Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-30 Kebohongan.


__ADS_3

***


Disinilah Fanny sekarang, di ruang kerja Brydan. Nadya telah tertidur sejak satu jam yang lalu. Dan kebetulan Brydan sedang memiliki banyak pekerjaan yang belum dia selesaikan. Jadilah dia kembali ke ruang kerja setelah menemani istrinya tidur dan memastikan sang istri sudah nyenyak.


Jantung Fanny sudah berdegup kencang dari tadi. Tetapi dia berhasil menutupi kegugupannya dengan wajah datarnya. Sebenarnya dia paling tidak bisa disuruh berbohong. Ya, walaupun dia pernah berbohong di beberapa kesempatan. Tetapi jika Tuan Brydan adalah ibunya, mungkin Tuan Brydan akan tahu jika saat ini dirinya tengah berbohong. Dan sang ibu akan langsung menggeplak pantatnya dengan sapu.


"Tadi istriku kemana saja?" Tanya Brydan yang kini menatap Fanny dengan intens.


"Hanya pergi jalan-jalan dengan sahabatnya, Nona Tica, Tuan." Sahut Fanny dengan pacuan jantung yang sudah sekencang angin tornado.


"Lebih tepatnya ke cafe, Tuan." Tambah Fanny.


Tamatlah riwayatku! Ayo Fanny, kamu sudah masuk ke dalam rencana ini. Kamu harus bisa menyelesaikannya. Jika tidak, maka Harimau di depan mu ini siap menerkam dirimu hidup-hidup.


"Kau tidak berbohong kan?" Tidak biasanya Tuan Brydan menanyakan hal itu kepada dirinya. Biasanya Tuan Brydan akan langsung percaya pada ucapannya.


"Tidak dan tidak akan pernah, Tuan." Sahut Fanny dengan lantang seakan-akan dirinya tengah berkata apa adanya. Padahal dia sedang berusaha menutupi pacuan jantung yang menyiksanya.


Maafkan saya, Tuan. Saya mohon jangan tatap saya seperti itu. Tuan kalau mau menelan saya, nanti saja tunggu saya sudah menikah. Setidaknya saya bisa merasakan jantuh cinta untuk yang kedua kalinya pada orang yang sama.


"Baiklah, tolong buatkan aku kopi." Ujar Brydan dan diangguki oleh Fanny.


____________________ 00 ______________________


"Selamat bekerja, Sayang." Nadya tengah mengantarkan Brydan ke pintu utama untuk bekerja. Dia sedikit memberikan kecupan di pipi kanan Brydan.


Di Perjalanan__


"Den, dia tidak berulah kan?" Entah siapa yang dimaksud oleh Brydan, tetapi tidak perlu ditanya. Sekertaris Dendy sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Tuan Brydan.


"Tidak, Tuan." Sahut Dendy.


"Apa adikku menyusahkanmu?" Tanya Brydan. Yang Brydan maksud sedari tadi adalah Edward Robson, adik kecilnya. Sebesar apapun tubuh adiknya, bagi seorang kakak, dia tetaplah adik kecil. Adik kecil yang dulu selalu ditimangnya, dibacakan dongeng saat hendak tidur, kadang disuapi saat makan. Jika kedua orangtua Brydan masih hidup, mereka patut untuk diberi penghargaan. Karena telah berhasil mendidik kedua putranya menjadi orang yang baik.


Baik sang ayah ataupun sang ibu, selalu mengajarkan kepada Brydan untuk menyayangi dan mencintai adiknya. Senakal apapun adik, dia tetaplah adik, yang akan membantu ketika kita susah dan tersenyum ketika kita senang. Seburuk apapun adik, dia tidak akan pernah rela jika kakaknya terluka. Dia tidak akan pernah diam jika kakaknya tersakiti. Mungkin dia tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada kakaknya, tapi sebagai seorang kakak, kita pasti tau bahwa adik kita akan selalu menyayangi kita selamanya.

__ADS_1


Di Mansion Brydan__


Nadya tengah memoles make-up, eits tapi bukan diwajah dirinya, tetapi diwajah Fanny. Dengan senang hati Fanny menerima perlakuan Nadya. Karena selama ini, dirinya memang tidak pernah memakai make-up. Kecuali hanya bedak tipis, tapi bukan bedak bayi. Hahaha.


"Biasa saja, Fan. Tidak usah tegang begitu. Aku tidak akan memakanmu." Ujar Nadya sembari memoleskan sedikit pemerah pipi di pipi Fanny.


"Jangan terlalu tebal ya, Nyonya." Fanny sambil memejam mata, karena Nadya tengah memoleskan eye-shadow tipis.


"Fan, kau memakai minyak telon bayi?" Tanya Nadya karena dia hafal dengan baunya. Dan dulu dirinya juga sering memakai benda itu. Tetapi dia mengganti minyak itu dengan parfume semenjak menikah. Karena takut Brydan menatapnya dengan aneh lagi.


"Hehe, saya suka baunya, Nyonya." Sahut Fanny. Dan saat Nadya selesai memoles wajah Fanny dengan make-up natural. Betapa kagetnya dia, Fanny benar-benar memiliki wajah yang cantik. Bahkan lebih cantik daripada dirinya. Pikir Nadya.


Dengan warna mata coklat gelap, hidung yang mancung, tulang pipi yang sedikit menonjol, dagu yang runcing, tetapi tidak terlalu runcing, alis tebal semakin memperindah bentuk wajah Fanny. Bahkan bulu matanya pun asli, begitu lentik. Walaupun kulit Fanny tidak secerah dirinya. Kulit Fanny bisa dibilang bright skin tetapi Nadya memiliki kulit yang sedikit lebih cerah daripada Fanny. Tetapi dilihat dari sisi manapun, tetap Fanny yang lebih cantik. Perawakan yang dimiliki Fanny begitu proporsional. Tidak gemuk dan tidak kurus, tidak tinggi dan tidak pendek.


"Apa kau pernah diputuskan oleh mantan pacarmu?" Tanya Nadya. Karena dia yakin tidak mungkin ada seseorang yang menolak kecantikan Fanny. Tapi sayang, Fanny menjawab dengan anggukan.


"Dulu saya tidak seperti ini, Nyonya. Saya terlahir dari keluarga yang sederhana. Jadi dulu saya itu dekil, hitam, dan kurus. Saya seperti ini semenjak sudah bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri." Ucap Fanny.


"Yang lalu biarlah berlalu, Fan. Kau harusnya bersyukur karena diputuskan oleh mantan kekasih mu. Itu artinya, dia tidak tulus mencintaimu. Tidak bisa menerima kekurangan mu dan tidak bisa memahami dirimu." Kata Nadya mengelus pundak Fanny.


"Nyonya benar. Tetapi sekarang saya sudah bisa membelikan rumah untuk kedua orang tua saya dikampung. Saya sudah bisa merawat diri saya. Dan bisa menabung untuk masa depan." Fanny sebenarnya adalah pribadi yang tertutup. Entah kenapa dengan mudahnya dia bisa menceritakan kisah pahit hidupnya kepada Nadya. Mungkin karena hatinya merasa srek kepada majikannya itu.


"Apa ini benar-benar saya, Nyonya?"


"Ya, ini benar-benar dirimu Fan."


Fix, mulai sekarang Fanny akan belajar menggunakan make-up kepada Nyonya Nadya.


"Nyonya, bolehkah saya belajar menggunakan make-up dengan Anda?"


"Kau ketagihan ya? Boleh kok Fan." Nadya sedikit menggoda bodyguard nya itu.


"Terimakasih, Nyonya." Jawab Fanny.


"Kita akan belajar mulai besok ya, Fan. Karena sekarang aku ingin menonton di ruang atas. Ayo ikut!" Dan jadilah mereka berdua menonton, seperti biasa Fanny dengan ekspresi datarnya. Sedangkan Nadya sudah blingsatan dari tadi, kadang tertawa, cemberut dan kadang marah-marah sendiri. Hahaha.

__ADS_1


Nyonya memang pribadi yang baik, pantas saja jika Tuan Brydan memilih Nyonya.


Sepertinya Fanny tidak tahu, asal muasal Nadya bisa menjadi istri Brydan.


Tidak terasa sudah 5 jam lebih mereka menonton, dan sebentar lagi Brydan akan datang.


"Nyonya sebentar lagi tuan datang." Ujar Fanny.


"Baiklah, kamu tunggu di dalam kamar saja ya. Aku mau mandi dulu sebentar." Ujar Nadya. Dia benar-benar tidak tega melihat Fanny harus terus berdiri di depan pintu seperti satpam saja. Akhirnya dengan berat hati, Fanny menyetujui permintaan Nadya. Karena dia tidak mau membuat Nadya bersedih hanya karena dia tolak permintaannya.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 😁✨


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah

__ADS_1


IG: @cynshindi


nanti juga bakalan ada info kok perihal novel ini di IG aku😁


__ADS_2