Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-68 Kau Mengecewakan aku, Nadya!


__ADS_3

Keesokan harinya, Brydan masih berkutat dengan banyak berkas-berkas di hadapannya. Namun tiba-tiba Dendy masuk dan raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran. Brydan pun tak segan untuk bertanya.


"Kau kenapa, Den?" Ia bertanya kepada Dendy seraya berdiri dari kursinya dan menghampiri Dendy. Ia menggiring Dendy untuk duduk di sofa. Mereka duduk bersebelahan, kemudian Dendy menjelaskan sesuatu kepada Brydan.


"Jadi begini, Tuan. Meysha bilang, pil yang kemarin saya tunjukkan itu adalah pil kontrasepsi untuk mencegah atau menunda kehamilan!" Dan benar saja, mendengar penjelasan yang diberikan oleh Dendy. Kedua mata Brydan langsung membola utuh. Rahangnya mengeras, giginya menggertak dan tangannya terkepal erat. Dadanya bergemuruh pertanda emosi nya telah berhasil disulut.


Inilah yang Dendy takutkan, kemarahan Brydan. Jika pria yang dijuluki Sang Penguasa itu sudah marah, bukan hanya Nadya yang akan terkena imbasnya. Namun semua orang terdekatnya juga akan terkena imbasnya. Apalagi bawahan-bawahannya di kantor. Kedua mata Brydan memerah, seakan menahan untuk tidak meluapkan emosinya di kantor.


"Kita pulang, Den!" Wajahnya kembali datar dan suaranya kembali dingin. Namun, dadanya masih terlihat kembang kempis, seakan menandakan Brydan masih berusaha untuk mengontrol emosinya.


_Nyonya kecil kenapa anda membuat singa tertidur kembali terbangun?_


Dendy bisa apa, dia hanya bawahan tentu akan mematuhi semua perintah Brydan. Dengan sigap ia mengikuti langkah Brydan. Semua staff dan karyawan menunduk takut. Entah mengapa mereka melihat aura yang berbeda dalam diri Brydan. Mata hazel sang atasan seakan hendak menelan mereka bulat-bulat.


"Den, cepat!" Saat berada dalam perjalanan, Brydan masih saja terlihat gelisah dan marah. Namun juga menyiratkan rasa kekecewaan dalam manik mata pria itu. Jika Dendy menilik manik pria itu, Dendy bisa menyimpulkan bahwa rasa kekecewaan yang besar telah menyulut emosi Brydan.


_Kenapa kau melakukan ini? Sebegitunya kau tidak ingin memiliki anak dariku? Kau tidak ingin aku menjadi seorang ayah? Aku bahkan sangat mendambakan makhluk kecil darimu!_


Kecewa, marah, gelisah semua bercampur menjadi satu. Brydan seakan ingin menerkam istrinya sekarang juga. Ia harus memberikan pelajaran pada wanita itu.


Beberapa menit dalam perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai Dendy telah sampai di pelataran mansion. Dendy memarkirkan mobilnya, Brydan dengan cepat membuka pintu mobil. Ia masuk ke dalam mansion dengan tergesa-gesa.


"Pak San!" Teriaknya.

__ADS_1


"Nyonya berada di kamarnya, Tuan." Pak San sudah tahu apa yang Brydan maksud. Brydan menerobos Pak San, ia terus berjalan menuju ke kamarnya. Pak San pun terlihat kebingungan, entah apa yang telah terjadi.


"Sekertaris Dendy, apa terjadi sesuatu?" Tanya Pak San kepada Sekertaris Dendy yang baru saja memasuki mansion. Bahkan Dendy pun khawatir pada kondisi Brydan.


"Akan terjadi perang besar, Pak!" Jawaban yang keluar dari mulut Dendy seakan mengingatkan Pak San pada suatu kejadian. Dimana kejadian itu membuat tuannya marah dan hampir saja melenyapkan seseorang. Sifat pemarah Brydan ini diturunkan dari sang ayah, siapa lagi kalau bukan tuan besar.


Tuan besar adalah tipe orang yang pemarah. Untung saja nyonya besar adalah wanita penyabar. Inilah gen yang diturunkan untuk Brydan. Sembilan puluh sembilan persen gen sang ayah. Pemarah, egois, dan tidak suka dibantah. Besar dalam didikan sang ayah, membuat jiwa pemimpin Brydan semakin bertumbuh. Jika hanya bentakan, itu masih belum kemarahan Brydan yang sesungguhnya.


Bruakkk!


Brydan menutup pintu kamar dengan kuat. Sampai-sampai Nadya yang baru saja keluar dari kamar mandi, terlonjak kaget. Ia hanya mengenakan bathrobe nya.


Nadya menilik sang suami dengan saksama. Sepertinya tidak baik-baik saja.


"Sayang, kenapa sudah pulang?" Brydan masih tak bergeming. Sama sekali tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan wanita itu. Ia melemparkan tas kerjanya ke sembarang arah. Ia menghampiri Nadya yang masih berdiri tepat di seberangnya.


Brydan terus melangkah ke arah meja rias Nadya. Nadya hanya mengkerut heran, untuk apa sang suami menuju meja riasnya. Brydan membuka buffett, ia ambil wadah kecil di dalam buffett. Tempat Nadya menyimpan pil itu. Nadya sukses ternganga, bola matanya membulat penuh.


_A.. apa Brydan tahu? Tamatlah riwayatku!_


Brydan melepar pil itu tepat ke hadapan Nadya. Nadya bahkan tidak berani, untuk sekedar membungkuk untuk mengambil pil itu. Ia hanya berdiam membisu di tempatnya. Brydan kembali menghampiri Nadya, ia tatap sang istri dengan tajam. Tatapan yang seakan-akan hendak menelan istrinya bulat-bulat.


"Jelaskan!" Titahnya. Namun lawan bicaranya masih saja diam membisu.

__ADS_1


"I.. itu--" Belum sempat Nadya menyelesaikan kalimatnya, Brydan sudah menyela ucapannya.


"JELASKAN, NADYA!" Akhirnya keluar juga bentakan dari mulut suaminya.


"I..itu p..pil kontrasepsi, Sayang." Lidahnya kelu, seakan tak bisa berbohong di hadapan lelaki itu. Ia tertunduk takut, memejam mata sembari meremas kedua sisi bathrobe nya. Dadanya bergemuruh, keringat dingin keluar dari dahinya.


"Kau mengecewakan aku, Nadya!" Suara sedingin es yang kini sudah jarang Nadya dengar, kembali terdengar jelas dari katupan bibir suaminya.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2