
"Apa benar Naddie bukanlah putri kandung kalian?"
"Bukan, Nak Brydan!"
Jawaban yang terlontar dari mulut Uncle Gerald, sungguh mengejutkan Brydan dan Nadya. Mereka berdua memutuskan untuk datang langsung ke rumah kedua orang tua Naddie. Dan menanyakan kejelasan semua ini.
"Lihatlah foto ini. Pada saat kecil, Naddie sama sekali tak mirip dengan kami!" Aunty Karin terlihat seperti menatap kosong pada sang suami. Sedangkan Uncle Gerald sendiri sesak mengatakan kenyataan ini.
Mereka tunjukkan foto kecil Naddie. Nadya dan Brydan mengambil foto itu.
Deggg.
"I.. ini adalah foto adikku semasa kecil, Sayang." Nadya berkaca-kaca.
"Bey, jangan menangis. Kamu harus kuat." Seraya mengusap bahu istrinya untuk menyalurkan kekuatan pada sang istri. Ia tahu istrinya tidak selemah itu.
"Jadi, pada saat itu. Kami ini sudah menikah bertahun-tahun, tetapi kamu tidak dikaruniai seorang anak. Saat kami perjalanan ke proyek baru kami, di sebuah desa. Kami bertemu dengan pasangan suami istri, mereka membawa anak perempuan cantik." Aunty Karin menangis, ini terlalu menyesakkan.
"Mereka menghampiri kami, dan mereka bilang agar kami merawat putrinya. Karena putrinya mengalami penyakit kuning dan juga anemia. Karena ia lahir prematur. Mereka tak sanggup membayar biaya rumah sakit untuk merawat putrinya, jadi dengan senang hati. Kami menerimanya."
Uncle Gerald mengusap air mata yang keluar dari pelupuk matanya. Ia juga memeluk sang istri seraya menenangkan hati istrinya.
"Baiklah kalau begitu, Aunty dan Uncle. Kami pamit pulang dulu." Nadya beranjak, ia cium tangan kedua orang tua itu. Begitupun dengan Brydan yang melakukan hal sama seperti sang istri.
Mereka keluar dari kediaman Uncle Gerald dengan membawa sejuta pertanyaan di benak masing-masing.
"Bey, kenapa hatiku merasa ada yang janggal. Jika Naddie memang adikku seharusnya aku memiliki ikatan batin dengannya. Namun, pada saat-saat tersulit seperti ini pun aku tidak merasakan apapun." Dalam perjalanan Nadya masih terus memikirkan hal ini.
"Sekarang aku mau tanya, bagaimana perasaan kamu jika melihat Edward menangis kesakitan?" Brydan menoleh, ia segera saja menjawab.
__ADS_1
"Tentu saja aku merasa sakit, rasanya air mataku juga ingin keluar dan rasanya sangat sesak."
"Tapi kenapa aku tidak merasakannya? Kemarin saat Naddie menangis tersedu-sedu. Bahkan aku sama sekali tak merasakan apapun." Nadya seraya melirik ke arah Brydan.
"Tenang saja, Bey. Kita akan membuktikan ini bersama. Aku punya rencana." Brydan menepikan mobilnya, kemudian ia membisikkan sesuatu ke telinga istrinya. Nadya mendengarkan rencana Brydan dengan saksama. Seraya manggut-manggut mengerti.
"Kau paham, kan?"
"Aku paham, Sayang!"
"Mulai sekarang, kita harus menjalankan rencana ini. Aku juga akan ajak semua orang mansion dan Dendy untuk ikut melakukan rencana kita ini." Brydan sungguh-sungguh ingin membuktikan, apakah Naddie hanya sandiwara atau sungguh-sungguh.
"Tentu, Sayang. Terimakasih telah membantuku. Tanpa kamu, aku tidak tahu lagi, apa yang harus aku lakukan." Nadya melepas seatbelt nya. Kemudian ia kaitkan kedua tangannya ke leher suaminya.
"Kau adalah istriku! Sampai kapanpun aku tak akan membiarkan kamu berjuang sendiri. Aku akan selalu ada untukmu, Bey. Ingatlah seburuk-buruknya aku, tak pernah sekalipun tega membiarkan istriku berjuang sendiri." Sahutnya.
Akhirnya Brydan menelpon Dendy, ia memberitahu segala sesuatunya kepada Dendy dengan saksama. Tentu saja, Dendy si otak encer itu langsung paham. Sekarang waktunya untuk membalas perlakuan Naddie.
***
"Selamat pagi, Nyonya dan Tuan." Dendy yang baru saja datang ke mansion Brydan. Ia mengantar file yang harus ditandatangani langsung oleh Brydan.
"Oh, Anda kedatangan tamu ya Nyonya?" Sekuat mungkin ia menjelma menjadi ibu-ibu komplek yang suka nyinyir.
"Den, perlakuan dia dengan baik!" Brydan muncul dari arah tangga.
"Tentu Tuan."
"Naddie, kemarilah." Nadya memanggil Naddie yang terlihat bengong di belakangnya.
__ADS_1
"Ah baiklah, Nadya. Apa kita akan memasak?" Ujar Naddie. Ia memasang senyum termanisnya hari ini.
"Sekarang kita akan langsung makan." Mereka duduk di kursi masing-masing dengan hidangan yang sudah tersaji di meja makan.
"Nad--" Brydan mendelik tidak suka. Saat Naddie hendak berbicara ketika waktu makan dimulai.
"Ah maafkan aku!"
"Tidak ada yang boleh berbicara saat makan!" Suara rendah Brydan menggem di seluruh ruangan.
Acara sarapan, dilakukan dengan keheningan. Tak ada satu pun yang berani bersuara. Kecuali suara kecapan bibir dan dentingan alat makan.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
YOK RAMAIKAN! VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH!💖 Dilanjut nanti.
__ADS_1