
"Baiklah, aku tidur yah. Selamat malam." Kata terakhir yang diucapkan Nadya. Jangan lupakan Nadya juga memberi kecupan kecil di pipi dan dahi Brydan. Brydan memang senang dengan perlakuan istrinya, tapi gengsi nya masih seluas lautan. Jadi dia hanya menjawab deheman saja.
_____________________ 00 _____________________
Langit yang tadinya gelap, sudah berubah cerah. Matahari terlihat semangat untuk menampakkan dirinya. Menyinari bumi dan menghangatkan kehidupan. Sama seperti sepasang suami istri yang kini tengah saling menghangatkan satu sama lain. Baik Nadya maupun Brydan, tidak ada yang mau membuka matanya. Mereka masih saling berpelukan di atas tempat tidur. Hingga perut bagian bawah Nadya sedikit sakit, barulah dia membuka matanya.
"Shhh, awww." Erangan Nadya sudah mulai terdengar. Menandakan sang pemilik raga akan segera bangun dari tidurnya. Brydan yang mendengar istrinya merintih langsung membuka matanya.
"Bey, mana yang sakit?" Ujarnya dengan khawatir.
"Tidak apa apa Sayang, hanya sedikit ngilu." Jawab Nadya yang tidak ingin membuat suaminya khawatir. Untuk mengurangi rasa sakit istrinya, Brydan mengusapkan minyak kayu putih ke perut bagian bawah istrinya.
"Sayang, aku ingin tidur lagi. Perutku masih sakit, biasanya kalau aku sedang menstruasi. Aku akan tidur sepuasku." Ucap Nadya dengan suara pelan. Sambil menahan sakit di perutnya.
"Baiklah, tapi makan dulu. Pak San akan mengantarkan sarapan mu!" Titah Brydan dan diangguki oleh Nadya.
Tidak heran memang jika Brydan lebih suka sarapan dengan nasi, karena sedari dia kecil ibunya sudah membiasakan Brydan untuk makan nasi. Dan satu lagi, Brydan tidak terlalu suka roti dengan selai karena itu tidak mengenyangkan menurutnya. Begitupun dengan Nadya, kalau bisa disebut Brydan ini adalah bule lokal. Haha.
Brydan hanya sesekali ke Amerika untuk mengunjungi makam Grandma dan Grandpa nya. Dan juga untuk mengontrol bisnis nya yang ada di Amerika.
Pak San baru saja datang untuk mengantarkan sarapan pagi Nadya dan Brydan, dan tidak lupa segelas madu hangat untuk Nadya. Brydan mengambil Makanan Nadya dan mulai menyuapi istrinya. Walaupun Nadya menolak, karena dia tidak mau Brydan terlambat ke kantor.
"Ini masih pagi, aku tidak akan terlambat!" Ujarnya pada sang istri.
"Kau tidak perlu khawatir, Pak San akan menyiapkan segala sesuatunya." Yang dimaksud Brydan Adalah keperluan dirinya untuk ke kantor. Biasanya sang istri lah yang menyiapkan. Tapi berhubung kondisi Nadya tidak memungkinkan, jadi seperti sebelum Brydan memiliki seorang istri, Pak San akan menyiapkan segala sesuatunya.
Brydan menyuapi istrinya dengan telaten, dan memberikannya madu hangat setelah makanannya habis. Setelah istrinya kembali tidur, barulah dia mandi dan memakai apa yang sudah dipersiapkan oleh Pak San. Dia mengecup dahi istrinya, karena dia iba melihat istrinya, jadi Brydan pikir tidak perlu membangunkan Nadya.
"Ayo Den!" Ucap Brydan kepada Dendy yang sudah menunggu di sofa ruang tamu seperti biasa.
Di perjalanan ke kantor__
"Tuan, kalau boleh tau kenapa Nyonya kecil tidak mengantar?"
"Dia sedang tidak enak badan, Den!"
"Owhh, semoga Nyonya kecil cepat sembuh, Tuan."
"Apa perlu saya panggil Doker Meysha?"
__ADS_1
"Tidak perlu, Den. Dia bilang tidak apa-apa."
"Baiklah."
Sesampainya di kantor, baik Brydan maupun Dendy sudah berkutat dengan berkas-berkas yang terlihat sedikit menumpuk. Mereka berdua memang sungguh-sungguh dalam bekerja. Brydan tidak pernah mencampur adukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Begitupun dengan Dendy, dia tidak akan membantah tuannya itu.
***
Tepat di sore hari, Brydan dan Dendy sudah bersiap untuk pulang.
"Jalan Den!" Dan mobil pun mulai melaju dengan kecepatan sedang.
"Tuan saya pamit pulang dulu, sampaikan salam saya untuk Nyonya kecil." Ucap Dendy ketika mobilnya sudah sampai di area mansion Brydan.
"Tentu." Sahut Brydan.
Seperti biasa, Brydan akan memanggil Fanny untuk menjelaskan semuanya.
"Nyonya tidak melakukan apapun, Tuan. Beliau tidur sepanjang hari, dan baru saja terbangun. Setelah membersihkan diri, Nyonya langsung ke taman belakang. Nyonya bilang ingin menghirup udara segar." Laporan Fanny kepada Brydan.
"Baiklah kau boleh pergi." Jawab Brydan.
"Bagaiman perutmu?" Tanya Brydan sembari mengusap kecil kepala sang istri. Nadya yang sedang menikmati pemandangan taman, langsung menoleh ke arah Brydan.
"Sudah lebih baik, terimakasih atas perhatian mu selama aku sakit." Ucap Nadya dengan tulus. Brydan hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Sepertinya gunung es sudah setengah mencair.
"Maaf aku tidak menyambut kedatangan mu. Bagaimana pekerjaanmu, Sayang?"
"Tidak apa-apa, pekerjaanku baik."
"Bey, kau sudah makan siang?"
"Sudah, bagaimana denganmu?"
Syukurlah, dia tidak sedingin dulu lagi. Gunung es nya sudah mulai mencair, perlahan tapi pasti. Sebentar lagi dia pasti akan berubah menjadi pribadi yang hangat.
"Berapa lama ini akan berlangsung?" Tanya Brydan kepada Nadya.
"6-7 hari, Sayang."
__ADS_1
"Lama sekali aku harus libur?"
"Hahaha, sabar Sayang." Ucap Nadya sembari memeluk Brydan dan menepuk kecil punggung Brydan.
"Ayo kita masuk, langit sudah mulai gelap."
"Ayo Sayang."
"Pak San, tolong antar kan makan malam kami ke kamar." Ucap Brydan pada Pak San.
Setelah menyelesaikan makan malam. Brydan dan Nadya hanya duduk bersantai di dalam kamar. Bersandar pada kepala ranjang dengan posisi yang membuat jiwa jomblo meronta-ronta.
Nadya menyandarkan kepalanya di dada bidang Brydan, dan Brydan hanya sesekali mengecup pucuk kepala Nadya.
"Sayang kau tidak mau menceritakan tentang dirimu kepadaku?" Tanya Nadya tiba-tiba.
"Nanti." Hanya itu yang keluar dari mulut suaminya. Nadya masih memakluminya.
"Bagaimana kamu bisa bertemu sekertaris Dendy?" Tanya Nadya. Karena dia sungguh heran dengan manusia yang satu itu. Sungguh patuh dan taat kepada tuannya, bahkan dengan setia menunggu tuannya. Siapa lagi kalau bukan Sekertaris Dendy.
"Nanti akan ku ceritakan." Jawaban yang sama seperti tadi lagi-lagi keluar dari mulut Brydan.
"Sayang apa kamu sudah mencintai diriku?"
"Apa aku perlu menjawab?" Brydan sungguh heran, apakah Nadya tidak merasakan perlakuan istimewa yang diberikan olehnya? Apakah semua harus diungkapkan dengan kata-kata? Brydan bukanlah pria romantis yang pandai merangkai kata-kata. Jika dibandingkan, lebih baik mengerjakan setumpuk dokumen daripada mengatakan kata-kata romantis. Pikir Brydan.
Jika tidak ada Dendy, mungkin dia akan memperlakukan Nadya sama seperti karyawan di kantornya. Tapi berkat file yang Dendy berikan, dia jadi tahu bagaimana cara mengungkapkan cinta. Jika menurut semua orang Brydan adalah lelaki yang aneh, tapi tidak bagi Dendy. Brydan sudah menganggap Dendy seperti saudara sekaligus sahabatnya.
"Tidak perlu." Nadya sudah tahu bahwa Brydan tidak akan mencintai dirinya. Buktinya sudah terlihat dari jawaban Brydan. Sekarang pemikiran mereka berdua berbeda.
Jika dipikiran Brydan, dia sangat mencintai istrinya. Tapi dipikiran Nadya, Brydan sama sekali tidak mencintainya. Begitulah wanita, dia butuh kata-kata sebagai bentuk kepastian, bukan berarti wanita tidak bisa berlogika. Hanya saja mereka lebih mengutamakan perasaan daripada logika. Oleh karena itu, wanita sering disebut sebagai malaikat tak bersayap.
♡(ӦvӦ。)♡(ӦvӦ。)♡(ӦvӦ。)
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like, komen and votenya yah 😁
Makasih ✨🤗
__ADS_1
IG: @cynshindi