
Di pagi hari yang indah, wanita cantik yang kemarin sempat beradu paham dengan sang suami, kini tengah membuka matanya. Dia meliukkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Kemudian beranjak dari ranjang empuknya menuju bathroom.
Nadya berendam sebentar untuk merilekskan tubuhnya. Setelah 20 menit terlewati, akhirnya dia menyudahi mandi yang menyegarkan pagi ini. Dia mengenakan pakaian santai berupa dress rumahan.
Memoleskan sedikit bedak dan lipstick. Juga sedikit pewangi untuk badannya. Dan jangan lupa, Nadya juga mencepol rambut indahnya supaya tidak berantakan.
"Perfect!" Ucap Nadya sambil memutar tubuhnya di depan cermin riasnya. Dia mengambil handphone nya di atas nakas. Kemudian memotret pantulan dirinya yang ada di cermin.
***
Di kamar tepat di sebelah kamar Nadya, terlihat adik Brydan yang baru saja bangun dari tidur nyenyak nya. Dia mendiamkan dirinya sebentar guna mengumpulkan nyawa yang sempat terbang.
Setelah 5 menit berselang, akhirnya dia beranjak dari ranjang dan melangkahkan kakinya menuju bathroom. Memang di mansion Brydan setiap kamar memiliki bathroom nya masing-masing. Kecuali kamar para pelayan.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Edward memakai pakaian casual yang membuat ketampanannya semakin terpancar.
"Tidak terelakkan lagi, aku memang lebih tampan dari kakak." Ucap Edward dengan percaya dirinya. Dia menyugar rambutnya ke belakang menggunakan jari-jarinya. Edward sudah bersiap untuk turun dan sarapan.
***
"Pagi semuanya." Sapa Edward kepada semua orang yang ada di meja makan.
"Pagi, Tuan." Sapa balik para pelayan.
"Sekertaris Dendy masih belum datang kah?" Tanya Edward kepada salah satu pelayan.
Belum sempat pelayan itu menjawab, ada suara yang muncul dari arah luar mansion.
"Saya disini, Tuan." Sekertaris Dendy yang baru saja menampakkan dirinya. Sebenarnya dia sudah datang dari tadi, hanya saja dia baru mengambil handphone nya yang tertinggal di mobil.
"Selamat pagi, Sekertaris Dendy. Ehmm, by the way kakak masih belum siap?" Tanya Edward kepada Sekertaris Dendy dan mendapat gelengan dari Sekertaris Dendy.
"Tidak bisa dibiarkan! Biar aku yang membangunnya." Edward sudah berdiri dari duduknya dan hendak melangkah ke kamar Brydan.
Dugg.
"Aduhhh, siapa sihh. Jalan pakai kaki dong tapi matanya juga dipakai!" Saat Edward hendak melangkah, dia menabrak seseorang dan hidungnya sedikit ngilu. Akhirnya dia langsung memarahi orang itu, tanpa melihat siapa yang ditabraknya.
"Kau yah, dasar anak nakal!" Brydan adalah orang yang ditabrak Edward barusan. Karena adiknya sudah tidak sopan, dengan keras Brydan menjewer telinga Edward. Hingga sang pemilik telinga mengaduh kesakitan.
"Ampun Kak, Ed tidak tahu kalau Kakak sudah bangun." Kata Edward sambil memegang telinga bekas jeweran Brydan.
__ADS_1
Brydan memang sudah ada di tangga sedari tadi, saat dia hendak melangkah ke meja makan. Dia tidak sengaja mendengar sang adik membicarakan dirinya. Akhirnya dia melangkah cepat dan menjewer telinga adik nakalnya itu. Semua orang yang ada disana hanya terkekeh kecil melihat tingkah kakak beradik itu.
***
"Kakak, boleh aku menemui kekasihku?" Ujar Edward saat Brydan sudah hendak berangkat. Dia memohon dengan tatapan dan wajah memelasnya. Brydan dengan berat hati mengizinkan adiknya untuk bertemu Fanny.
"Temui dia untuk terakhir kalinya, karena sebentar lagi Kakak akan memindah tugaskan kekasihmu!" Jawaban Brydan yang membuat kaki Edward langsung lemas seketika.
"Kakak ini memang benar-benar tidak berperasaan." Kata Edward, dengan beraninya dia memelototi Brydan dan langsung berbalik begitu saja tanpa mempedulikan Brydan yang sudah memerah kesal.
Tetapi sesaat kemudian dia langsung tersenyum kecil melihat tingkah laku adiknya yang tidak berubah. Edward selalu saja manja dan bertingkah sok imut jika dihadapannya. Padahal Brydan tahu, jika adiknya tidak seperti itu di depan umum.
***
Di dalam kamar terlihat Nadya tengah melihat drama kesukaannya di handphone nya. Dia bersandar di kepala ranjang dengan kaki selonjor. Sebenarnya dia ingin menemui Fanny, tapi dia tidak mau melanggar hukumannya. Setelah sarapan dia hanya bisa duduk syantik di dalam kamar.
"Ishhh, kenapa tamat sihh?" Ujar Nadya kesal karena drama yang ditontonnya sudah mencapai ending. Dia membanting handphone nya di ranjang. Akhirnya Nadya kembali tenggelam dalam rasa bosannya.
Karena rasa bosannya sudah mencapai tingkat akut, jadilah ia memilih untuk melihat-lihat resep masakan di handphone nya. Dia memerhatikan dengan saksama, tetapi karena takut lupa, Nadya pun mencatatnya di sebuah buku note kecil.
"Yeaayyy, aku akan memasaknya kalau masa hukumanmu sudah selesai." Kata Nadya kegirangan. Dia yakin suaminya akan menyukai masakan yang akan dia buat nanti.
***
"Yang, kamu masih marah?" Ujar Edward sambil memegang tangan Fanny dengan lembut kemudian dikecupnya. Tetapi Fanny hanya diam dan memandang lurus ke depan.
Fanny tengah merajuk kepada kekasihnya itu. Dia menyalahkan Edward atas semua yang menimpa dirinya kemarin. Gegara perbuatan Edward, dirinya harus dipindah tugaskan. Dia tidak mau jauh-jauh dari Edward dan juga dia harus beradaptasi kembali jika dia pindah tugas ke tempat lain.
Edward tidak menyerah begitu saja, dia terus merayu kekasihnya dengan kata-kata romantis dan kecupan-kecupan kecil di wajah sang kekasih. Hingga Fanny merasa geli sendiri dengan tingkah laku Edward.
"Minggir aku masih banyak pekerjaan." Kata Fanny yang sudah bersiap beranjak dari posisi duduknya. Tetapi Edward menahannya, dia memeluk Fanny dengan erat.
"Kumohon jangan diamkan aku! Kamu boleh memarahi aku sepuas yang kamu mau. Tapi aku tidak bisa jika kamu mendiamiku. Kamu tau Sayang, aku rela jika harus menyembah di kaki kakak ku. Asalkan kamu tetap berada disini." Edward berkata-kata sembari membelai pelan punggung Fanny.
Tapi nihil, Fanny tetap diam. Dia masih kesal kepada Edward. Jika saja Edward tidak berniat membalas kakaknya, semua ini tidak akan terjadi. Fanny benar-benar kesal tingkat akut sekarang ini.
"Cintaku, Sayangku, Bidadariku. Kau tau betapa aku mencintaimu. Jika kakak ku benar-benar memindah tugaskan dirimu, aku akan ikut. Walaupun aku harus menentang kakak ku! Ini janjiku, Sayang.
I promise, Honey. Jika kamu ingin marah, marahlah. Tapi jangan diam seperti ini, aku tidak suka kamu yang seperti ini. Sayang, asal kamu tahu, aku mencintaimu karena sifat mu yang selalu apa adanya. Sifat yang kamu miliki, tidak ada dalam wanita manapun yang pernah aku temui." Edward masih saja memeluk kekasihnya dengan posessive nya. Sampai Fanny berkata.
"Ed, aku sesak. Biarkan aku lepas sebentar!" Akhirnya Edward melepas dekapannya dari sang kekasih. Edward berlutut dan memegang kedua tangan Fanny.
__ADS_1
"Maafkan aku yah." Ucap Edward dengan wajah yang begitu menggemaskan. Dan pertahanan yang dibuat oleh Fanny akhirnya roboh juga. Hanya dengan melihat wajah menggemaskan Edward, dia sudah tertawa.
"Aku memaafkanmu!" Ujar Fanny, dengan gemasnya dia mencubit kedua pipi sang kekasih.
"Jika mencubit pipiku bisa membuat mu bahagia. Aku rela walaupun pipiku lepas karena kamu cubit."
"Gombal!"
Akhirnya sepasang sejoli itu kembali bersenda gurau. Setelah perjuangan Edward untuk kembali meluluhkan hati Fanny agar mau memaafkan dirinya.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi
nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana kok.
Buat para readers tercinta, yang mau gabung GC silahkan klik profil othor yah. Biar tau kapan aja waktu othor buat update, hehe.
__ADS_1