Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-35 Sama bodohnya dengan yang dulu!


__ADS_3

Hari ini adalah awal pekan, hari terasa begitu panjang bagi orang-orang tertentu. Tapi juga hari yang menguntungkan untuk sebagian orang. Tapi tidak bagi Nadya, hari ini adalah hari paling sial dalam hidupnya. Kemarin Brydan memintanya untuk membuat rambut Brydan sama seperti dirinya. Dan sampai sekarang Nadya masih belum paham apa maksud dari perkataan Brydan.


"Ayo kenapa kau bengong?" Ujar Brydan yang sudah siap masuk ke dalam kamar mandi dan di treatment oleh Nadya. Tapi dia tidak tahu, bahwa sang istri belum juga paham atas permintaannya yang aneh itu.


"Eh iya, Sayang." Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Nadya masih bingung.


"Sayang maksud kamu bagaimana sih? Aku tidak paham!" Akhirnya Nadya memberanikan diri untuk menyampaikan uneg-uneg nya kepada Brydan.


"Kau ternyata tetap sama ya!" Kata Brydan yang kini sudah masuk ke dalam bath-up.


"Sama apa, Sayang?" Nadya lagi-lagi dibuat bingung. Sebenarnya Brydan yang terlalu kaku, atau dirinya yang bodoh?


"Sama bodohnya dengan yang dulu. Waktu pertama kita bertemu!"


"Ayo lakukan semua yang kau lakukan pada rambut mu, tetapi kau harus melakukannya pada rambutku." Jika begini baru Nadya paham. Kenapa tidak bilang dari kemarin sih. Hadeuh, Brydan sudah bilang dari kemarin. Tapi Nadya saja yang terlalu pintar.


Nadya duduk di belakang kepala Brydan menggunakan sebuah kursi kecil. Dia menuangkan shampoo secukupnya, memijatnya. Sekarang Nadya sudah persis seperti pegawai salon. Setelah itu, Nadya membilas busa di rambut Brydan. Dan dia menuangkan conditioner yang biasa dia pakai. Bodoamatlah walaupun conditioner itu dikhususkan untuk wanita saja. Yang penting dirinya tidak kena marah sang suami.


"Sudah, Sayang." Nadya beranjak dari duduknya dan bersiap keluar kamar mandi.


"Hmm."


Hanya begitu saja? Nadya menghentikan langkahnya dan menolah ke arah Brydan yang masih bersantai menikmati air di dalam bath-up.


"Sayang, kalau ada orang yang membantu dirimu. Kau harus bilang apa? Bukankah aku sudah memberitahu mu!" Ujar Nadya dengan tatapan tajam nya.


"Terimakasih." Akhirnya keluar juga, kata yang selama ini terpendam di dasar laut. Tanpa aiueo Nadya keluar. Selang beberapa menit, akhirnya Brydan sudah siap. Tinggal memakai sepatunya saja.


Brydan menunjuk rambutnya, dan Nadya masih berpikir apa yang dimaksud oleh suaminya itu.


1 menit, 2 menit, 3 menit.


Brydan kembali menunjuk rambutnya.


"Cium!" Kata Brydan.


Ish, kenapa tidak bilang sih dari tadi. Dia ini memang berbelit-belit. Dasar Gunung es setengah cair.


"Baunya sudah sama seperti milikku kok, Sayang." Nadya berucap sambil menciumi pusaran rambut suaminya. Persis seperti ayam yang sedang mematuk makanannya.


"Yang benar." Brydan ingin mencium juga, tapi dia tidak bisa. Akhirnya Nadya yang menjadi korban. Tapi korban yang satu ini berbeda, bukan korban kekerasan tapi korban pemaksaan. Hahaha.


"Benar, Sayang."

__ADS_1


***


"Selamat bekerja, Sayang." Nadya berjinjit untuk mencium pipi suaminya.


Setelah Brydan sudah berangkat bekerja, Nadya bersiap. Hari ini dia ada janji dengan Edward dan Tica. Kali ini dia ingin menolak, tapi dia tidak enak kepada Edward. Edward sudah berbaik hati selama mereka berteman. Nadya ingin menolak bukan karena apa, karena dia takut suaminya marah jika dia hang out terus. Ya walaupun hang out nya bukan ke mall atau tempat-tempat mewah. Hanya ke taman kalau tidak ke cafe.


***


"Hello guys." Nadya, Tica dan Edward sudah ready di kursi masing-masing. Kini mereka sedang berada di cafe. Cafe anak muda yang baru saja dibuka. Ide siapa lagi ini kalau bukan ide Edward.


"Apa kabar kalian?" Tanya Edward untuk membuka pembicaraan. Sebenarnya dia tahu teman-temannya itu baik-baik saja. Jangan tanya Edward tahu darimana, tentu saja dari grup rempong mereka bertiga. Setiap hari Edward akan memulai chat, dan akan ditanggapi oleh Tica atau Nadya.


"Baik." Sahut Nadya dan Tica.


"Kalian pesan saja, aku yang bayar." Kata Edward sok sultan. Edward lebih suka di cafe atau tempat makan yang sederhana daripada yang bintang lima. Karena bagi Edward makanannya juga biasa saja. Bukannya dia tidak sanggup membayar, tetapi karena dia tidak suka hal-hal yang berbau pemborosan. Jika hanya di cafe-cafe seperti saat ini, bahkan sepucuk uang Edward tidak akan habis.


"Ishh, kami tidak enak sama kamu. Kalau kamu terus yang membayar. Biar kami bayar sendiri saja." Kata Nadya mewakili Tica juga. Edward tersenyum tipis.


"Kalian tidak perlu begitu, santai saja. Aku tidak akan bangkrut kok jika hanya mentraktir kalian." Kata Edward sambil memanggil waiters.


"Mbak saya pesen Coffee satu. Ayo guys pesan saja. Kalau kalian tidak pesan, artinya kalian tidak menghargai aku." Dan dengan terpaksa Nadya dan Tica memesan salah satu minuman.


"Saya Strowberry milk, mbak." Nadya.


"Baik, silahkan ditunggu, yah." Sahut si pelayan.


"Ed, kamu kerja apa sih?" Tanya Tica, dia heran Edward ini sultan asli atau palsu. Begitupun dengan Nadya.


"Aku punya bisnis." Edward hanya menjawab singkat. Dan Tica mengangguk, dia ingin bertanya lebih dalam. Tapi dia tidak enak sendiri nanti dikira kepo.


"Bisnis apa, Ed?" Kali ini Nadya yang bertanya.


"Aku akan tunjukkan kepada kalian lusa ya." Edward tersenyum manis. Edward memang mempunyai sebuah bisnis, berawal dari keisengan saja. Hingga akhirnya dia benar-benar membangun bisnis itu.


"Baiklah." Tica dan Nadya. Tidak lama kemudian seorang pelayan datang memberikan pesanan mereka.


"Silahkan dinikmati." Kata si pelayan.


"Terimakasih." Edward, Nadya dan Tica.


Mereka bertiga bercengkrama, menceritakan segala hal. Sambil menikmati minuman yang mereka pesan. Sampai tidak terasa hari sudah muali menggelap. Akhirnya Nadya memutuskan untuk pamit pun dengan Tica.


***

__ADS_1


Sampainya di mansion, Nadya segera membersihkan dirinya. Memakai make-up dan jubah tidurnya. Dia bersantai di sofa ruang tamu bersama Fanny di sebelahnya.


"Fan ini bagus tidak?" Tanya Nadya sembari menunjukkan sebuah gambar di handphone nya.


"Bagus, Nyonya."


"Aku akan memesannya." Nadya memesan sepasang piyama kembar bercorak Zebra. Untuk dirinya dan juga sang suami. Entah suaminya mau atau tidak, dia pasti akan memaksanya. Hahaha.


Selama ini piyama yang Brydan pakai selalu polos. Tetapi jangan salah, harga dari satu piyama itu bisa mancapai puluhan bahkan ratusan dollar. Dan dapat dipastikan ekspresi Brydan saat memakai piyama bercorak Zebra itu pasti akan masam. Seperti ketiak basah. Fanny tersenyum tipis melihat kelakuan Nyonya nya itu. Sangat jahil sekali, seakan tahu bahwa Brydan tidak suka hal-hal yang kekanakan.


Nyonya ini jahil sekali. Sudah tahu tuan tidak suka hal yang berbau kekanakan. Tapi Nyonya menggemaskan, aku jadi tidak bisa marah.


"Fan, paket nya akan datang besok. Jadi kalau besok ada yang mengantar paket. Kau yang ambilkan yah." Ujar Nadya.


"Baik, Nyonya." Sahut Fanny


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG : @cynshindi

__ADS_1


nanti bakalan ada info kok perihal novel ini di sana.


__ADS_2