Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
ISD-11


__ADS_3

"Tuan?"


"Heuh, kau memasak? Jangan terlalu lelah, nanti anakku juga lelah!"


Aku tahu kau hanya mempedulikan anakmu, tetapi setidaknya kau juga mempedulikan aku karena anakmu ada di dalam rahimku.


Tica tersenyum, pagi ini wanita itu kembali menjalani rutinitas paginya seperti dulu, saat ia lajang. Ia akan bangun pagi dan memasak sarapan di pagi hari. Namun bedanya kini ia harus memasak untuk dua porsi. Hari ini, Tica memasak sayur kangkung dan lauknya adalah perkedel, makanan tradisional yang terbuat dari bahan dasar kentang.


Dendy yang sudah rapi dengan setelan jas yang tadi Tica pilihkan, dan juga rambut klimis yang menambah pesona pria itu. Dan mata hijau itu, sangat memabukkan. Tica tak pernah menampik ketampanan pria itu.


Dendy mendudukkan dirinya di kursi meja makan, ia mengamati sang istri yang tengah menata makanan. Dan mengambil nasi beserta sayur dan lauk untuk Dendy, pria itu tetap bertopang dagu seraya tersenyum tipis.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


Sial! Ternyata Tica memperhatikan aku diam-diam. Mengelaklah Dendy!


"Aku bukan memperhatikanmu, tapi aku memperhatikan antingmu, itu terlihat bagus."


"Ah antingku yah, ini warisan dari nenek dulu. Sebenarnya aku tidak terlalu suka pakai perhiasan, ini hanya untuk menghargai mendiang nenekku."


Setelah mengambil lauk dan sayur, Tica menggeser piring itu ke arah Dendy. Namun pria itu terlihat mengernyit heran, sembari menatap ke arah makanan yang baru saja disodorkan oleh Tica ke arahnya.


"Sayur apa ini? Dan ini juga lauk apa? Kenapa bentuknya oval?"


Dendy menyomot satu perkedel dari piringnya dan menilik benda asing itu. Bagi pria itu, perkedel adalah sesuatu yang asing. Karena seumur hidup, baru kali ini dia melihat sayur dan lauk seperti yang dimasak oleh Tica itu.


"Ah, itu namanya Perkedel dan juga sayur kangkung, Tuan!"


Mungkin suaminya itu kebanyakan hidup mewah, makanya tidak tahu makanan orang desa, pikir Tica. Ia tidak heran karena Dendy memang berasal dari keluarga yang berkecukupan. Apalagi pria itu yang notabenenya adalah tangan kanan tuan Brydan, yang merupakan orang paling berpengaruh di dalam atau luar negeri. Pasti gaji yang diberikan Brydan tidak main-main jumlahnya.


"Oh! Aku baru dengar sayur jangkung ini."


"Ish, kangkung Tuan! Bukan jangkung."


"Tuan, makanya harus ngerasain hidup susah, baru tahu sayur itu."


"Hidup susah? Hidup akan susah jika bernapas menggunakan rumus!"


"Ah terserahlah, yang penting makan itu!"


Dendy akhirnya mencoba sesuap nasi dengan sedikit sayur dan juga lauk. Sekali suap masih belum terasa, namun suapan kedua kalinya baru terasa. Ternyata sayur itu sangat nikmat, apalagi dipadukan dengan perkedel kentang itu. Dendy tidak menyangka, ternyata sayur itu lebih enak dari capcay.


"Enak?"


"Enak! Aku mau bekal!"


"Bekal ke kantor? Tumben minta bekal!"

__ADS_1


"Jadi aku tidak boleh memakan masakan istriku sendiri."


"Jangan menggodaku, nanti naksir."


Tica berdiri setelah menyelesaikan makan paginya, ia mengambil kotak bekal dan menyiapkan bekal untuk suaminya. Ia juga membuat jus jambu tanpa gula untuk suaminya.


"Kenapa jus jambu? Di kantor biasanya hanya air putih atau teh jika aku mau."


"Jus jambu baik untuk kesehatan, bukan berarti air putih tidak baik untuk kesehatan. Keduanya sama-sama baik untuk kesehatan, jambu juga bisa untuk menambah trombosit sedangkan air putih untuk mencegah dehidrasi. Jadi jika aku menggabungkan air putih dan jambu menjadi jus, nanti Anda akan mendapatkan dua manfaat sekaligus! Selain Anda tidak akan dehidrasi, trombosit Anda juga akan bertambah!"


Dendy tercengang, sejak kapan wanita bar-bar itu menjadi cerdas, pikir Dendy. Apa istrinya itu memiliki dua kepribadian, sekarang cerdas satu jam kemudian pasti akan bar-bar lagi.


"Sejak kapan kau jadi cerdas?"


"Sejak aku menikah dan tinggal bersama Tuan Perfeksionis!"


"Lebay!"


"Siapa?"


"Kau!"


"Tanya, hahaha..."


Tica menaruh bekal suaminya di dalam sebuah tas kecil, sudah lengkap bersama botol jus jambu. Untuk seorang istri, merupakan kebanggaan tersendiri jika suaminya memuji masakannya. Apalagi sampai minta untuk dibawa kerja.


"Kalau tidak?"


"Ya sudah terserah!"


"Aku akan menghabiskan makanannya. Karena aku tidak suka membuang-buang makanan."


"Baiklah, sudah sana berangkat."


Dendy akhirnya berangkat dengan membawa tas kecil. Ia mengendarai mobil dan melaju menuju mansion Brydan. Lima belas menit, mobilnya telah berhenti di parkiran mansion Brydan. Pria jangkung itu turun dengan membawa tas kecil berisi bekal.


"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya."


"Pagi Den, tumben kau membawa tas?"


"Ini dari istri saya, Nyonya. Bekal untuk bekerja."


"Apa?"


Brydan terkejut, seorang Dendy membawa bekal? Bahkan tidak ada dalam sejarah hidup Dendy, kerja membawa bekal. Karena Dendy itu orangnya tidak suka ribet, pria itu akan makan dimana pun dan kapan pun, asalkan tidak perlu menenteng sebuah tas.


"Ini bekal, Tuan."

__ADS_1


"Kau membawa bekal? Apa isinya?"


"Ah ini sayur jangkung dan perdedel."


"Sayur jangkung?"


Kini giliran Nadya yang mengernyitkan dahi, mana ada sayur jangkung. Apa sayur itu tinggi dan memiliki kaku panjang?


"Iya Nyonya."


"Kangkung atau jangkung?"


"Saya lupa, namanya kangkung bukan jangkung."


"Itu perkedel bukan perdedel."


"Sayang, Dendy mendapatkan bekal dari istrinya. Tapi kenapa aku tidak?"


"Ini hanya khusus untuk saya, Tuan. Istri saya memasak makanan yang sangat lezat, dia bilang ini masakan dari kampungnya."


Ini kesempatan, Dendy semakin mengompori tuannya itu.


Akhirnya, Nadya mengambil sebuah kotak bejal dan menyiapkan bekal untuk suaminya itu. Yang kini lebih layak disebut bayi besar. Karena pria itu semangkin lengket kepada sang istri, semenjak istrinya hamil.


"Di mansion tidak ada kangkung, Sayang. Dan tadi aku juga tidak membuat perkedel. Adanya hanya nasi goreng."


"Baiklah tidak apa, yang penting bawa bekal seperti Dendy."


Nadya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah atasan dan bawahan itu. Mereka berangkat bukannya membawa tas kerja, tetapi menenteng tas bekal masing-masing.


Walaupun suaminya bertambah sedikit manja, namun Nadya hanya meladeni saja. Ia tahu, perasaan senang suaminya saat mendengar dirinya hamil. Pria itu bahkan begitu tidak sabaran menanti kelahiran buah hati pertama mereka. Setiap malam, lelaku itu akan memijat kakinya atau mungkin mengelus perut Nadya yang sudah sedikit buncit.


Bahkan suaminya sekarang menjadi begitu posesif, untuk memasak saja Nadya mempunyai jadwal. Suaminya melarang dirinya melakukan hal berat atau hak ringan sekalipun. Katanya, ia tidak mau anaknya lelah dan istrinya kenapa-napa.


Dan satu lagi, kini kamar Brydan dan Nadya tidak lagi berada di lantai atas. Tetapi di lantai bawah, Brydan tidak mau istrinya lelah karena naik turun tangga. Apalagi resiko jika sampai terjadi hal tidak diinginkan, lebih baik mencegah daripada mengobati.


.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH! 💖 LOPE YOU GUYS!


__ADS_2