Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-22 Sehari menjadi babu !?


__ADS_3

Matahari terlihat sudah menenggelamkan dirinya. Langit sudah berubah dari biru menjadi jingga ke merah-merahan. Dan waktu sudah menunjukkan sore hari, yang artinya sebentar lagi penantian Nadya akan selesai. Karena hukuman itu berlangsung ketika suaminya pulang bekerja. Sudah dari tadi dia menunggu sang suami. Dia sudah membersihkan dirinya dan juga memakai make-up tipis.


Hingga akhirnya terdengar suara klakson mobil dari luar. Nadya langsung antusias dan turun ke lantai bawah. Dia menyambut kedatangan Brydan dan juga Sekertaris Dendy.


"Selamat datang Sayang, Sekertaris Dendy." Ucap Nadya sambil tersenyum manis ke arah Dendy. Dendy hanya membalas dengan seulas senyum tipis.


"Terimakasih Nyonya."


"Ayo, jangan terlalu lama memandang Dendy!" Ujar Brydan yang melihat istrinya memberikan senyuman manis kepada Sekertaris Dendy.


Tuan, Anda benar-benar sudah jatuh cinta rupanya. Saya turut senang, dan semoga Anda selalu berbahagia bersama Nyonya kecil.


Setelah Brydan masuk, Dendy langsung pamit untuk pulang.


"Pak San, kemana Fanny?" Tanya Brydan. Nadya sedang mempersiapkan keperluan Brydan untuk mandi dan pakaian ganti Brydan.


"Anda mencari saya, Tuan?" Tanya Fanny yang baru saja diberitahukan oleh Pak San, bahwa Tuan mencarinya.


"Nyonya hanya menonton drama kesukaannya, Tuan. Kemudian beliau meminta saya untuk bercerita di taman belakang." Laporan Fanny kepada Brydan masih kurang memuaskan.


"Cerita?" Tanya Brydan.


"Bercerita mengenai masalah pribadi saya, Tuan." Dan langsung diangguki oleh Brydan. Kemudian menyuruh Fanny untuk pergi.


"Sayang, segeralah mandi." Ujar Nadya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dan Brydan langsung masuk ke dalam kamar mandi.


Nadya sudah merencanakan segela sesuatu yang akan dia minta dari suaminya. Dia sedikit tersenyum licik, sekarang dia akan membuat suaminya kesal.


"Nadya, kenapa kau menyiapkan pakaian menjijikan ini untukku?" Ucap Brydan dari dalam ruang ganti.


"Pakai saja Sayang, ingat hukumanmu!" Sahut Nadya sambil cekikikan, karena membayangkan ekspresi Brydan.


Akhirnya Brydan keluar dengan memakai piyama bercorak sapi. Yang Nadya beli tempo hari di mall, setelah jalan-jalan dari taman safari.


Dan benar saja ekspresi wajahnya sangat datar seperti aspal jalan tol. Dan Nadya sukses tertawa terbahak-bahak hingga Brydan mengeluarkan tanduknya dan menutup mulut Nadya dengan telapak tangannya.


"Sayang aku tidak bisa bernafas." Ucap Nadya setelah Brydan melepaskan telapak tangannya dari mulut Nadya.


"Kau tertawa seperti orang gila."


"Sabar ini ujian untukmu."


"Aku sudah ujian, jadi tidak perlu banyak ujian lagi!"


"Sayang, tolong ambilkan handphone ku!" Nadya sudah mulai berani bertitah kepada Sang Penguasa. Brydan masih saja sabar dan mengambilkan apa yang Nadya mau.


"Sayang, tolong kamu pijatkan kepalaku!" Dan langsung dilakukan oleh Brydan. Brydan duduk di sebelah kepala Nadya dan memijatnya.


Setelah 10 menit, Nadya meminta Brydan untuk berhenti. Tapi tiba-tiba Brydan terbatuk-batuk seperti orang yang baru berlari maraton.

__ADS_1


"Uhukk, uhukk, uhukk." Saat mendengar suara batuk Brydan, Nadya langsung menoleh dan berkata.


"Kau habis minum apa, sampai terbatuk-batuk seperti ini?" Tanya Nadya sembari memijat kecil tengkuk Brydan. Karena dia khawatir Brydan akan muntah.


"Sayang aku punya obat herbal untuk menyembuhkan batuk mu ini." Ujar Nadya.


"Jangan aneh-aneh, nanti aku akan suruh Meysha kesini." Sahut Brydan. Karena dia tahu istrinya sedikit nakal.


"Sebentar aku ambil."


Setelah beberapa saat Nadya masuk ke dalam kamar, membawa sewadah kecil garam dan lima biji belimbing sayur. Firasat Brydan sudah tidak enak, dia takut istrinya memintanya untuk memakan belimbing asam itu.


"Sayang kau makan ini, caranya kau cocolkan belimbing ke garamnya ya. Ini hukuman bukan permintaan, jadi kau harus mau!" Ujar Nadya dengan nada memerintah.


Dan dengan sangat terpaksa Brydan mengambil belimbing itu dan mencocolkannya ke garam. Brydan sontak memejamkan matanya ketika merasakan rasa asam dari belimbing.


Saat hendak memuntahkan belimbing yang baru saja dimakannya, Brydan justru mendapatkan tatapan tajam dari istrinya. Dan Nadya membekap mulut Brydan dengan telapak tangannya supaya belimbing nya tidak dimuntahkan oleh Brydan.


"Sudah aku tidak kuat lagi." Ujar Brydan, karena jujur dia sangat tidak bisa memakan makanan yang rasanya asam. Lebih baik dia tidak usah makan saja. Tetapi Nadya tetap saja memaksa suaminya itu.


"Jika kau menghabiskan semua belimbling ini, baru kita turun untuk makan." Dan dengan santai Nadya mengambil satu dan mencocolnya dengan garam. Kemudian memakannya, tetapi Brydan heran. Kenapa ekspresi Nadya begitu santai, seperti memakan makanan enak saja.


"Kenapa rasa asam ini tidak menyakiti lidah mu?"


"Karena dulu ketika aku belum pindah ke kota ini, aku adalah anak petualang di kampung. Dan ini adalah makanan sehari-hari ku. Orang kampung bilang, belimbing dengan garam bisa meredakan batuk. Jika dimakan secara rutin, batukmu akan sembuh." Ujar Nadya dengan santai setelah menelan apa yang dia kunyah.


"Sudah, kau habiskan sisanya!" Ucap Nadya seakan-akan dia adalah ratu di mansion Brydan.


Gila, dia menghabiskan nya. Padahal aku tau jika dia tidak tahan dengan rasa asam. Pak San bilang begitu kan?


"Habis!" Ujar Brydan setelah menghabiskan belimbing nya. Mereka berdua turun ke bawah untuk makan malam.


"Ayo naik!" Ujar Brydan setelah selesai makan.


***


Kini mereka sudah duduk bersandar di kepala ranjang, dengan posisi Nadya bersandar di dada bidang Brydan.


"Sayang, besok aku ingin memasak. Ini hukuman, jadi kau harus mengiyakan permintaan ku!" Ujar Nadya. Dia sudah rindu sekali memasak, seperti dulu saat dia di kontrakan.


"Jangan sampai melukai dirimu!"


"Baik, Sayang."


"Bagaiman pekerjaan mu tadi?" Ucap Nadya untuk memecah keheningan yang baru saja tercipta.


"Lancar."


"Aku penasaran, berapa kau menggaji Sekertaris Dendy. Hingga dia benar-benar menurutimu, seperti menuruti raja nya?"

__ADS_1


"Kau tidak perlu tahu. Jika kau butuh bantuannya hubungi saja! Kau kan punya nomornya!"


"Baiklah."


"Sayang, boleh tidak aku besok berolahraga?"


"Boleh."


"Yeayyy."


"Tapi harus bersama dengan ku, di akhir pekan!"


"Heuhh, baiklah."


"Sayang, kau sudah tidak batuk lagi seperti tadi?" Tanya Nadya, karena Brydan sudah tidak terlihat batuk-batuk lagi.


"Aku tadi hanya tersedak, bukan batuk." Sahut Brydan. Dan Nadya sudah tahu itu, hanya saja dia ingin sekali mengerjai Brydan.


Aku sudah tahu, tapi aku suka melihat ekspresi wajahmu saat memakan belimbing asam itu. Hahaha.


"Ekspresi mu tadi lucu sekali, Sayang."


"Kau mulai tidak tahu diri ya!"


"Kau adalah Suamiku, aku khawatir tadi saat melihat terbatuk-batuk. Aku takut nanti kau muntah, dan itu rasanya tidak enak." Ucap Nadya dengan nada yang dibuat-buat. Seakan-akan dirinya benar-benar khawatir kepada suaminya.


Kalau aku tidak berakting seperti ini, kau pasti akan menghukum ku kan? Jadi biarkan aku mengasah kemampuan akting ku.


"Tidak semudah itu, jika dengan maaf semuanya bisa selesai. Maka tidak akan ada pekerja yang dipecat karena korupsi. Dan tidak ada penjahat yang dipenjara karena membunuh!" Ucap Brydan dengan tatapan nakal nya.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like, komen and votenya yah 🤗


Makasih kakak-kakak sayang😁✨

__ADS_1


kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan juga boleh follow aku yah


IG : @cynshindi


__ADS_2