Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-69 Gempuran dahsyat!


__ADS_3

"Kau mengecewakan aku, Nadya!" Dengan raut kekecewaan yang mendalam, Brydan berkata demikian. Bukan hanya kecewa, tetapi Brydan juga marah. Suami mana yang tidak marah ketika mengetahui kebenaran, bahwa sang istri tidak mau mengandung benihnya.


Dengan emosi yang membara, Brydan melemparkan tubuhnya istri ke ranjang. Ia membuka semua kain yang melekat pada tubuhnya. Hingga ia benar-benar polos tanpa sehelai benang pun.


Melihat kilat kemarahan dalam manik suaminya, membuat hati dan pikiran Nadya menjadi kalut. Nadya takut bahkan sangat takut. Ia tak pernah melihat sang suami melakukan kekerasan. Sekalipun marah, Brydan hanya akan membentak saja, tapi ini kenapa suaminya sampai melemparkan dirinya ke ranjang.


Nadya meringsut, ia mundur semakin menyenderkan tubuhnya ke arah sandaran ranjang. Ia menekuk kedua lututnya.


"Kau tidak ingin mengandung benihku? Kau tahu, bahwa suami mu ini bukan pria penyabar, Nadya. Tetapi kau sama sekali tidak bisa memahami suami mu sendiri!" Brydan maju, ia tarik kaki Nadya, hingga wanita itu terlentang. Nadya memberontak, tentu saja ia tak mau dipaksa seperti ini.


Namun, tenaga yang dimilikinya tak setara dengan tubuh kekar suaminya. Brydan tidak bisa lagi berpikir jernih, ia kalut, ia marah, ia kecewa! Dengan kilatan amarah, ia tarik dress rumahan yang dipakai istrinya.


"Lepaskan aku, tidak Brydan! Aku tidak mau!" Teriaknya histeris. Namun nihil, Brydan sama sekali tak mengindahkan perkataan istrinya. Ia tetap memaksa istrinya, hatinya sakit, pikirannya juga kacau.


"Berhenti Brydan, biarkan ak---"


"Akhhhhh..." Belum sempat Nadya menjelaskan, Brydan sudah menyetubuhi dirinya. Keduanya sudah polos, dengan keras Brydan menghentakkan miliknya. Nadya hanya pasrah, nasi sudah menjadi bubur. Ia melakukannya dengan bercucuran air mata, sesenggukan dan erangan kesakitan.


Brydan terus memperlakukan istrinya dengan kasar, ia seakan dibutakan kemarahan. Rasa kekecewaan yang ia rasakan telah menyulut kemarahannya. Semarah apapun Brydan, ia tak pernah berlaku kasar pada seorang wanita. Tetapi istrinya, benar-benar sudah keterlaluan.


Jika Nadya memang belum siap untuk hamil, Nadya bisa mendiskusikan hal itu pada Brydan. Itu yang Brydan mau, Brydan mau istrinya jujur padanya untuk segala sesuatu.


Kenapa istrinya Setega ini padanya? Apa ia masih kurang baik dalam memperlakukan istrinya? Apa istrinya tak bisa melihat cinta dalam diri Brydan untuk Nadya?

__ADS_1


Brydan selesai dengan kegiatannya setelah satu jam berlalu. Ia menghempas tubuhnya di samping tubuh istrinya. Istrinya sudah terlelap dengan lelehan air bening yang masih tersisa. Ia rengkuh tubuh sang istri, jujur ia masih marah. Tetapi melihat kondisi sang istri yang mengenaskan, membuat hatinya tersentuh. Ia merasa bersalah, tetapi ini juga salah istrinya!


Brydan ikut terlelap dengan masih merengkuh erat tubuh Nadya. Seakan kemarahannya lenyap begitu melihat wajah mengenaskan istrinya. Brydan tidak akan semarah ini, jika saja wanita itu berdiskusi terlebih dahulu dengannya.


***


Sore harinya, Nadya terbangun. Ia melihat sang suami merengkuh tubuhnya dengan erat. Perlahan ia melepaskan rengkuhan Brydan, ia beranjak menuju kamar mandi.


"Kenapa dia sekasar ini, ashh..." Nadya terkejut, begitu banyak jejak di tubuhnya. Dasar pria itu! Nadya berendam di air hangat. Ia ingin merilekskan tubuhnya dahulu.


Aku tahu aku salah, tetapi dia juga tidak harus memperlakukan aku sekasar tadi! Jika saja dia memberikan aku kesempatan berbicara, aku akan menjelaskan semuanya! Bahkan dia tidak memberikan aku waktu satu menit saja untuk berbicara! Ini benar-benar gempuran dahsyat!


Nadya mungkin bersalah, tetapi Brydan juga keterlaluan! Pikir Nadya.


Nadya kecewa atas perlakuan suaminya. Ia marah kali ini.


"Akhhh--" Nadya terlonjak kaget, ternyata sosok yang ia cari, tengah berdiri tegak di belakang pintu kamar mandi.


Nadya melengos begitu saja, ia tak menghiraukan Brydan. Biar saja pria itu tahu, Nadya ingin sekali memberi pelajaran pada gunung es itu!


"Hey, beraninya kau!" Melihat istrinya melengos begitu saja, jujur Brydan gemas dengan wanita satu itu. Ingin sekali ia gigit pipi chubby wanita itu!


Seakan tuli, Nadya sama sekali tidak menghiraukan suaminya. Ia keluar dari kamar, tanpa menengok sedikit saja ke arah Brydan. Brydan ingin menangkap istri kecilnya itu, tetapi ia harus mandi terlebih dahulu, tubuhnya lengket.

__ADS_1


Setelah selesai mandi, Brydan memakai baju yang disiapkan istrinya tadi. Ya, walaupun sedang marah, Nadya tetap tidak ingin meninggalkan kewajiban dirinya sebagai istri. Melayani suaminya tetaplah kewajibannya.


Brydan hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek pria. Dengan tergesa-gesa, Brydan turun ia ingin menghampiri istri kecilnya. Begitu membuka pintu kamar, Brydan melihat Dendy masih berdiri di sisi pintu. Brydan sudah tahu itu, Dendy pasti mengkhawatirkan dirinya.


"Pulanglah Den, kau pasti lelah!" Titahnya.


"Saya akan di sini sampai Anda baik-baik saja." Dendy tahu benar, Brydan paling tidak suka dibohongi. Pria itu pasti sangat marah pada istrinya. Namun, Dendy juga tahu, Brydan bukan tipe orang pendendam. Jika ia sudah melampiaskan kemarahannya, maka ia anggap semuanya sudah selesai. Seperti tadi, Brydan sudah menggempur Nadya habis-habisan, maka ia anggap itu adalah hukuman untuk Nadya.


Dan semuanya sudah clear, walaupun istrinya masih marah. Tetapi Brydan sudah tidak lagi, ia akan mengikuti saja permainan istrinya.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC!


Heuh othor sedih nih, makin lama pembaca kok menurun sih! Yah, jadi othor up nya sedikit belakangan ini! Jujur othor kurang semangat up nya😔


__ADS_2