
"Seru yah tadi, Ed." Ujar Tica yang kini sudah sedikit akrab dengan Edward berkat di zoo tadi. Kini mereka sudah berada di luar zoo. Karena matahari sudah hampir terbenam akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Di Kantor Robson.Drction__
Ceklek.
Pintu ruangan Brydan terbuka, Brydan hampir saja marah. Karena ada orang yang tidak sopan, membuka pintu tanpa mengetuk dulu. Tapi dia tidak jadi marah karena yang datang adalah anak nakal alias adik kecilnya. Dia benar-benar kesal menghadapi makhluk satu itu. Sudah pulang tidak mengabari. Membuat orang khawatir saja.
Edward masuk ke dalam ruangan Brydan dengan wajah lucu nya. Agar sang kakak tidak memarahinya karena tidak sopan.
"Hai Kakakku tersayang." Ucap Edward dengan wajah jenaka. Sungguh membuat Brydan tidak bisa marah kepada adik kecilnya ini. Akhirnya Brydan menelfon Dendy untuk membuatkan teh untuk adik kecilnya itu.
Brydan duduk di sofa seberang Edward. Brydan memang menyayangi adiknya itu. Dia mendidik adiknya sedemikian rupa agar menjadi pria yang bertanggungjawab, disiplin dan semua sifat yang Brydan punya juga dipunyai oleh adiknya. Kecuali satu keramahan Edward yang tidak dimiliki oleh Brydan. Dan Edward juga tidak bisa seperti kakaknya yang bersikap dingin kepada semua orang.
"Untuk apa kesini?" Tanya Brydan kepada makhluk di depannya yang sedang asyik memainkan handphone nya.
"Aku merindukanmu, Kak." Ujar Edward, dia menaruh handphone nya.
"Kak, aku haus. Kakak memang ya, adiknya datang, sudah tidak disambut, tidak diberi sesuguhan lagi." Ingin sekali Brydan menyumpal mulut adiknya dengan kaus kaki basah. Tapi tidak lama, Sekertaris Dendy datang dengan seorang OB yang membawa dua gelas teh.
"Kau ini kapan bisa berhenti bicara?" Brydan terlihat menyunggingkan senyum mengejek untuk adiknya. Dan Sekertaris Dendy sudah tahu apa yang akan terjadi jika kedua manusia itu berkumpul.
"Setelah Kakak menjadi hangat." Ujar Edward dengan enteng, tanpa melihat ekspresi Brydan yang sudah ingin menelannya hidup-hidup.
"Tidak akan pernah terjadi." Sahut Brydan. Sekertaris Dendy lah yang menjadi saksi pertengkaran dua makhluk ini. Selalu saja begitu, jika tidak bertemu akan saling mencari. Tetapi jika sudah bertemu seperti Tom and Jerry.
Edward menyesap teh yang disuguhkan. Dan kembali memainkan handphone nya. Brydan pun sudah kembali berkutat dengan berkas-berkas nya. Dan Sekertaris Dendy sudah berada di ruangannya.
"Kakak aku sudah punya kekasih." Ujar Edward tiba-tiba. Brydan menghentikan tangannya dan menoleh ke arah adiknya. Brydan tidak bisa memberikan pengetahuan apapun kepada adiknya jika mengenai wanita. Karena dirinya pun tidak banyak mengetahui nya.
"Carilah yang terbaik." Hanya itu yang bisa Brydan katakan. Adiknya memang tidak setampan dirinya, tetapi adiknya juga sangat bisa dikatakan tampan. Walaupun wajah Asia lebih mendominasi adiknya. Tapi sang ibu adalah wanita cantik, jadi pantas jika adiknya ini tampan.
"Siap laksanakan." Edward mengangkat tangannya seakan-akan sedang hormat kepada bendera. Dan Brydan kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Kakak, Ed mau tanya sesuatu." Kata Edward dengan wajah yang serius.
"Apa Kakak sudah menikah?" Tanya Edward, tapi sayang Brydan tidak meresponnya karena dia sudah tenggelam dalam pekerjaannya. Dan Edward pun pasrah, kakaknya memang begini. Jika sudah fokus pada sesuatu, maka orang lain hanya dianggap manekin olehnya. Tidak lama kemudian Edward pamit untuk pulang kepada sang kakak.
__ADS_1
Kini Brydan tengah menikmati makan siangnya dan Sekertaris Dendy duduk di single sofa.
Beberapa menit kemudian Brydan sudah menyelesaikan makannya. Dan Sekertaris Dendy sudah meminta OB membersihkan bekas makan Brydan.
"Tuan, apa tuan kecil kembali berulah?" Dendy sudah tau jika tuan kecil tidak akan bosan untuk membuatnya susah.
"Tidak, Den. Dia hanya memberitahuku kalau sekarang sudah punya kekasih."
"Baiklah, Tuan." Dendy kembali ke ruangannya yang tidak jauh dari ruangan Brydan.
Di Mansion Brydan__
Nadya sedang beristirahat karena kelelahan. Dia memang lebih suka tidur jika lelah. Hahaha.
Tetapi terlihat Fanny tengah menelfon seseorang di dekat pintu kamar Nadya.
"Aku tidak bisa berbohong." Ujar Fanny kepada orang di telfon.
"Baiklah, aku akan usahakan." Akhirnya Fanny menyetujui apa yang diminta oleh orang itu.
"Maafkan saya Tuan, Nyonya." gumam Fanny kepada dirinya sendiri. Dan tidak lama dia dikagetkan dengan kedatangan Pak San yang tiba-tiba saja menepuk bahunya.
"Kau sedang berbicara kepada siapa?" Tanya Pak San, karena tadi dia mendengar Fanny berbicara sendiri.
Jantung Fanny berdetak hebat, dia takut Pak San mendengar ucapan di telfon tadi. Tapi firasat nya mengatakan kalau Pak San tidak mendengarnya.
"Saya hanya berbicara kepada diri sendiri, Pak San." Sahut Fanny dengan senyum manis.
"Kau baik-baik saja kan?" Kata Pak San.
"Ya Pak." Sahut Fanny kemudian Pak San langsung pergi untuk melihat pekerjaan pelayan-pelayan di Mansion.
Fanny kembali berdiri di tempat semula. Dia kembali melamun dan memikirkan hal yang tadi dia bicarakan di dalam telfon bersama seseorang. Dan dengan terpaksa akhirnya dia menyetujui nya. Walau setelah ini tidak tahu hukuman apa yang akan dia dapatkan.
Fanny memang tidak pandai dalam berbohong, tapi bukan berarti dia tidak bisa dan tidak pernah berbohong.
Tiba-tiba handphone Fanny kembali berbunyi dan tertulis nama 'Ibu' dengan emoji love. Fanny segera menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Iya Bu." Dan benar saja ibunya langsung nyerocos karena kemarin dirinya tidak menjawab panggilan ibunya. Begitulah seorang ibu yang selalu khawatir kepada sang putri. Apalagi dengan jarak yang jauh.
Tanpa Fanny sadari, Nadya sudah berdiri di belakangnya sejak Fanny menjawab telfon ibunya. Nadya sangat senang, jika ada seorang anak yang begitu menghormati ibunya seperti Fanny. Tetapi karena dia tidak mau mengganggu komunikasi Fanny dan Ibunya, akhirnya dia kembali masuk dan membersihkan diri. Untuk menyambut kepulangan Brydan sebentar lagi.
"Fan, kamu tunggu di dalam saja ya." Ujar Nadya meminta Fanny untuk masuk, karena dia kasihan kalau melihat Fanny berdiri terus. Nadya telah menyelesaikan ritual mandinya beberapa menit yang lalu. Kini dia tengah menonton drama kesukaannya melalui ponsel. Dan menunggu kedatangan Brydan. Sedangkan Fanny, Nadya meminta Fanny untuk duduk di sofa kamarnya.
Sebenarnya Fanny menolak karena tidak enak kepada Nadya. Tetapi Nadya kembali memaksanya, akhirnya Fanny mengiyakannya.
"Nyonya, sebentar lagi Tuan akan datang." Ujar Fanny sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Iya Fan." Sahut Nadya tanpa mengalihkan pandangan dari layar handphone nya. Tak berselang lama, terdengar suara klakson mobil berbunyi. Nadya beranjak dari ranjang dan melangkah ke pintu utama. Dia menyambut kedatangan Brydan dengan senyum manis khas seorang Nadya. Senyum yang menyejukkan siapapun yang melihatnya. Senyuman indah yang selalu Brydan tunggu-tunggu.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Plz jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨😁
kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
__ADS_1
IG : @cynshindi