Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-77 Pembalasan untuk ular betina.


__ADS_3

"Selamat bekerja, Sayangku." Nadya berjinjit, ia kecup bibir dan kedua pipi suaminya. Brydan hanya tersenyum, kemudian ia kecup balik bibir istrinya. Namun, tanpa aba-aba tiba-tiba Naddie maju, dan memeluk Brydan.


"Selamat bekerja Brydan dan Dendy." Naddie mengucapkan hal itu seakan tak memiliki dosa. Walaupun ia telah memeluk suami orang.


Brydan menggeram, jika saja bukan karena kemauan istrinya. Ia tidak sudi dipeluk oleh wanita kotor itu. Dengan segera ia lepaskan rengkuhan itu. Istrinya seakan memberikan tatapan aneh, seraya mengisyaratkan agar Brydan tetap sabar menghadapi ular betina satu itu. Agar rencana mereka bisa berjalan dengan cantik dan lancar.


Jika bukan karena aku membutuhkanmu, sudah aku tendang kamu ke habitat aslimu, ular betina!


"Ehm Naddie, nanti sore kita masak, yah?" Ujar Nadya. Entah apa rencananya, hanya dia dan Tuhan lah yang tahu. Intinya ia harus sebisa mungkin merayu Naddie agar rencananya terlaksana dengan sempurna.


"Ahh tentu, kamu ingin memasak apa? Aku hanya bisa menemani, karena aku tidak pandai memasak, Nadya." Sahutnya dengan santai. Fanny yang sedari tadi berdiri di sisi Nadya, sudah terlihat geram.


Kau pikir kau itu siapa? Kau ingin terlihat seperti nyonya di mansion Tuan Brydan. Dan menjadikan Nyonya Nadya sebagai pelayanmu? Lebih baik kalau tadi aku campurkan sianida di minumanmu!


Kau pikir aku pelayanmu? Jangan sok keras kalau masih engga bisa masak! Dasar ular betina jadi-jadian.


Akan aku jadikan kau sebagai pelayanku. Aku pasti akan merebut Brydan dari pelukanmu! Ingatlah bahwa Brydan hanya milik Naddie seorang.


Mereka bertiga menggerutu dalam benaknya masing-masing. Nadya yang merasa kesal setengah hidup, akhirnya langsung saja melangkah pergi kembali ke kamarnya. Ia hendak melakukan sesuatu tentunya.


"Fan ayo, Naddie kami ke atas dulu, yah." Fanny membututi Nadya, namun ia tetap melengos saat melihat ke arah Naddie.


"Baiklah." Sahutnya. Naddie sama sekali tidak peduli walaupun Fanny melengos ke arahnya. Toh, ia bukan menargetkan Fanny, melainkan Nadya yang ia targetkan.


Saat ia hendak menapakai salah tangga ketiga dari bawah, Fanny mencegatnya. Ia terkejut dan akhirnya ia pun berhenti melangkah, ia menoleh ke arah Fanny.

__ADS_1


"Ada minyak di anak tangga yang hendak Anda pijak, Nyonya." Fanny menunjuk ceceran minyak itu. Nadya sontak terkejut bukan main, entah siapa yang menumpahkan minyak sebegitu banyaknya di tangga. Akan bahaya jika tadi ia menginjak minyak itu, bisa-bisa dirinya terjatuh.


"Kita jebak dia balik, Nyonya." Fanny menyeringai licik.


"Fan, jangan tersenyum begitu, kau membuatku takut." Siapa sangka, dibalik sikap cueknya. Ternyata Fanny juga bisa menjadi seseram itu, Nadya menepuk bahu Fanny.


"Apa yang kau lakukan padanya, Fan?" Sahut Nadya. Ia seperti tak melihat gelagat aneh dari Fanny. Sebenarnya apa yang telah direncanakan oleh bodyguardnya itu.


"Anda akan segera tahu, Nyonya. Hitung dari tiga... Dua.... Satu... Mulai."


"Arghhhhh......" Tiba-tiba terdengar teriakan yang begitu nyaring dan kencang saat Fanny berhenti menghitung. Nadya tahu jelas kalau itu adalah suara Naddie dan suara itu berasal dari kamar Naddie di lantai bawah.


"Apa yang terjadi, Fan?" Tanya Nadya, kenapa Naddie sampai berteriak sekencang itu? Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Fanny. Pikirnya.


"Tidak ada Nyonya, saya hanya menaruh beberapa kecoa di bawah bantalnya. Hahaha... Sebenarnya tadi saya melihat jelas, ular keket itu menuangkan minyak di tangga ini, saat Anda tengah mengantarkan Tuan Brydan ke pintu utama mansion."


"Tentu saja saya berpura-pura tidak melihat dan saya sengaja mengumpulkan kecoa dari gudang belakang, kemudian saya masukkan ke dalam wadah plastik. Saya mengendap-endap masuk ke dalam kamar Naddie, saat dia berada di pintu utama tadi. Kemudian saya taruh semua kecoa itu di bawah selimut dan bantalnya." Nadya sontak tertawa mendengar kelakuan Fanny.


"Hahaha... Terimakasih ya, untung ada kamu, engga jadi jatoh deh."


"Sama-sama Nyonya, sudah tugas saya melindungi Anda." Sahut Fanny. Kemudian mereka melangkah perlahan ke atas. Kalau tidak mereka bisa jatuh. Fanny terus saja memegangi Nadya dari belakang, khawatir wanita berharga itu akan jatuh. Kalau Nadya sampai jatuh, Brydan bisa mengguyurnya dengan minyak itu.


"Fan, ayo ganti sepatumu, aku akan mengganti sandalku."


"Baik Nyonya." Fanny dan Nadya mengganti alas kaki yang tadi telah menginjak minyak.

__ADS_1


Kurang dihajar wanita ular itu! Kalau saja Nyonya tidak menyuruhku untuk menahan emosi. Sudah aku tenggelamkan wanita itu ke dalam lubang buaya!


Nadya meminta pelayan mencuci alas kaki bekas minyak tadi. Ia juga meminta beberaoa pelayan untuk membersihkan minyak yang berceceran di atas anak tangga. Dan dirinya juga Fanny mengenakan alas kaki yang lain.


.


.


.


.


.


.


.


TBC!


YOK RAMAIKAN! VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH!💖


Kuy mampir ke karya othor yang lain, tenang aja masih di NT kok!


__ADS_1



Para readers tercinta, kalian dapet salam dari DEDEK cantik ya ~Aileen Shaquilla 💖


__ADS_2