Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-53 BUKAN PELAKOR!


__ADS_3

Fanny begitu kagum dengan keberanian yang dimiliki oleh Nadya. Bahkan Nadya terus saja menyudutkan Naddie. Beberapa menit yang lalu, sebelum Naddie pergi dari mansion.


Keduanya sempat beradu argumen. Bahkan Naddie hampir saja menampar Nadya, tetapi Fanny menghalau tangan Naddie yang hendak menyentuh wajah Nadya.


Flashback On.


Tadi ketika Nadya masuk ke dalam mansion. Naddie langsung menghampiri dirinya tanpa dia minta. Bahkan Naddie terlihat begitu angkuh. Nadya menilik penampilan Naddie dari bawah hingga ke atas. Terlihat seperti pakaian yang kurang bahan.


"Selamat siang, Nona Naddie." Sapa Nadya terlebih dahulu dengan santai. Tanpa menunggu sapaan balik dari Naddie, Nadya melewati si mentog begitu saja. Dan langsung duduk di sofa. Begitupun dengan Fanny, yang tengah berdiri di belakang Nadya.


Nadya bisa melihat dengan jelas guratan amarah di wajah Naddie. Bahkan Naddie sampai mengepalkan tangannya. Kemudian mencoba untuk meredam amarahnya kembali. Naddie berjalan dengan angkuhnya kembali ke sofa. Ia duduk tepat di seberang Nadya.


"Jadi seperti ini kelakuan istri Brydan? Tidak punya sopan santun. Dan juga tidak fhasionable." Naddie sedikit memiringkan sudut bibirnya. Sedangkan Nadya terlihat begitu santai. Bahkan sama sekali tidak terlihat guratan emosi di wajahnya.


Dasar si mentog, apa dia ini tidak punya kaca di rumahnya? Sabar Nadya, sabar, ini ujian.


Tidak tahu saja si mentog, kalau Nadya sudah berusaha memendam emosinya sedari tadi. Nadya sudah menduga, bahwa kedatangan wanita itu tidak akan berdampak baik.


"Kalau seperti saya ini dibilang tidak sopan, lalu apa kabar dengan wanita yang datang ke rumah suami orang, bahkan dengan menggunakan pakaian yang begitu minim dan seksi. Bahkan dia sama sekali tidak meminta izin kepada istri dari pemilik mansion." Dan benar saja, Naddie langsung tersudut dengan ucapan yang keluar dari mulut Nadya.


Bagus, Nyonya. Saya yakin Anda bisa melawan wanita ular ini. Fanny masih saja diam dan menonton sidang yang tertera di hadapannya.


"Apa istri? Hahaha, jangan sombong, Nyonya Nadya. Karena itu hanyalah sebuah status. Aku tidak yakin, apakah Brydan benar-benar mencintai dirimu?" Ujarnya dengan disertai tawa jahatnya. Nadya tengah menata kata demi kata yang pas untuk membalas perkataan pedas dari si mentog.


"Kenapa Anda malah mencampuri urusan saya? Apa Anda sudah tidak laku sehingga ingin menggoda suami orang? Meskipun saya tidak dicintai, setidaknya saya punya status yang jelas. BUKAN PELAKOR!" Nadya menekankan kata terakhir yang ia ucapkan. Agar wanita di hadapannya itu sadar, bahwa yang ia lakukan adalah perbuatan tidak benar.


Naddie yang merasa terpojokkan benar-benar marah. Dia berdiri dan hendak menampar Nadya, tetapi Fanny dengan sigap langsung memegang tangan Naddie. Hingga Naddie merasa begitu emosi dan dia langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Memang benar, tidak ada ceritanya kejahatan menang melawan kebajikan.


Setelah kepergian Naddie, Nadya langsung tertawa kegirangan. Akhirnya dia berhasil mengalahkan wanita satu itu. Tetapi ia tidak boleh terlalu bangga. Karena Naddie tidak akan menyerah begitu saja.


"Saya takjub atas keberanian Anda, Nyonya." Fanny pun sempat dibuat kagum dengan keberanian yang dimiliki oleh Nadya.


Flashback Off


***


Saat ini Nadya tengah bersantai di bangku taman belakang. Tentunya bersama Fanny yang setia menemani majikannya itu. Fanny dan Nadya terus saja bercerita, entah apa yang mereka ceritakan. Tanpa terasa waktu terus berjalan, hingga matahari sudah mulai tenggelam. Nadya pun mengakhiri acara bercerita nya.


"Fan, hari sudah sore, aku mau mandi dulu ya." Ucap Nadya dan diangguki saja oleh Fanny.


Setelah Nadya sudah masuk kembali ke dalam mansion, Fanny kembali melihat ke hamparan taman yang indah. Dia terlihat asyik dengan lamunannya.

__ADS_1


Duarrr


Namun suara keras membuyarkan semua lamunannya. Edward dengan santainya duduk di sebelah Fanny setelah dia membuat sang kekasih terkejut.


"Ngelamunin apa sih, Yang?" Tanya Edward sembari merangkul pundak Fanny. Fanny memukul pelan paha Edward, karena sudah usil membuat dirinya terkejut.


"Kamu ini ngagetin aku loh. Kamu nggak bisa nyapa baik-baik?" Fanny sungguh dibuat gemas dengan tingkah laku Edward.


Kadang manja, kadang jutek, kadang juga kekanakan. Tetapi Fanny mewajari itu semua, karena mungkin efek menjalani long distance relationship selama beberapa bulan.


"Hehe, lagian kamu bengong aja. Nanti kesambet loh," jawab Edward dengan cengiran khas seorang Edward. Dan Fanny langsung mencubit gemas kedua pipi Edward.


"Aku lagi rindu sama ibu dan ayah di kampung." Kata Fanny, ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah hamparan bunga-bunga indah.


Seakan bunga-bunga itu adalah keluarga yang tengah dirindukannya. Melihat wajah sendu sang kekasih, Edward berusaha untuk memberikan semangat kepada Fanny.


"Sayang, kamu kan bisa telfon ibu atau ayah. Lagian kamu kerja kan juga buat beliau-beliau. Aku yakin, ibu dan ayah pasti bangga punya putri yang mandiri seperti kamu." Edward mengelus pelan punggung Fanny seraya memberikan kekuatan.


Fanny menilik wajah Edward, kekasih yang selama beberapa bulan ini selalu ada untuknya. Bahkan Edward begitu sabar menghadapi dirinya yang terkesan dingin ketika pertama kali bertemu.


"Terimakasih, kamu adalah salah satu orang yang terpenting setelah keluargaku." Ucap Fanny seraya mengelus pipi Edward.


Dan keduanya pun masuk ke dalam mansion, memasuki kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Kemudian bersiap untuk makan malam.


***


Sesi makan malam baru saja selesai. Hari sudah gelap. Terlihat sepasang suami istri yang tengah bermesraan di pusaran ranjang. Mereka duduk berdua, saling mendekap. Dan bersandar di kepala ranjang.


Sesekali sang suami mencium lembut pucuk kepala istrinya. Sedangkan sang istri tengah berceloteh mengenai semua hal yang menurutnya seru untuk dibicarakan.


Terlihat sang istri begitu asik berbicara dan bercerita. Sedangkan Brydan hanya berdehem saja. Dan sesekali menanggapi dengan senyum tipisnya. Karena fokusnya tengah terarah pada rambut istrinya.


Namun tiba-tiba Brydan ingat sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan sang istri. Tadi Pak San dan Fanny melaporkan sesuatu kepadanya. Dan betapa khawatir dan cemasnya Brydan mendengar laporan kedua pekerjanya itu. Hingga Brydan sempat memarahi Pak San dan juga Fanny yang bahkan tidak bersalah.


"Bey, tadi ada yang berkunjung kemari?" Brydan memancing sang istri untuk bercerita kejadian siang tadi.


Nadya mengangguk, dia tidak ingin berbohong. Toh, dia sudah tahu kalau sang suami pasti sudah diberitahu oleh Fanny.


"Ya, tadi ada Naddie kesini."


"Apa dia melukaimu? Kenapa kamu tidak memberitahukan kepadaku? Kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu, maka aku tidak akan mengampuni siapapun." Ujar Brydan dengan penuh amarah.

__ADS_1


Bahkan dia langsung duduk dengan tegap dan mengepalkan tangannya. Melihat amarah sang suami mulai terpancing, Nadya pun berusaha untuk menenangkan suaminya.


"Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Aku bisa menghadapi siapapun yang berniat merusak rumah tanggaku." Dengan yakin Nadya mengatakan kalimat itu.


Nadya mengelus punggung sang suami. Nadya sudah tahu, jika suaminya marah, maka semua orang pasti akan terkena percikannya. Maka dari itu, dia berusaha untuk membuat sang suami kembali tenang.


Brydan mungkin akan tenang jika di hadapan sang istri. Namun berbeda lagi jika di hadapan Fanny dan juga Pak San.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo readers tercinta ramaikannn💖


btw, keknya othor bakalan up satu aja deh sehari, tenang aja, bukan mulai besok kok, tapi mulai beberapa hari lagi. Tugas, mengantri untuk dikerjakan hehe.


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG: @cynshindi


Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.

__ADS_1


__ADS_2