
"Sayang, ayo turun." Nadya dan Brydan sudah bersiap sedari tadi. Untuk mengadakan acara barbeque seperti rencananya kemarin. Dengan tidak sabar, Nadya menarik tangan Brydan untuk segera turun.
Dan saat sudah turun, ternyata semua member sudah siap. Dan ya, tadi Nadya sudah mengajak satu member lagi, yaitu Tica. Nadya mengajak Tica karena Nadya tahu kalau Sekertaris Dendy tidak memiliki pasangan.
Tidak enak kalau Sekertaris Dendy sendirian jadilah Nadya melibatkan Tica juga. Supaya Sekertaris Dendy ada temannya, tidak kesepian. Itu alasan yang dia berikan kepada sang suami tadi.
"Nad, kamu apa kabar?" Nadya dan Tica langsung bercipika-cipiki begitu bertemu. Nadya sudah kangen berat dengan sahabat lamanya itu. Pun dengan Tica yang sudah rindu berat ingin bertemu Nadya.
"Loh, Fanny kemana?" Nadya kembali berseru ketika dirinya tidak melihat kehadiran Fanny.
"Fanny sedang mengambil dagingnya, Kakak ipar. Owh ya, mari kita keluar. Mungkin Fanny sudah menunggu diluar." Jawab Edward sembari melangkah ke luar.
Mereka berenam akan mengadakan acara barbeque di halaman depan mansion. Brydan sudah meminta pelayan untuk menyiapkan semuanya.
Dan di sana sudah ada alat pemanggang, tiga meja dengan masing-masing meja terdapat dua kursi. Serta sudah ada lampu warna-warni yang menghiasi pepohonan yang tumbuh tinggi di halaman mansion.
"Ehh, selamat malam semuanya." Ujar Fanny yang melihat semua orang sudah datang. Fanny memang menunggu diluar sehabis menyiapkan daging. Fanny membawa sebuah keranjang dengan banyak isi di dalamnya.
"Isinya apa saja, Fan?" Nadya mengamati keranjang yang Fanny letakkan di bawah pemanggang.
"Ada sosis jumbo, ada daging juga, dan banyak lagi." Fanny juga tidak tahu itu isinya apa saja. Karena dia tidak bertanya tadi kepada Pak San. Tanpa aiueo Fanny langsung mengeluarkan beberapa bungkus dari keranjang.
Dia mengeluarkan daging dan ada sosis beserta ikan segar juga. Sekertaris Dendy dan Tica yang menyiapkan lauknya. Brydan dan Nadya yang memanggang. Dan Edward Fanny yang memplating. Itulah tugas yang diterima oleh masing-masing member.
"Wuih, kalau ikannya sebesar ini, tidak usah nasi juga kenyang. Hahaha." Mulut Tica memang benar-benar ya. Sama sekali tidak bisa direm.
Seketika semua orang langsung menilik ke arah Tica dengan tatapan aneh. Sontak Tica langsung menutup mulutnya. Mau taruh dimana wajahnya sekarang?
Hanya Sekertaris Dendy yang melirik dirinya dengan sinis. Seperti tatapan benci atau lebih tepatnya tatapan mengejek. Tica benar-benar ingin mencakar wajah orang satu itu.
Karena tatapannya yang begitu menusuk. Tica bahkan masih ingat bagaimana tatapan Sekertaris Dendy terhadapnya di mall saat Nadya tidak sengaja menabrak Brydan.
"Mas nya kok sewot sih. Yang punya rumah aja biasa kok." Kata Tica sembari melengos saat menatap Sekertaris Dendy. Mereka berdua tengah membuka bungkus daging dan sosisnya.
"Mas? Kapan saya menikah sama kamu?" Setahunya 'Mas' adalah panggilan istri untuk suami dalam bahasa Jawa. Dendy memang tidak begitu mengerti bahasa Jawa. Karena dia lahir dan besar di luar negeri.
"Siapa juga yang mau menikah sama kamu?" Ujar Tica tak kalah pedasnya. Dia ingin sekali mengatai orang di depannya ini. Kalau bisa teriaki saja di depan wajahnya.
"Jangan panggil saya 'Mas', saya tidak suka." Kata Sekertaris Dendy kemudian kembali fokus kepada tugasnya.
"Bumbunya mana?" Ujar Tica lagi.
"Ini, Nona." Pelayan kemudian memberikan sepiring bumbu cair. Nanti lauknya dicelupkan saja ke bumbu sebelum dibakar. Supaya lauknya semakin terasa mantap di lidah.
Sekertaris Dendy benar-benar bingung. Ikannya mau diapakan? Terus bumbu ini gunanya untuk apa? Dan bagaimana cara memberikan bumbu itu kepada si lauknya? Pikir Sekertaris Dendy. Dia ingin bertanya kepada wanita yang menjadi rekannya, tetapi dia gengsi.
Tanpa aba-aba, Sekertaris Dendy langsung menuangkan bumbu yang ada di piring ke satu lauknya. Dan benar saja, lauknya langsung becek.
Tica sukses dibuat tertawa terbahak-bahak. Tingkah manusia satu itu bisa dibilang unik dan bodoh. Bukan hanya Tica, tetapi Nadya dan Brydan yang tengah menyiapkan pemanggang pun ikut tertawa.
Pun dengan Fanny dan Edward yang tengah menata piring-piring untuk lauk yang sudah matang. Nadya sampai mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Mas nya sih. Makanya kalau tidak tahu itu tanya! Bukan seenaknya sendiri!" Ketus Tica. Dengan terpaksa Tica kembali meminta bumbunya kepada pelayan.
"Lihat saya, cara yang benar itu seperti ini. Dicelupkan, dibolak-balik, baru di taruh piring. Setelah piringnya full dengan lauk yang sudah dilumuri bumbu, baru kita berikan kepada Nadya untuk kemudian dipanggang." Tica dengan perlahan menjelaskan kepada Sekertaris Dendy.
"Jangan panggil saya, 'Mas', kamu tuli saya bilang apa?" Sekertaris Dendy benar-benar geli dipanggil seperti itu.
"Mas, Mas, Mas bodoh." Tica semakin membuat kepala Sekertaris Dendy panas.
"Apa? Saya juga bisa melotot." Ujar Tica yang memelototi Sekertaris Dendy. Karena Sekertaris Dendy menatap dirinya dengan tajam.
"Kalau kalian mau bertengkar, silahkan kalian cari tempat lain." Suara bariton Brydan sudah terdengar. Berbeda dengan Nadya yang cengar-cengir tidak jelas. Entah apa yang dipikirkannya.
Akhirnya semua kembali diam dan melanjutkan tugasnya masing-masing. Tapi saat tengah memanggang sebuah insiden terjadi. Saat Nadya hendak membalik ikannya, tangannya tidak sengaja mengenai besi pemanggang nya.
Dan dengan spontan Nadya langsung menjerit kesakitan. Sebenarnya dia sudah menggunakan sarung tangan, tetapi Nadya membukanya.
"Aawww shhhhh." Nadya mengerang sembari memegang tangannya. Terlihat kulitnya sedikit melepuh. Brydan yang mendengar itu, langsung membawa Nadya duduk.
"Makanya kalau dibilangin suami itu nurut. Kan sudah aku suruh pakai sarung tangan. Kenapa dibuka?" Brydan meniup-niup luka nya kemudian mengobati nya. Dia sudah meminta pelayan mengambilkan kotak obat.
"Masih sakit?" Kekhawatiran yang hakiki. Brydan bahkan sampai mengecup jemari istrinya yang sedikit melepuh.
"Sudah mendingan, maafkan aku, Sayang." Ujar Nadya dengan menunduk.
"Aku begini karena aku khawatir kepadamu!"
"Aku paham."
"Kalau kau sampai terluka lagi, maka aku akan hancurkan pemanggang itu sekarang juga."
Akhirnya Brydan yang mengambil alih semuanya. Karena dia meminta Nadya untuk duduk dan melihat saja. Walaupun Nadya masih ingin membantu.
Tetapi dia tidak bisa membantah suaminya, kalau tidak acaranya bisa bubar nanti. Nadya hanya duduk anteng tanpa melakukan apapun. Selang dua puluh menit akhirnya semuanya sudah siap santap.
Fanny dengan daging panggang, Edward lebih suka sosis, jadi dia memilih sosis. Sedangkan Tica memilih ikan panggang dan Sekertaris Dendy lebih memilih daging. Nadya dan Brydan memilih daging.
Tetapi bedanya, Nadya dan Brydan menggunakan satu piring untuk berdua. Bukan kemauan Nadya tapi kemauan si gunung es. Brydan bahkan memaksa menyuapi istrinya, dengan alasan tangan Nadya masih sakit dan tidak boleh banyak bergerak.
Di meja pertama terlihat Edward dan Fanny makan dengan anteng. Sesekali suap-suapan dan bercengkrama mesra. Di meja kedua terlihat Sekertaris Dendy dan Tica yang saling menatap dengan tajam.
Lebih tepatnya Sekertaris Dendy yang menatap tajam Tica. Sedangkan Tica hanya tetap santuy. Di meja ketiga jelas ada Brydan dan Nadya yang tengah suap-suapan mesra. Seperti pangeran dan princess.
"Mas mau coba ini?" Tica sengaja tidak mengubah panggilan untuk Sekertaris Dendy. Karena dia ingin memanas-manasi Sekertaris Dendy.
Tica mengambil sedikit daging ikannya, kemudian menyodorkan ke mulut Sekertaris Dendy.
"Aaaaa." Tica membuka mulutnya, mengisyaratkan supaya Sekertaris Dendy membuka mulutnya juga.
"Ayo, Mas. Buka mulutnya, ini enak loh." Tica kembali mendesak Sekertaris Dendy. Bahkan kini jemarinya sudah menempel di bibir tebal milik Sekertaris Dendy. Dengan terpaksa akhirnya Sekertaris Dendy membuka mulutnya.
Hap.
__ADS_1
Dia memakan suapan dari Tica. Dan benar saja begitu lezat. Lebih lezat dibandingkan daging miliknya. Sekertaris Dendy ingin meminta lagi, tetapi dia gengsi lah. Lebih baik diam dan makan saja miliknya.
"Enak kan? Lagi?" Tica semakin menggoda Sekertaris Dendy dengan memasukkan daging ikan itu ke mulutnya sendiri.
"Aaaaa." Tica mengarahkan daging ikan yang baru saja dia cuil dari piringnya ke mulut Sekertaris Dendy. Sekertaris Dendy sudah menganga dan bersiap menerima suapan itu.
Hap. Nyam nyam nyam. Tica malah membelokkan ke mulutnya sendiri. Hahaha. Dia berhasil mengerjai Sekertaris Dendy. Betapa senang hatinya sekarang.
Tidak tahu saja Tica, kalau wajah Sekertaris Dendy sudah semerah cabe dan garpu yang di pegang nya sampai bengkok. Tica yang melihatnya langsung menelan saliva nya dengan paksa.
Aduh, dia marah beneran lagi. Aku kan hanya bercanda.
"Beraninya kau!" Sekertaris Dendy mencengkeram rahang wajah Tica dengan erat.
"Ampun, iya iya. Saya minta maaf."
Setelah Sekertaris Dendy melepas cengkeramannya, Tica benar-benar menyuapi nya sekarang. Sampai ikannya habis dimakan berdua.
Tapi Brydan yang melihat gerak-gerik mereka berdua sukses dibuat heran. Brydan tahu benar kalau Dendy bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang lain. Tetapi langsung akrab dalam sekejap dengan Tica? Ini pasti ada yang tidak beres.
Bahkan tanpa jijik Sekertaris Dendy menerima suapan dari tangan Tica. Sampai-sampai daging nya sendiri tidak habis, malah menghabiskan ikannya Tica.
Nadya yang juga melihat momen itu tidak menyia-nyiakan. Dia memotret kedekatan sahabatnya dengan bawahan suaminya itu. Siapa tahu nanti berguna untuk masa depan. Hahaha.
.
.
.
.
.
.
.
Happy reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah 😁
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
__ADS_1
IG : @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.