
Semua tamu undangan menikmati hidangan yang sudah tersedia. Brydan dan Nadya masih saja sibuk bersalaman dengan satu persatu rekan kerja Brydan. Hanya Tica, Fanny dan Dendy yang diketahui oleh Nadya. Sedangkan yang lain, ia tidak tahu siapa mereka, yang jelas mereka adalah rekan kerja suaminya.
"Selamat yah, Nak Brydan dan Nona Nadya." Ujar Tuan Wilson dan Nyonya Caroline. Mereka adalah kedua orang tua Velyn. Mantan kekasih Brydan.
"Terimakasih, Tuan dan Nyonya." Jawab Nadya dengan senyuman cantiknya. Kemudian Tuan Wilson dan istrinya berlalu untuk kembali duduk.
"Siapa mereka, Sayang? Sepertinya mereka dekat denganmu, buktinya mereka menyapa dengan begitu ramah. Tidak seperti yang lainnya." Nadya yang merasa aneh dengan kedua pasangan suami istri itu pun, bertanya kepada sang suami.
"Mereka adalah orang tua Velyn, mantan kekasihku."
Jika orang tuanya saja hadir, kenapa Velyn tidak ikut hadir?
"Sayang, boleh aku bertanya?"
"Hmm..."
"Jika kedua orang tuanya, lalu kenapa Velyn tidak ikut hadir? Apa dia tipe wanita yang selalu sibuk?"
Nadya memberanikan diri untuk bertanya kepada suaminya. Ya, dari pada dirinya berpikir hal-hal negatif. Lebih baik bertanya langsung bukan? Brydan menghela nafas kasar. Sebenarnya ia malas membahas hal yang tidak penting. Namun, ada baiknya jika istrinya tahu yang sebenarnya.
"Velyn ada di USA. Orang tuanya menjodohkan Velyn, dan Velyn setuju. Sembari dia melanjutkan pendidikannya."
Brydan menatap intens bola mata sang istri. Seakan menyiratkan sesuatu akan tatapan itu. Sebenarnya, lelaki ini hanya ingin mengetahui bagaimana reaksi sang istri, jika dirinya membicarakan mantan.
Sejauh yang ia lihat, istrinya baik-baik saja. Itu pertanda, sang istri bisa bersikap dewasa. Dan tidak lagi cemburu atau mengungkit masa lalu.
"Selamat yah, Tuan Brydan dan juga istri." Ujar seorang pria. Karena merasa terpanggil, dengan spontan Brydan dan Nadya pun menoleh.
Deggg.
Jelas Nadya tahu siapa orang di hadapannya ini. Bukan sebagai rekan atau kolega kerja sang suami. Melainkan mantan kekasihnya!
"In.. Indra? Kau disini?" Nadya pun menyapa, walaupun Indra adalah mantan kekasihnya. Tetapi pasca putus, hubungan mereka sebagai teman tetap terjalin. Indra sendiri yang meminta mengakhiri hubungan keduanya, karena ia ingin fokus kepada karirnya. Begitupun Nadya yang ingin fokus untuk masa depan.
Sebenarnya mereka menjalin hubungan saat keduanya masih duduk di bangku Sekolah menengah akhir.
"Kau mengenalnya, Bey?" Tanya Brydan kepada sang istri. Karena sedari tadi, istrinya bahkan tidak tahu seorang pun dari semua kolega kerjanya. Indra memang baru saja datang, ia datang terlambat karena harus menghadiri meeting.
"Di.. dia temanku, Sayang." Indra yang melihat ini, hanya bisa terdiam.
"Jangan berbohong, Nadya!" Brydan bahkan sudah menyelidiki seluk beluk dari wanita yang berstatus sebagai istri sahnya itu.
"Maaf, Sayang, aku takut kamu marah. Sebenarnya dia adalah mantan kekasihku saat kami masih SMA. Tapi, sekarang hanya sekedar teman kok, tidak lebih!" Nadya mencoba untuk berkata jujur dan meyakinkan suaminya.
"Lain kali, jangan mencoba berbohong kepadaku!"
Melihat suasana yang sudah semakin panas, Indra mau tidak mau harus menengahi ini.
"Ah Tuan, saya dan Nadya hanya masa lalu. Jangan khawatir saya bukan tipe orang perebut." Dengan tegas Indra menyampaikan itu pada suami Nadya. Yang notabene nya adalah kolega kerjanya.
__ADS_1
"Tentu, karena masa depannya adalah aku. Terimakasih Tuan Indra, sudah menyempatkan hadir." Brydan mencoba untuk bersikap seramah mungkin. Ia tidak mau memarahi atau membentak sang istri di depan khalayak.
Sebenarnya yang datang tidak terlalu banyak, hanya beberapa rekan kerja Brydan dan trio abal-abal. Siapa lagi kalau bukan Dendy, Tica dan Fanny.
"Sayang kamu melupakan sesuatu, mana Cemong-ku?" Tanya Nadya dengan wajah menunduk sedih. Karena ia begitu merindukan kucing lucu itu. Yang sekarang sudah berukuran jumbo.
"Den, mana kucing itu?"
"Akan segera hadir, Tuan."
"Cepat! Istriku menanyakan kucing kesayangannya itu. Aku tidak mau membuat istriku sedih!"
Karena kesibukan mereka masing-masing, membuat Cemong pun terlupakan. Akhirnya Dendy meminta salah satu bawahannya untuk mengambil Cemong dari mansion.
***
Pesta telah usai, semua tamu undangan yang hadir sudah pulang untuk kembali beraktivitas. Terlihat Nadya masih bermain bersama hewan peliharaannya. Sedangkan Brydan hanya duduk santai.
Mereka masih berada di gedung tua, hendak pulang beberapa menit lagi. Brydan masih ingin duduk sebentar, mengistirahatkan kakinya.
miauuuwww
Cemong melompat turun dari pangkuan Nadya. Dan berlari ke arah meja yang tepat berapa di belakang. Ia melompat naik ke atas meja dan memakan hidangan yang masih tersisa. Ada beberapa cake dan air mineral.
"Cemong, kenapa kau berlari. Nanti kau hilang." Nadya kembali merengkuh Cemong dalam dekapannya. Namun, saat ia hendak melihat apa yang tengah dimakan Cemong. Ia menemukan sesuatu yang berkilau, terselip di antara cake-cake yang tertata rapi.
Lagi-lagi ia dibuat terkejut dengan barang temuannya. Sebuah kalung perak yang berhiaskan liontin berbentuk hati dengan ukiran yang cantik. Dan sepertinya liontin itu bisa dibuka menjadi dua. Nadya pasti mengetahui sesuatu.
"Fann!" Teriaknya memanggil Fanny yang berada tidak jauh dari posisinya sekarang.
"Apa Nyonya membutuhkan sesuatu?" Tanya Fanny dengan tergesa-gesa. Karena Nadya memanggil dirinya sembari berteriak. Seakan-akan ada hal penting yang mendesak.
"Ah ya, mana tas yang aku bawa dari rumah tadi, Fan? Kau juga terlibat kan dalam drama serie ini?"
"Hehe, saya akan mengambilkannya, Nyonya. Tunggu sebentar." Fanny pun berlalu untuk mengambil apa yang diminta oleh sang majikan.
Nadya tetap menggenggam erat liontin itu. Seakan ia tahu sesuatu mengenai liontin itu. Tetapi Nadya ingat benar, yang duduk di meja itu hanya Naddie seorang. Karena meja itu adalah meja paling belakang.
Setelah Fanny memberikan tas miliknya, Nadya segera memasukkan liontin itu dan menutup rapat tasnya. Ia masih harus menyelidiki, sebenarnya liontin itu milik siapa? Dan kenapa bisa ada di tangan Naddie.
***
Waktu pun berlalu begitu cepat. Kini Nadya dan Brydan sudah ada di mansion. Mereka tengah membersihkan tubuhnya. Setelah drama panjang yang melelahkan. Beberapa menit berlalu, mereka keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian masing-masing di ruang ganti.
***
"Sayang, ayo turun untuk makan malam, aku sudah lapar."
"Tidak, kau harus ikut aku!"
__ADS_1
"Sayang kemana lagi? Kau tidak akan membuat drama serie lagi kan? Sudah cukup, Sayang! Aku benar-benar lapar." Rengek Nadya.
Dengan cekatan Brydan menarik Nadya ke dalam lift. Dan menekan tombol lantai paling atas. Kemudian mereka menaiki tangga untuk menujuk rooftop. Namun lagi-lagi Nadya harus menutup kedua matanya.
"Dalam hitungan ketiga, kau boleh membuka matamu!"
"1 2... 3, buka matamu!"
Wushhh
Angin berhembus dengan begitu syahdu. Menambah kesan indah di malam spesial mereka. Brydan bisa saja, ia mengubah rooftop menjadi tempat dinner. Dimana ada sepasang kursi dan meja. Dengan lilin dan kelopak mawar yang bertaburan. Tepi rooftop, diberikan lampu berwarna-warni yang menyala indah.
Nadya benar-benar merasa bahagia. Sang suami ternyata juga bisa berlaku romantis. Ia menatap suaminya dengan tatapan yang begitu meneduhkan. Ia rengkuh pria yang sedari tadi membuatnya tegang dan bahagia bersamaan.
"Kenapa kau begitu romantis? Aku akan semakin mencintai dirimu, Sayang!" Ujarnya dengan suara yang sedikit bergetar. Ia menangis bahagia tentunya.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Novel baru coming soon ya guys, hehe.
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.
__ADS_1