tersadar dari lamunan sementaranya.
"Ahh, hehe, maksudku Nona Naddie. Makanya dia jalannya lenggak-lenggok alias megal-megol gitu kaya mentog." Nadya hanya cengengesan tidak jelas kemudian langsung masuk kembali ke dalam mansion. Guna menemui si mentog.
"Ayo, Fan."
__ADS_1
Nadya begitu terkejut, saat melihat seorang wanita tengah terduduk manis di sofa ruang tamu. Bahkan wanita itu sudah seperti ratu yang memerintah ini itu kepada semua pelayan yang lewat. Nadya tersenyum penuh arti kemudian menghampiri wanita itu. Ya, siapa lagi kalau bukan si mentog.
Sepertinya si mentog perlu diberi nasi dedeg supaya tidak nyasar ke mansion suamiku.
Melihat sang nyonya masuk, semua pelayan pun membungkukkan badannya. Dan Naddie langsung menoleh ke arah Nadya. Namun dia tetap bersikap tidak tahu diri. Padahal jelas-jelas Nadya lah yang merupakan nyonya di tempat itu. Buka dirinya yang hanya mengaku-ngaku menjadi nyonya.
Kita lihat saja Nona Naddie. Kau akan pergi sendiri atau suamiku sendiri yang akan mengusirmu dari sini.
Fanny tetap berdiri di belakang Nadya. Dia masih memantau saja, Fanny ingin melihat. Seberapa besar keberanian Nadya untuk menghadapi Naddie. Tetapi Fanny yakin kalau Nadya pasti bisa menyingkirkan si mentog itu dari mansion Tuan Brydan.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe
Jangan jadi pembaca gelap
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Hari ini satu aja yah, soalnya othor mau vaksin dulu, hehe
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
__ADS_1
IG:@cynshindi