Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-23 Bayaran menjadi babu.


__ADS_3

"Tidak semudah itu, jika dengan maaf semuanya bisa selesai. Maka tidak akan ada pekerja yang dipecat karena korupsi. Dan tidak ada penjahat yang dipenjara karena membunuh!" Ucap Brydan dengan tatapan nakal nya.


"Semua yang ada di dunia ini, tidak ada yang gratis." Imbuh Brydan, yang kini sudah berada di atas tubuh Nadya dan menghimpit tubuh kecil Nadya.


Bagaimana ini, tubuhnya besar sekali sihh. Kalau dia sampai menimpa tubuh kecilku ini, aku pasti akan jadi ikan asin.


"Kau tega ya, meminta bayaran kepada istrimu sendiri." Nadya mulai berakting lagi, tetapi kali ini wajahnya lebih memelas lagi. Meminta supaya dilepaskan oleh Brydan. Tapi Brydan tidak sebaik yang kamu kira Nadya.


"Ya, aku memang tega, apalagi untuk hal ini." Sahut Brydan disertai dengan senyuman sinis dan tatapan tajam nya.


Dan mulailah mereka melakukan hal yang akan mereka lakukan. Tepatnya yang Brydan mau! Karena Nadya sama sekali tidak berpikir ke arah sana! Seperti biasa, waktu sudah menunjukkan tengah malam, tapi Brydan masih belum menghentikan kegiatannya.


Hingga sang istri tertidur dengan sendirinya. Setelah mengakhiri kegiatan malam nya, Brydan langsung tertidur di sebelah Nadya dan mendekap Nadya dengan erat. Tetapi yang didekap sama sekali tidak terganggu dan tetap terbang ke alam mimpinya.


____________________ 00 ______________________


Matahari sudah menampakkan dirinya dengan kemilau sinar dan kehangatannya. Nadya bangun, menyibakkan tirai jendela dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia berendam sedikit lama, karena banyak sekali tanda merah di tubuhnya. Dan untuk menghilangkan nyeri di tubuhnya, Nadya berendam dengan air hangat. Sebenarnya jika di pagi hari lebih segar jika mandi dengan air dingin.


Seusai membersihkan diri, Nadya mulai melakukan rutinitas pagi nya. Setelah selesai, baru dia membangunkan Brydan yang masih asik mendengkur halus. Tetapi sebelum membangunkan pangeran tidur, Nadya terlebih dahulu memencet hidungnya.


Hidung nya mancung sekali sihh. Aku jadi ingin juga hidung yang seperti ini. Tapi apalah daya hidung aku sudah seperti ini.


"Sayangku, ayo bangun waktunya mandi." Ujar Nadya. Tapi Brydan belum juga terbangun, akhirnya dia mengecup-ngecup kecil mata Brydan. Dan benar dugaan Nadya, bahwa Brydan akan langsung bangun. Brydan terlihat masih mengumpulkan kesadarannya sedikit demi sedikit.


"Kau sudah mandi?" Tanya Brydan yang baru saja sadar dari tidurnya.


"Sudah, sekarang waktunya pangeran tampan ini yang mandi." Dan ucapan Nadya sukses membuat pipi si gunung es bersemu merah.


"Minggir." Ucap Brydan, jujur dia sungguh malu. Makanya dia ingin segera ke kamar mandi, supaya Nadya tidak melihat pipi merahnya.


***


Brydan dan Nadya sudah siap dengan style nya masing-masing. Brydan memakai setelan jas berwarna biru gelap dengan kemeja putih dan untaian dasi berwarna hitam putih, dengan crocodile shoes yang melekat sempurna di kakinya. Apapun yang disediakan oleh sang istri pasti akan Brydan kenakan. Untuk menghargai istrinya yang sudah rela bangun pagi demi menyiapkan segala kebutuhannya.


Sedangkan Nadya hanya memakai kaus santai dengan celana selutut.


"Bey, aku berangkat. Jangan nakal, kau tau kan kalau aku marah bagaimana." Ujar Brydan kepada Nadya sebelum dirinya berangkat ke perusahaan.


"Iya Sayang, hati-hati." Jawab Nadya dibumbui kecupan kecil di pipi Brydan.

__ADS_1


"Sayang aku sudah izin kemarin, kalau hari ini aku mau memasak." Ujar Nadya dan hanya dijawab anggukan kecil oleh Brydan. Kemudian dia pergi ke kantor bersama dengan Sekertaris Dendy.


Di mobil__


"Tuan kalau saya boleh tahu, apakah Anda senang hidup bersama Nyonya kecil?"


"Apa kau tidak melihat bagaimana kehidupan sehari-hari ku setelah dia hadir, Den?"


"Anda terlihat lebih baik, Tuan."


"Aku yakin kau lebih tau tentang ku."


"Tentu, Tuan."


Di Mansion Brydan__


"Fan, ayo ke dapur." Ajak Nadya kepada Fanny yang berada di belakangnya.


"Untuk apa, Nyonya?" Tanya Fanny, karena dia tahu Tuan Brydan tidak memperbolehkan Nyonya nya menyentuh dapur. Yang katanya bukan tempat untuk Nyonya nya.


"Memangnya dapur bisa digunakan untuk bersemedi ya?" Tanya Nadya. Dia merasa lucu dengan bodyguard yang kini sudah menjadi temannya itu. Masa iya, ke dapur masih ditanyakan untuk apa?


"Tenang saja, aku sudah izin kemarin."


Dan mereka berdua melangkah menuju dapur. Kali ini Nadya ingin memasak cookies atau semacam kue kering. Dan mulailah mereka berdua berkutat dengan alat-alat memasak. Walaupun Nadya hanya tinggal menunjuk saja sebenarnya. Tapi dia tidak mau, karena dia lebih suka mengerjakannya sendiri. Dengan Fanny yang siap membantu.


Beberapa saat kemudian, kue nya sudah siap. Dan hanya tinggal dipanggang saja di dalam oven.


"Fan tolong kamu panggang di oven ya. Suhunya jangan terlalu panas." Ujar Nadya kepada Fanny. Dan Fanny mengiyakannya kemudian memasukkan kue berbentuk hati itu ke dalam oven.


"15 menit ya, Fan." Imbuh Nadya sebelum dia masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil.


"Baik, Nyonya."


Setelah lima belas menit, Fanny mengeluarkan kue nya dari dalam oven. Dan tercium aroma manis dari kue berbentuk hati itu.


"Fan, ayo bantu aku memasukkannya ke dalam toples ini." Ujar Nadya yang sudah membawa satu toples kecil di tangannya. Mereka mengenakan sarung tangan kemudian menata kue itu di dalam toples.


"Akhirnya selesai juga." Ucap Nadya setelah selesai menata kue nya.

__ADS_1


"Cobalah Fan!" Ucap Nadya kepada Fanny.


"Enak, Nyonya." Kata Fanny setelah memasukkan satu buah kue ke dalam mulutnya. Kue yang memiliki bentuk yang lucu dan juga citarasa manis. Karena Fanny bilang enak, akhirnya Nadya tergiur untuk mencobanya juga.


"Hmmm, enak Fan. Aku suka segala hal yang manis. Karena hidupku ini sudah pahit." Ucap Nadya yang dibumbui sedikit candaan. Dan hanya dibalas dengan senyuman tipis oleh Fanny.


Kalau hidup Anda saja pahit, berarti hidup saya hambar, Nyonya.


"Fan ayo ambil, aku sudah menyisihkan untuk Suamiku. Jadi kau tidak perlu khawatir. Kalau mau habiskan saja." Nadya memang orang yang royal kalau soal makanan.


"Iya, Nyonya. Lain kali saya akan belajar memasak kepada Anda. Anda adalah wanita sempurna, sudah cantik, pandai memasak lagi. Zaman sekarang ini, jarang ada wanita cantik yang mau menyentuh dapur seperti Anda, Nyonya." Ujar Fanny, dia memang suka berada di dekat Nadya.


Karena Nadya berbeda dari wanita-wanita di luar sana. Nadya suka merendahkan dirinya dan sama sekali tidak sombong atas kekayaan yang dimiliki suaminya. Bahkan Nadya sering kali berbagi kepada orang yang tidak mampu.


"Kau berlebihan, Fan. Aku hanya manusia biasa yang juga punya banyak kekurangan. Ini semua adalah kelebihan dari Tuhan untukku. Jadi, aku akan mempergunakan dengan sebaik mungkin," kata Nadya. Dia tidak suka ada orang yang memujinya dengan terlalu berlebihan. Dirinya juga hanya manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan dan bisa melakukan kesalahan.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like, komen and votenya yah 🤗


Makasih kakak-kakak sayang 😁✨


kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah 😁


IG: @cynshindi

__ADS_1


__ADS_2