
Hari ini adalah akhir pekan. Hari yang ditunggu-tunggu oleh Nadya. Brydan sudah berjanji bahwa akan menceritakan mengenai si wanita ular itu. Dan kemarin Brydan sudah mengatakan kepada Nadya, untuk mempersiapkan hati dan mentalnya. Seperti hendak pelatihan militer saja.
Sekarang Brydan tengah membersihkan dirinya di kamar mandi. Sedangkan Nadya tengah memasak di dapur, tadi ia sudah mendapatkan izin dari sang suami. Nadya memang sudah rindu memasak.
"Selamat pagi." Sapa Nadya kepada koki yang tengah mempersiapkan alat dan bahan untuk memasak sarapan pagi ini.
"Selamat pagi, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab koki menghentikan kegiatannya yang hendak mengambil bahan-bahan lainnya di dalam lemari pendingin.
"Hari ini biar saya yang memasak." Ujar Nadya dengan tersenyum manis kepada si koki.
"Nyonya tidak perlu repot. Ini sudah menjadi tugas saya, Nyonya." Kata si koki. Dan Nadya tahu, bahwa koki takut jika Brydan akan memarahinya. Karena tempo hari, Pak San memarahi koki yang sudah mengizinkan Nadya untuk memasak.
Nadya yang tidak sengaja melihat Pak San memarahi koki, langsung mengadukannya kepada Brydan. Dia bilang kepada Brydan, bahwa itu adalah murni kesalahan dirinya. Lalu kenapa koki yang dimarahi? Nadya tidak habis pikir dengan suaminya itu.
"Pak koki tenang saja, aku sudah izin kepada Tuan Brydan." Dan langsung mendapat senyuman manis dari si koki. Dengan senang hati, koki pun menyerahkan semuanya kepada Nadya. Kemudian dia pamit untuk undur diri. Dan dia juga sudah berpesan kepada Nadya, panggil saja dirinya jika Nadya membutuhkan sesuatu.
Selang 30 menit, akhirnya Nadya sudah menyelesaikan acara masak-memasaknya. Nadya meminta Pak San untuk menata masakannya di meja makan. Sedangkan Nadya sendiri hendak memanggil Brydan.
***
"Sayang, ayo sarapan dulu." Kata Nadya dengan nada yang begitu lembut. Brydan yang tengah berkutat dengan laptop, langsung menilik ke arah sang istri yang mengambil posisi duduk di sebelah dirinya.
Karena Brydan tidak kunjung menjawab, Nadya pun kembali berseru. "Aku sudah membuatkan masakan spesial untuk Suamiku." Ujar Nadya dengan senyum manisnya.
"Ayo." Akhirnya Brydan meletakkan laptopnya dan mengikuti langkah sang istri menuju meja makan. Tetapi Nadya menitah Brydan untuk duluan saja, karena dirinya hendak memanggil Edward terlebih dahulu.
Nadya sedikit heran, biasanya Edward lah yang menjadi member pertama di meja makan. Tetapi hari ini Edward sama sekali tidak memunculkan batang hidungnya.
Tok tok tok.
"Ed, sarapan sudah siap." Kata Nadya dan langsung dibukakan pintu oleh sang pemilik kamar. Nadya menilik penampilan Edward dari bawah sampai atas.
"Ayo, Kakak ipar." Sahut Edward dengan menggandeng tangan Nadya. Dan Nadya hanya bisa mengikut langkah Edward. Tapi dia masih terperangah dengan pakaian yang Edward kenakan.
"Selamat pagi, semuanya." Ucap Edward saat sudah sampai di meja makan. Brydan menilik tangan yang tengah bertaut. Ia menatap tajam sang adik.
"Hei, lepaskan istriku!" Titah Brydan dan Edward langsung tersenyum kikuk. Ia lupa kalau yang tengah digandeng adalah istri dari Sang Penguasa. Yang bahkan cemburu pada adiknya sendiri.
"Kau jelek dengan kostum anehmu itu!" Seloroh Brydan dengan spontan. Edward hanya tersenyum mengejek dan menjulurkan lidahnya.
__ADS_1
"Iri? Bilang Bos." Sahut Edward dan langsung mendapat jeweran dari sang kakak.
"Kenapa kamu memakai kostum aneh ini, Ed?" Tanya Nadya yang sudah mulai terbiasa dengan drama kakak beradik di hadapannya itu.
"Jadi, kemarin aku dan Fanny bermain game dan yang kalah harus memakai kostum ini. Dan kebetulan sekali aku yang kalah, jadilah aku memakai kostum ini. Hehe." Edward menjelaskan panjang lebar disertai dengan cengiran anehnya.
Dan Brydan hanya berdecih saja. Sedangkan Nadya sudah manggut-manggut seperti anak ayam yang tengah mematok makanannya.
"Kau kalah dengan seorang wanita?" Brydan meremehkan sang adik. Dan demi melindungi harga dirinya, Edward terpaksa berdalih dari tuduhan kakaknya.
"Kata siapa aku kalah? Aku ini adalah kekasih yang pengertian. Jadi, aku sengaja mengalah untuk Fanny." Dengan bangganya Edward mengumumkan bahwa dirinya adalah kekasih yang pengertian.
Tidak tahu saja dirinya, jika Fanny sudah berada di belakangnya. Dan bersiap hendak menarik telinga si pengarang cerita itu.
"Aduh duh, siapa yang berani menjewer telingaku?"
"Aku." Dan Edward langsung cengengesan tidak jelas.
"Kamu bilang mengalah? Kamu bahkan tidak menyelesaikan game dengan benar, kemarin." Kata Fanny dan langsung dihiasi dengan tawa keras Nadya.
"Sayang, ayolah demi harga diriku." Edward berbisik tepat di depan wajah Fanny. Dan Fanny langsung mendelikkan matanya.
***
"Jangan menyela ucapanku jika aku belum selesai bicara." Dan diangguki oleh Nadya.
"Jadi, dahulu Naddie adalah teman dekat dengan diriku. Dan juga Dendy. Saat itu, aku masih kecil bahkan masih duduk di bangku sekolah dasar. Ayahku memperkenalkan diriku dengan sahabatnya, yang tidak lain adalah ayah dari Naddie. Namanya Uncle Gerald. Dan ibunya adalah sahabat dari ibuku, namanya Aunty Karin.
Saat aku tengah duduk sendiri di taman belakang mansion ku, tiba-tiba saja ada seorang gadis cantik yang menghampiriku. Dan aku sudah tahu bahwa dia adalah anak dari Uncle Gerald. Tetapi aku diam saja, karena aku tidak terlalu pandai bergaul. Gadis itu duduk di sebelahku dan menggantungkan tangannya di udara, bermaksud agar aku menerima tangannya. Tetapi aku hanya diam, hingga dia kembali menurunkan tangannya.
Hai, aku tahu, nama kamu Brydan kan? Kata ayahmu, kamu anak yang pintar? Boleh aku belajar sesuatu dari dirimu?
Gadis itu terus saja berceloteh tanpa henti, hingga mau tidak mau aku menjawabnya. Agar dia tidak berisik lagi. Dia begitu ceria dan dia juga gadis yang humoris. Mulai hari itu, kami jadi sering bertemu, karena dia sering berkunjung ke mansion ku yang ada di Amerika.
Dari yang awalnya malas, aku jadi senang bertemu dengannya. Entah kenapa semenjak mengenal gadis itu, aku menjadi pribadi yang periang. Aku juga berubah seiring berjalannya waktu, dari hari ke hari aku semakin hangat. Dan ayah sangat senang melihat perubahan ku yang mulai suka bergaul."
Brydan menjeda ucapannya. Ia tengah mempersiapkan diri untuk menceritakan hal kelam mengenai Naddie di masa lalu.
"Aku bertemu dengannya setiap hari. Karena dia akan berkunjung ke mansion ku setiap pagi dengan membawa boneka kecil di gendongannya. Senyum gadis itu menjadi kesenangan tersendiri untukku. Tetapi rasaku untuknya hanya sebatas sahabat, tidak lebih.
__ADS_1
Tanpa aku sadari, ketika kami sudah beranjak remaja, dia mulai menaruh rasa untukku. Dan Dendy tahu itu, Dendy ada bersamaku semenjak aku kecil. Aku akan beritahu kisah Dendy di lain hari.
Aku dan Naddie terus bersama saat remaja, hingga kami beranjak dewasa. Naddie menaruh rasa besar kepada diriku. Tetapi aku sama sekali tidak tahu itu. Hingga saat aku masuk universitas, aku mengenal gadis cantik bernama Velyn.
Dia adalah mantan kekasihku. Singkat cerita, saat aku lulus kuliah, Velyn masih melanjutkan kuliahnya. Dan saat kami berpacaran pun, kami melakukan long distance relationship. Atau hubungan jarak jauh.
Saat Naddie tahu, kalau aku dan Velyn menjalin hubungan. Dia terlihat begitu murka, bahkan baru pertama kali itu aku melihat Naddie semarah itu.
Aku menemani hari-harimu sejak kita kecil. Aku menghibur dirimu saat kamu sedih. Dan aku selalu ada di setiap hari yang kau jalani. Tetapi kau malah berpacaran dengan wanita lain. Asal kau tahu, aku menaruh rasa cinta kepada dirimu sejak kita remaja. Aku begitu mengharapkan dirimu. Tetapi kau tidak pernah paham akan hal itu. Aku benar-benar kecewa kepadamu, lihatlah pembalasanku.
Itulah yang dikatakan olehnya saat itu."
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
__ADS_1
IG: @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.