
"Selamat datang, Sayang."
Cupp.
Nadya menyambut kedatangan sang suami seperti biasanya. Dengan senyuman hangatnya dan keceriaannya. Disertai dengan sebuah kecupan cinta di pipi sang suami. Brydan hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Kemudian ia rengkuh pinggul istrinya. Mereka melangkah menuju kamar pribadi mereka.
"Sayang, air mandinya sudah aku siapkan. Mandilah, sementara aku akan menyiapkan makanan untuk dinner. Baju gantinya sudah aku siapkan, yah." Ujar Nadya, kemudian ia meninggalkan suaminya sendiri di kamar.
***
Kini Nadya dan Brydan sudah siap dengan setelan piyamanya. Melangkah menuju meja makan untuk mengisi perut yang sudah lapar sepulang bekerja. Hari ini Nadya memasak, Brydan sudah tidak lagi melarang sang istri. Karena bujuk rayu yang Nadya lakukan tentunya. Ia bilang agar dirinya tidak bosan selama di mansion.
Dan Brydan hanya mengangguk, pertanda menyetujui permintaan istrinya. Brydan memaklumi kebosanan yang kerap kali melanda istrinya. Ia tahu dan paham kalau istrinya memang tipikal orang yang aktif. Dan suka melakukan berbagai kegiatan yang positif dan bermanfaat tentunya.
"Hy Kak dan Kakak ipar!" Edward terlihat baru saja turun dari tangga. Sepertinya baru saja mandi, karena masih ada bulir-bulir air di rambut hitamnya. Dan wangi parfum maskulin yang begitu melekat menusuk Indra penciuman Nadya.
"Hy Ed, bau parfum milikmu sangat menyengat. Kau hendak kemana? Tidak biasanya serapi ini!" Karena melihat hal yang berbeda dari biasanya, Nadya pun bertanya kepada adik iparnya itu. Pun sama dengan Brydan yang sedari tadi masih lekat memandang adiknya.
"Aku mau cari pacar baru, Kakak ipar," dan benar saja, jawaban Edward membuat kedua mata Nadya membulat sempurna.
"Becanda, Kak. Malam ini aku mau ajak Fanny dinner di luar." Dasar adik ipar kurang dihajar. Membuat orang panik saja. Pikir Nadya.
Sedangkan Brydan, ia sudah tahu adiknya pasti bercanda. Tidak mungkin sang adik pindah ke lain hati. Sedangkan sudah begitu tergila-gila pada Fanny. Adiknya bukan tipe orang yang mudah mencintai. Dan juga tipe orang yang tidak mudah untuk melupakan.
Nadya dan Brydan sudah mulai menyantap hidangan yang disajikan. Sedangkan Edward sudah keluar beberapa menit yang lalu bersama Fanny.
***
Usai sudah drama makan malam hari ini. Nadya bahkan sudah memejam mata sejak beberapa menit yang lalu. Sedangkan Brydan masih setia mengelus pipi istrinya. Dengan lembut, ia kecup pipi chubby itu.
"Mungkin masih banyak yang lebih cantik dari dirimu, di luar sana. Tetapi bagiku, kau adalah yang paling sempurna di antara mereka semua." Gumamnya tanpa ia sadari. Mulutnya sepertinya sudah berbisa, sejak kapan ia bisa berkata semanis itu? Wanita yang kini berada di dekapannya itu memang membawa banyak perubahan dalam hidupnya.
"Ah ya, aku punya sesuatu untuk nya. Hampir saja lupa." Brydan membelikan sebuah jam tangan untuk snag istri. Jam tangan cantik berbahan emas dengan sedikit berlian yang bertaburan di sisi kanan dan kirinya. Jangan tanya harganya, hanya sultan yang mampu membeli jam semahal itu.
__ADS_1
Brydan mengambil sebuah kotak yang berisikan jam tangan itu di tas kerjanya. Ia melangkah menuju meja rias istrinya. Bermaksud untuk meletakkan kotak itu di dalam buffett di meja rias.
Namun, saat hendak menutup kembali buffett, Brydan melihat benda aneh. Seperti pil, ditaruh di dalam sebuah wadah tabung transparan. Brydan pun mengambilnya.
Pil apa ini? Kenapa Nadya tidak memberitahu aku kalau dia mengonsumsi obat tertentu? Apa dia punya penyakit? Atau ini hanya vitamin? Aku harus memastikannya!
Untuk memastikan pil itu, akhirnya Brydan mengambil satu dari pil itu. Untuk ia berikan kepada Dendy, agar Dendy memastikan kepada Meysha.
Brydan menaruh pil itu di dalam jas kerjanya. Setelah ia masukkan ke dalam wadah kecil. Awas saja jika sang istri sampai macam-macam. Pikirnya.
Namun Brydan masih mencoba untuk positive thinking, siapa tahu itu hanya vitamin.
Brydan pun kembali naik ke ranjang, memakai selimut dan merengkuh sang istri. Kemudian memejam matanya dan bersiap untuk kembali beraktivitas esok hari.
Benar-benar ajaib, wangi tubuh istrinya bisa membuatnya nyaman. Dan lama-kelamaan akan tertidur dengan nyenyak. Entah kenapa wanita itu begitu wangi, baik itu rambut atau badannya.
***
"Saatnya bangun, Nadya, emhhh..." Nadya merentangkan kedua tangannya. Ia gerakkan badannya ke kanan dan ke kiri. Begitu juga dengan kepalanya. Perlahan kesadarannya sudah kembali, ia kembali menilik jam di handphone nya. Masih menunjukkan pukul 6 pagi.
Dua puluh menit berselang, Nadya pun selesai dan sekarang ia tengah memoleskan makeup natural untuk wajahnya. Dengan sedikit lipstick berwarna peach. Membuat wajahnya semakin berseri-seri. Menampilkan aura positif dari seorang Nadya.
"Saatnya membangunkan, Pangeran tidur."
"Sayang, ayo bangun! Saatnya untuk mandi, Cintaku." Nadya sudah tahu pasti, membangunkan suaminya itu bukan hal yang mudah. Dengan kasih lembut Nadya kembali berseru.
"Sayang, bangun atau..." Belum selesai Nadya bicara, Brydan sudah mengerjakan matanya.
"Ehmm, atau apa?" Ucap Brydan dengan suara khas orang bangun tidur. Serak-serak basah.
Nadya menutup hidungnya, "Sayang, bau mulutmu!"
Bukannya segera mandi, Brydan malah semakin menyemburkan hembusan angin dari mulutnya ke arah Nadya. Nadya berusaha menghindar, hingga dirinya tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
"Hahaha, Sayang sudah bau mulutmu membuat aku pingsan. Sana mandi, aku mau turun untuk menyiapkan sarapan mu!"
Setelah menyiapkan setelan jas kerja suaminya, Nadya segera berlalu untuk membantu Pak San.
***
Brydan kini sudah berada di dalam ruangannnya. Ya, ia sudah sampai di kantor satu jam yang lalu. Kini ia tengah menilik pil yang kemarin ia ambil dari meja rias istrinya. Begitu pun dengan Dendy yang berdiri tepat di hadapannya. Dendy bukan seorang dokter, mana tahu dia mengenai pil itu.
"Den, kau bawa pil ini pada Meysha. Tanyakan kejelasannya!"
"Baik, Tuan." Dendy akan segera mendatangi rumah sakit tempat Meysha praktek. Dan menanyakan kejelasan mengenai pil yang tengah ia pegang itu.
Dendy pamit undur diri untuk segera pergi ke rumah sakit. Rumah sakit tempat Meysha praktek adalah rumah sakit ternama ibukota. Dimana Robson.Drction adalah penanam saham terbesar.
***
Brydan masih setia dengan segudang pekerjaannya. Belakangan ini, pekerjaannya memang menumpuk. Walaupun ia sudah berusaha untuk menyelesaikan semuanya. Tetapi tetap saja, masih tersisa beberapa file lagi. Sampai ia tidak sempat menyentuh istrinya sama sekali belakangan ini. Ia rindu istri kecilnya itu.
Ah kenapa aku merindukan dia? Beberapa hari ini aku tidak bisa menggempurnya karena file-file sialan ini! Batinnya, dia tersenyum smirk. Sepertinya Nadya akan dilahap habis malam ini.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC.