Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-17 Bertamasya...


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu dan hari ini adalah waktu yang dijanjikan Brydan. Untuk jalan-jalan bersama istrinya. Nadya sudah bangun dari tadi, tapi Brydan masih berada di alam mimpinya.


Dia imut sekali sihh.


Nadya tiba-tiba mencubit pipi Brydan. Saking gemas nya, Nadya bukan hanya mencubit tapi juga menarik pipi Brydan. Hingga Brydan yang sedang bermimpi indah langsung terkejut. Karena cubitan di pipinya lumayan keras.


"Hei kau, beraninya kau!" Ucap Brydan dengan suara khas orang bangun tidur. Jujur dia sangat lelah, karena semalam dia begadang. Untuk membaca laporan dari Dendy.


"Ehh maaf, Suamiku. Aku gemas sekali tadi." Nadya berbicara sambil mengecup pipi Brydan berulang-ulang. Hingga Brydan tertawa geli.


"Kau sudah sikat gigi kan?" Tanya Brydan.


"Jika aku tidak sikat gigi, Suamiku ini mau apa?" Nadya bertanya kembali.


"Dasar jorok, lain kali jangan mengecup kalau tidak sikat gigi." Brydan kesal tapi jujur dia senang.


"Baiklah, aku tidak akan pernah memberi mu kecupan lagi." Nadya berakting seperti orang yang sedang marah.


Brydan mendekatkan wajahnya ke wajah Nadya dengan tatapan tajam. Dia menatap istrinya, seakan dia akan memakan istrinya hidup-hidup. Nadya hanya memejamkan matanya, karena jujur dirinya mengira Brydan akan menciumnya.


"Beraninya kau!" Ternyata Brydan bukan hendak mencium Nadya. Melainkan membisikkan sesuatu tepat ke telinga Nadya. Wajah Nadya merona merah karena malu. Dia mengira Brydan hendak menciumnya. Wajah Brydan masih tidak berpindah posisi. Brydan terkekeh kecil melihat wajah Nadya merona karena malu.


"Aku sudah sikat gigi, aku hanya bercanda." Ucap Nadya memalingkan wajahnya. Agar Brydan tidak tahu kalau sekarang wajahnya merona karena malu.


"Suamiku, kau sudah berjanji padaku. Kalau sekarang kita akan bertamasya berkeliling-keliling kota, hendak melihat-lihat keramaian yang ada. sambil naik... "


"Ehh Suamiku, kita tidak naik becak kan?"


"Kenapa kau berhenti, ayo lanjutkan, aku akan melempar tubuh kecilmu ini ke atas becak."


"Hehe, sudah lupa lagunya..."


"Dasar kau ini, kau pikir aku bocah kecil..."


Drama di pagi ini sudah selesai. Baik Brydan atau Nadya sudah sama-sama rapi. Brydan dengan pakaian olahraga dan sepatu sportnya. Sedangkan Nadya dengan tank top dan celana panjang nya. Jangan lupakan cardigan yang melekat dengan sempurna di tubuhnya. Karena si gunung es itu, tidak akan membiarkan tubuh istrinya terekspos. Nadya hanya memakai make-up natural seperti biasanya.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat!" Titah Brydan setelah menghabiskan sarapan pagi nya. Dan Nadya langsung mengikuti langkah kaki suaminya. Mereka berjalan beriringan menuju mobil.


"Mari Tuan, Nyonya." Ucap supir pribadi Nadya. Dan Nadya serta Brydan duduk bersebelahan di kursi belakang supir.


Setelah menempuh perjalan selama 1 jam lebih, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Supir membeli ticket untuk 3 orang dan mobil pun berjalan ke area taman safari.


Pemandangan pertama yang dilihat Nadya adalah kawanan Jerapah.


"Suamiku Jerapah, mana makanannya biar aku yang berikan." Ucap Nadya dengan antusias, sembari memberikan Jerapah tersebut daun-daun hijau.


Setelah mobil melaju, Nadya kembali melihat kawanan Harimau. Wajahnya sedikit takut, tapi semangat nya menggebu-gebu.


Brydan yang melihat ketakutan di wajah istrinya, langsung menitah supir untuk jalan. Dan mereka kembali bertemu dengan kawanan Gajah.


"Suamiku, ayo naik Gajah." Ajak Nadya.


"Tidak." Jawab Brydan. Karena dia takut Nadya terjatuh.


"Suamiku, ayolah." Ucap Nadya sembari menarik-narik tangan Brydan.


"Wahh ada Zebra, mana makanannya." Ucap Nadya ketika dia melihat kawanan Zebra berjalan kearah mobilnya. Dia meminta Brydan memberi makan pada Zebra-zebra itu. Dan dia tidak menyia-nyiakan momen tersebut.


Cekrek cekrek cekrek.


Dia memotret Brydan yang sedang memberi makan Zebra menggunakan kamera handphone nya. Kemudian dia meminta Brydan untuk gantian memotretnya bersama salah satu Zebra. Mobil terus melaju, Nadya banyak bertemu dengan hewan-hewan yang lucu. Seperti Kelinci, Burung Kakak Tua, Burung Beo. Dan dia juga sempat berfoto dengan seekor Burung Kakak Tua. Ya, walaupun dia sedikit takut sih. Tapi rasa bahagia yang dia rasakan, mengalahkan ketakutannya.


***


Kini mobil yang mereka tumpangi sudah keluar dari area taman safari. Nadya masih asyik melihat-lihat foto-foto mereka tadi sewaktu di taman safari. Sesekali dia tersenyum melihat pria yang dulu sangat menyebalkan, kini berubah menjadi pria yang membawa kebahagiaan bagi Nadya.


"Aku tidak salah memilih, Suamiku memang tampan." Gumam Nadya yang dapat didengar oleh Brydan.


"Aku memang tampan sejak lahir." Brydan menimpali ucapan Nadya.


"Suamiku, ayo kita ke mall untuk belanja." Ajak Nadya kepada Brydan dengan wajah imutnya. Dan bagaimana Brydan bisa menolak wajah yang membuatnya jatuh cinta.

__ADS_1


"Pak, kau dengar kata Nyonya mu?" Ucap Brydan pada sopir yang tengah mengemudi.


"Baik, Tuan."


Dan mobil melaju ke arah mall terdekat. Tidak memakan waktu lama, mereka sudah sampai di mall. Dan sekarang Nadya sedang memilih-milih pakaian yang menurutnya bagus. Tiba-tiba dia melihat piyama laki-laki bercorak seperti kulit sapi.


"Suamiku, ini piyama yang bagus." Ucap Nadya kepada Brydan, yang sedari tadi berada di belakangnya. Brydan tidak terlalu suka berbelanja. Karena dia tidak suka membuang-buang waktu, dia terlalu sibuk untuk itu.


"Untuk siapa?" Tanya Brydan.


"Untuk mu, memangnya untuk siapa lagi." Sahut Nadya tanpa mengalihkan pandangannya dari piyama bercorak sapi tersebut. Nadya mengambilnya dari gantungan dan mengukurnya, dengan menempelkan piyama itu ke tubuh suaminya.


"Wahhh, pas." Ujar Nadya dengan antusias.


"Aku tidak mau memakai piyama norak ini." Ucap Brydan.


"Aku akan memaksa." Ujar Nadya.


Tanpa peduli ucapan Brydan, Nadya langsung membawa semua barang belanjaannya ke kasir. Beserta piyama tersebut.


Di perjalanan pulang__


Mereka sudah hendak pulang karena waktu sudah hampir sore. Dan matahari sudah hampir tenggelam. Setelah mereka makan disebuah restoran. Brydan langsung mengajak Nadya pulang, karena dia sudah lelah.


"Suamiku, aku tidak melihat Fanny tadi pagi. Kemana dia?" Tanya Nadya, karena dia merasa tidak melihat Fanny seharian ini.


"Dia ada di belakang bersama para pelayan." Jawab Brydan. Dan hanya dibalas anggukan kepala dari Nadya.


Karena jauhnya perjalanan hingga Nadya tertidur pulas di bahu kekar suaminya. Brydan terus mengusap lembut rambut istrinya. Sesekali dia mencium pucuk kepala Nadya. Dia menyandang kepala Nadya di dadanya, karena takut istrinya kelelahan.


Tiba-tiba Nadya gelisah dalam tidurnya. Karena mobil melewati polisi tidur yang lumayan tinggi. Tapi Brydan menenangkannya hingga dia kembali tertidur.


"Pelankan mobilnya!" Titahnya kepada sopir.


"Baik, Tuan." Sahut sopir.

__ADS_1


Mereka menempuh kurang lebih 1 setengah jam perjalanan untuk sampai ke mansion. Setelah sampai di mansion, Brydan langsung menggendong Nadya ala bridal style. Dan membawa sang istri ke kamar kemudian menidurkan istrinya di ranjang dengan perlahan-lahan. Karena Brydan tidak mau membangunkan istrinya yang tengah tertidur. Dia tau istrinya itu kelelahan karena terlalu semangat.


__ADS_2