Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-27 EDWARD ROBSON


__ADS_3

"Tenang saja, aku akan meminjamkan mu uang tabungan ku." Jawab Nadya berusaha untuk menenangkan Tica. Fanny tidak akan mendengar percakapan mereka, karena bodyguard Nadya itu tengah memakai earphone.


Kemudian mereka berpisah, karena Tica sudah sampai di rumahnya. Nadya melihat ke arah tas selempang nya. Dan benda yang tadi diselundupkan oleh Tica sudah ada di sana. Pil kontrasepsi dengan wadah kecil, seperti wadah vitamin. Nadya sengaja meminta Tica merubah wadah nya, agar tidak ketahuan.


Sesampainya di mansion, Nadya langsung menaruh pil itu di tempat yang aman, agar Brydan tidak mengetahui keberadaan pil itu.


Di Kantor Robson.Drction_


Seperti biasa, saat sedang break suasana kantor akan ramai karyawan berlalu lalang untuk pergi ke kantin. Dendy dan Brydan tengah menikmati makan siang mereka di dalam ruangan Brydan. Seusai makan, Dendy meminta OB untuk membawakan piring kotor bekas makan tadi.


"Tuan, handphone Anda berbunyi." Ucap Dendy. Biasanya Brydan akan menitipkan handphone nya ke Dendy saat jam kantor dimulai. Karena dia tidak mau ada yang mengganggu saat dirinya bekerja.


"Who's that, Den?" Tanya Brydan, karena biasanya ada saja nomor tidak dikenal yang akan menghubungi Brydan. Dan Brydan tidak akan menjawabnya.


"Tuan Edward, Tuan." Sahut Dendy.


"Edward? Berikan Den!" Dan Dendy memberikan handphone itu ke tangan Brydan. Kemudian Brydan menjawab panggilan tersebut.


"Kakak, kenapa kau lama sekali menjawab panggilan ku!" Ucap seseorang di sambungan telfon.


"Kenapa kau menelfon kakak?" Jawab Brydan dengan wajah datarnya. Dan Edward sama sekali tidak terkejut karena wajah kakaknya dari orok memang begitu.


"Kak, aku tidak pulang ke mansion ya. Aku sudah tiga hari yang lalu sampai di Indonesia. Sekarang aku akan tinggal di apartment saja. Nanti aku akan ke kantor kakak kalau aku rindu." Ucap Edward panjang lebar.


"Kenapa kau tidak menghubungi kakak tiga hari yang lalu?" Brydan sungguh kesal dengan kenakalan adiknya ini.


Adik? Ya, EDWARD ROBSON adalah adik Brydan. Selama 4 tahun terkahir, dia menempuh pendidikan di Amerika. Karena paksaan dari sang kakak. Sebenarnya dia ingin menuntut ilmu di Indonesia, tapi apalah daya jika Sang Penguasa sudah bertitah. Bagaimanapun seorang kakak selalu ingin yang terbaik untuk adiknya. Berbeda dengan sang kakak, Edward memiliki kepribadian yang lebih terbuka dan hangat kepada sesamanya. Usia Edward dan Brydan hanya selisih 4 tahun saja. Brydan memang lebih tampan dari Edward, tapi Edward juga tidak kalah tampannya. Walaupun wajah Edward lebih condong ke wajah Asia. Berbeda dengan sang kakak yang lebih condong ke wajah American.


"Kakak, sebenarnya aku ingin menghubungi kakak tadi. Tapi handphone ku terjatuh, jadi aku harus membeli handphone baru untuk itu." Kata Edward.


Edward memang memiliki sifat yang sama dengan sang ibu, yaitu penyayang. Apalagi kepada kakaknya, walaupun kakaknya selalu saja memasang ekspresi datar seperti aspal.


"Kakak selalu meminta Sekertaris Dendy untuk mengirimkan uang ke rekening mu! Jadi jangan hubungi kakak jika hanya untuk urusan uang." Sahut Brydan.


"Kakak sekarang aku sudah menyelesaikan pendidikan ku, boleh tidak aku berkencan?" Edward sedikit ragu untuk mengatakannya. Sang kakak tidak memperbolehkan Edward untuk berkencan selama di Amerika. Karena Brydan ingin adiknya fokus untuk menimba ilmu agar memiliki masa depan yang baik. Walaupun tanpa kuliah Edward bisa bekerja, tapi Brydan ingin adiknya menjadi pribadi yang baik dan bisa membangun kesuksesannya sendiri.


"Kenapa handphone mu bisa jatuh?" Tanya Brydan. Karena menurut Brydan, adiknya bukanlah orang yang ceroboh.


"Jawab dulu pertanyaan ku tadi!" Kata Edward.


"Hmm." Jawab Brydan.


"Terimakasih kakakku tersayang. Kemarin ada dua orang wanita yang menyenggol handphone ku hingga terjatuh dan mati total. Apa kau tau satu diantara mereka begitu menggemaskan, dan aku sudah mendapatkan nomornya. Nanti aku akan meminta dia menemui ku untuk bertanggung jawab." Jelas Edward kepada Brydan.

__ADS_1


"Kakak akan menelfonmu lagi nanti." Dan Brydan langsung mematikan sambungan telfonnya.


"Den, apa aku perlu ikut campur masalah adikku dengan wanita yang dia pilih?" Tanya Brydan bermaksud meminta pendapat Dendy.


"Saya kira tidak perlu, Tuan. Tuan kecil sudah dewasa sekarang. Beliau juga seorang laki-laki, saya yakin beliau bisa menentukan mana yang terbaik untuk dirinya." Sekertaris Dendy memberikan pendapat untuk Brydan.


"Ah, kau benar."


"Apa tuan kecil sudah menyelesaikan pendidikannya, Tuan?"


"Iya, Den. Dia sudah pulang 3 hari yang lalu. Dia memang sedikit nakal."


"Beliau masih labil, Tuan."


"Dia sudah dewasa, Den!"


"Ah, Tuan benar."


"Kembali bekerja, Den!" Dan langsung dilaksanakan oleh Dendy.


Di Mansion Brydan_


"Fan, diluar panas sekali ya." Ucap Nadya yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tengah. Dia sedikit menoleh ke jendela dan silau sinar matahari membuat nya tidak nyaman.


"Bagaimana kalau segelas jus jeruk dingin? Buatkan 2 gelas ya, Fan." Kata Nadya.


"Baik, Nyonya." Dan Fanny meminta pelayan untuk membawa 2 gelas jus jeruk dingin.


Beberapa menit kemudian jus nya sudah selesai dibuat.


"Duduk, Fan!"


"Saya tidak pantas duduk di sebelah, Nyonya."


"Tidak ada bantahan."


Dengan terpaksa Fanny duduk di sebelah Nadya dengan posisi yang sopan, tidak bersandar seperti Nadya.


"Minumlah." Ujar Nadya. Dia memberikan satu gelas jus jeruk kepada Fanny. Karena dia tidak mau membuat Fanny kehausan dan pegal karena sedari tadi berdiri di belakangnya.


"Kalau tidak ada suamiku, kau santai saja ya. Aku bukan tipe orang yang suka disegani. Anggap aku ini temanmu." Lagi-lagi Fanny terharu dengan ucapan Nyonya nya. Dia begitu suka dengan kepribadian dan sifat Nadya yang selalu merendah dan menghargai orang lain tanpa membedakan kasta.


"Saya senang bisa kenal dengan Anda. Saya suka sifat dan kepribadian Anda." Ujar Fanny memberikan senyuman tipis ke arah Nadya.

__ADS_1


"Aku tidak mau kamu berdiri terus seperti manekin." Dan mereka berdua tertawa, bercerita bersama sambil menikmati segelas jus jeruk dingin.


"Suamiku memberi mu apa sih? Sampai kau tidak mau mengecewakannya sedikit saja." Tanya Nadya.


"Kepercayaan, Nyonya. Tuan memberi saya kepercayaan." Jawab Fanny.


Nadya sungguh takjub dengan semua orang yang bekerja di mansion ini. Tidak seorang pun yang berani mengecewakan Brydan. Entah apa yang Brydan berikan untuk mereka.


"Ah kau benar, Fan." Ujar Nadya sembari tersenyum tipis membayangkan wajah Brydan.


"Hari sudah siang, Fan. Aku istirahat dulu ya. Kau pergilah istirahat." Ujar Nadya, menepuk pelan bahu Fanny. Kemudian dia beranjak untuk ke kamarnya.


Anda baik sekali, Nyonya. Saya berharap Anda selalu diberikan kebahagiaan selama hidup.


Fanny beranjak untuk membantu pelayan lain yang membutuhkan bantuannya.


Di dalam kamar, Nadya sudah memejamkan matanya dan terbang ke alam mimpi sejak beberapa menit yang lalu. Walaupun AC sudah dinyalakan, tetapi tetap saja hawa panasnya masuk ke dalam dan membuat seluruh tubuhnya berkeringat.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya, hehe


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang 😁


kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah

__ADS_1


IG : @cynshindi


__ADS_2