Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-37 Trouble Is coming.


__ADS_3

_____________________ 00 _____________________


Hari ini adalah hari yang dijanjikan oleh Edward kepada Nadya dan Tica. Hari dimana Edward akan menunjukkan bisnis yang tengah dia jalani kepada Nadya dan Tica. Kini Nadya tengah bersiap, dia memakai dress selutut dengan motif hati dan flat shoes berwarna senada dengan dress nya. Dia menggerai rambut indahnya. Sebenarnya dia ingin mengikat rambutnya, tapi sang suami memintanya untuk menggerai rambutnya saja.


"Gerai rambutmu! Aku tidak mau lehermu ditatap oleh lelaki manapun!" Itulah yang dikatakan suaminya tadi sebelum berangkat.


"Selesai." Akhirnya selesai juga, Nadya sudah cantik dengan polesan make-up natural.


***


"Jalan, Fan!" Seperti biasa Fanny akan mengantar kemanapun Nadya pergi. Jika bisa dibilang Fanny ini adalah ekornya.


Beberapa menit kemudian, mobil pun sudah sampai di tempat tujuan. Dimana lagi kalau bukan di taman. Nadya mengedarkan pandangannya ke sekitar taman. Dan dia menemukan dua manusia berbeda spesies di antara semua manusia yang ada di taman.


"Hello gengs!" Nadya melakukan toss persahabatan dengan Edward dan juga Tica.


"Nadya mah kebiasaan selalu terlambat." Ujar Tica. Bermaksud bercanda untuk membuka pembicaraan.


"Haha. Sudah mendarah daging, ya kan Nad?" Edward menimpali candaan Tica.


"Ish, cuma sepuluh menit doang kok!" Nadya mengerucutkan bibirnya. Dia memang kebiasaan telat dalam rangka apa saja. Jika kedua temannya itu adalah Brydan, mungkin Nadya sudah diomeli habis-habisan.


"Kita makan dulu yuk!" Seperti biasa, sultan Edward akan mentraktir kedua temannya dulu. Akhirnya mereka bertiga menuju restoran terdekat.


***


"Mbak tolong menunya!" Ujar Edward memanggil seorang waiters.


"Saya Hamburger double cheese ya." Kata Edward.


"Kalian pesan saja ya. Aku yang bayar! Tidak ada bantahan." Akhirnya Nadya dan Tica memutuskan untuk memesan menu sama dengan Edward


"Minum nya, Pak?"


"Air mineral 3, mbak."


"Fanny kamu pesan saja, biar saya yang bayar." Kata Edward. Dan perkataan Edward satu ini berhasil membuat Tica dan Nadya melongo.


"Kok kamu tahu kalau namanya Fanny? Apa kamu kenal sama dia?" Tanya Nadya, pertanyaan yang sama yang hendak diajukan oleh Tica.


"Ha? Kan aku selalu dengar kamu memanggilnya dengan sebutan Fanny." Untungnya otak licik Edward bekerja cepat. Dan untungnya lagi, jawaban yang Edward berikan masuk akal. Nadya manggut-manggut begitupun dengan Tica.

__ADS_1


"Kan tidak enak, Nad. Masa aku mentraktir kalian tapi Fanny tidak ditraktir. Kan tidak adil namanya." Edward kembali meyakinkan Nadya dan Tica.


"Ohh."


"Bagaimana, Fan?" Tanya Edward lagi.


"Tidak usah repot-repot, Tuan. Saya masih kenyang." Jawab Fanny dengan sopan.


"Kamu yakin?" Dan diangguki oleh Fanny.


Seusai makan, mereka bertiga pergi menuju tempat yang akan ditunjukkan oleh Edward. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit lebih, akhirnya mereka sampai juga. Di sebuah tempat makan. Semacam restoran yang memiliki desain indah. Restoran yang lumayan luas, dengan air mancur di tengah-tengah, dan beberapa kursi dan meja yang tertata rapi mengelilingi air mancur.


"Ini adalah usahaku, aku membangun tempat ini beberapa bulan yang lalu." Ucap Edward sambil mengajak Nadya, Tica dan Fanny berkeliling restoran.


"Ed Restoran." Gumam Nadya.


"Ya itu adalah nama panggilan ku!" Edward sengaja memberi nama itu. Karena itu adalah panggilan kesayangan kakaknya untuk dirinya.


Di saat mereka berkeliling, ada beberapa karyawan yang berlalu lalang. Dan mereka membungkuk hormat ketika melihat Edward.


"Duduk dulu yah." Edward menarik salah satu kursi dan mendudukinya. Dia juga mempersilahkan Nadya dan Tica untuk duduk. Wajarlah mereka baru beberapa menit yang lalu selesai makan, kalau jalan terus nanti muntah.


"Kenapa kamu lebih memilih bisnis seperti ini? Kenapa tidak yang lainnya?" Tica mulai kepo sepertinya


"Ed, jangan pernah merasa sendiri. Kami selalu ada untukmu, kapanpun kamu membutuhkan kami." Ucap Nadya mewakili Tica. Nadya dan Tica begitu terharu mendengar ucapan Edward sampai mereka berdua juga ikut meneteskan air mata.


"Fan, kamu nangis?" Nadya melihat Fanny memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya.


"Kelilipan, Nyonya." Fanny berdalih untuk menutupi air mata yang baru saja dihapusnya.


"Ed, aku haus." Tica mulai bisa mengendalikan suasana agar tidak lagi bersedih.


"Kebiasaan deh!" Nadya memukul pelan bahu Tica.


Mereka terus bercengkrama membahas ini dan itu. Tanpa sadar kalau waktu sudah menunjukkan sore hari. Hingga akhirnya Fanny menyarankan Nadya untuk pulang. Karena takut Brydan pulang. Kalau Brydan pulang, dan Nadya tidak ada, bisa-bisa gunung es itu meluapkan cairan es ke wajah Nadya.


***


Sesampainya Nadya di mansion, betapa terkejutnya dia saat melihat mobil Brydan sudah terparkir di garasi. Habislah riwayatnya sekarang. Dia sudah membuat Brydan menunggu. Sepertinya akan segera hadir perang dunia di mansion Brydan.


Karena sang pemilik mansion kini tengah bertanduk dan berasap karena orang yang ia tunggu sedari tadi baru saja memunculkan batang hidung nya. Semua orang tahu persis, bahwa Brydan paling tidak suka menunggu.

__ADS_1


Sekertaris Dendy saja terkadang masih kena semprot, jika datang sedikit saja terlambat. Jika Nadya adalah karyawan ataupun staff, mungkin Brydan sudah memecatnya.


Brydan sudah duduk tegap di sofa kamar. Sedari tadi dia menunggu kedatangan istrinya. Tapi sayangnya yang ditunggu datang setelah wajah Brydan sudah memerah menahan kesal. Sekarang dia akan menghukum istrinya, karena telah berani melampaui waktu yang telah Brydan berikan.


Dan juga Fanny! Bodyguard tidak becus! Itu yang sekarang Brydan pikirkan. Dia akan menghukum Fanny, dengan hukuman yang berat. Karena telah melanggar janji yang dia ucapkan kepada Brydan.


Dendy yang sedari tadi duduk bersama tuannya ikut merinding. Merasakan hawa yang mencekam. Dari tadi tuannya hanya memasang muka masam dengan mata yang sudah mulai merah. Jangan lupakan gertakan gigi yang membuat Dendy semakin merinding saja.


Jika sudah seperti ini, jangankan tersenyum, bahkan Dendy tidak berani menatap Brydan. Karena Brydan pasti akan membuat kedua bola matanya hilang, jika berani menatap dirinya yang tengah diselimuti kemarahan


Brydan bahkan beberapa kali mencengkeram foto Nadya yang ada di layar handphone nya. Seakan-akan Nadya adalah seorang tersangka kejahatan. Ini yang paling Brydan tidak suka, terlambat! Brydan paling tidak suka yang namanya terlambat. Dia tidak mau orang yang tidak tepat dalam mengatur waktu.


Tapi mau bagaimana lagi, semua orang tidak bisa menjadi seperti dirinya. Belum tentu semua orang bisa menjadi seperti apa yang Brydan kehendaki. Karena Brydan bukanlah Tuhan yang bisa membolak-balik hati manusia. Bersiaplah Nadya menghadapi masalah yang beberapa menit lagi akan menimpa dirimu!


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 😁


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG: @cynshindi

__ADS_1


Nanti bakalan ada info perihal novel ini kok di sana.


__ADS_2