
"Selamat datang, Sayang." Nadya baru saja keluar untuk menyambut kepulangan suaminya. Dengan senyum manis yang selalu tersemat di wajah imutnya. Brydan hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Kemudian melangkah menuju ke arah kamarnya.
"Sayang, aku sudah siapkan air mandinya. Dan bajunya juga sudah ada di ruang ganti. Oh ya, aku mau turun dulu, Sayang. Mau siapin makan malam kamu dulu." Seperti biasa, kepulangan Brydan akan disambut oleh ocehan-ocehan yang keluar dari bibir mungil sang istri.
Brydan sudah terbiasa dengan kecerewetan istri kecilnya itu. Walau sejatinya ia tidak terlalu suka orang yang cerewet.
Brydan pun lanjut untuk mandi dan merilekskan tubuhnya di rendaman air hangat. Sedangkan Nadya turun ke bawah untuk membantu Pak San menyiapkan makan malam.
Dan sekalian melihat si Cemong yang sengaja ia letakkan di bawah tangga. Kucing lucu itu terlihat tengah molor alias ngebo. Efek kekenyangan dan kenyamanan yang HQQ.
Tidak berapa lama turunlah Brydan dan juga Edward yang terlihat tengah berbincang. Nadya hanya melihat seolah kemudian kembali memainkan handphone nya.
"Selamat malam, Kakak ipar." Sapa Edward dengan mengedipkan sebelah matanya. Nadya sudah tahu maksud kode yang diberikan Edward barusan. Apa lagi kalau bukan untuk mengingatkan Nadya perihal rencana yang sudah mereka atur tadi. Nadya hanya membalas dengan anggukan samar.
"Silahkan duduk, Sayang." Nadya menarik salah satu kursi di sebelahnya untuk sang suami. Dengan suasana tenang dan nyaman, mereka menikmati hidangan makan malam. Edward dan Nadya sesekali saling memberikan kode. Entah apa yang mereka bicarakan hanya mereka dan Tuhan yang tahu.
Selesai makan malam, semua member membubarkan diri untuk kembali ke ruangan masing-masing. Tapi tidak dengan Edward, masih sempat-sempatnya dia ke kamar Fanny untuk mengajak sang kekasih hang out. Heuh.
Siapalah yang tidak tahu Edward. Jika Fanny menolak, dia pasti akan memasang wajah terimutnya agar Fanny merasa iba. Dan benar saja, walaupun dirinya sudah begitu lelah seharian ini, Fanny masih tetap mengiyakan ajakan sang kekasih. Belum lagi dirinya baru sembuh dari demam.
Terlepas dari sepasang sejoli yang tengah kasmaran, berbeda dengan Edward dan Fanny. Nadya dan Brydan justru tengah asyik dengan urusannya masing-masing.
Brydan masih memeriksa laporan yang masuk ke email nya. Sedangkan Nadya, jangan ditanya, dia tengah sibuk mencari susunan kata yang pas untuk ia ucapkan kepada Brydan. Tidak memprovokasi dan juga tidak memaksa.
Demi si Cemong dia harus bisa mengambil simpati Brydan. Jika tidak, maka tamatlah si Cemong! Nadya perlahan bangkit dari ranjang menuju ke sofa.
Ia duduk di sebelah sang suami dan memijat kecil bahu suaminya. Tetapi Brydan masih tetap diam pada posisi sebelumnya.
"Sayang, boleh aku bicara." Dengan begitu hati-hati, Nadya membuka pembicaraan dengan sang suami. Brydan hanya melirik Nadya kemudian kembali melihat ke arah gadget nya.
"Hmmm..." Jawab Brydan. Kemudian ia tutup laptop dan ia matikan gadged yang sedari tadi dipegang nya.
"Jadi begini, bagaimana menurutmu kalau aku memelihara sesuatu di mansion." Nadya sudah menarik tangannya dari bahu sang suami. Dan menautkan kedua tangannya menjadi satu. Sungguh jantung berdebar tak karuan. Serasa mau copot saja.
Brydan hanya mengangkat satu alisnya saja. Nadya yang sama sekali tidak mengerti akan hal itu, langsung dibuat bingung.
Kau pikir aku Sekertaris Dendy yang tau walaupun kamu hanya mengedipkan matamu! Dasar tukang kode!
Karena Brydan tak kunjung bicara, akhirnya Nadya melanjutkan perkataannya. Dengan keringat dingin yang sudah mulai bercucuran di dahinya.
__ADS_1
"Jadi begini, Sayang. Tadi siang saat aku berjalan-jalan di taman bersama Tica dan Fanny, aku menemukan seekor kucing lucu." Nadya menghentikan ucapannya untuk mengambil nafas. Hanya orang gila yang tidak tahu kegugupan yang tengah Nadya rasakan.
"Dan aku me.. me... memutuskan untuk memeliharanya di mansion ini." Dan benar saja, Brydan langsung menautkan alisnya. Seakan memberikan ekspresi marah.
Aduh tamat riwayatku, aku tidak berhasil merayu nya, bagaimana ini?
"Ah, kalau kamu tidak mengizinkan, tidak masalah, Sayang. Aku akan menitipkan kucing itu pada Tica. Aku akan kunjungi seminggu sekali." Nadya cepat-cepat memperbaiki keadaan, sebelum semuanya terlambat.
"Siapa yang mengizinkan mu untuk menitipkannya pada sahabatmu itu?" Nadya masih terlihat kebingungan dengan jawaban yang terlontar dari bibir sang suami.
"Aku setuju saja, asalkan kau berjanji untuk..." Belum lagi selesai berbicara, Nadya sudah melompat kegirangan. Memeluk sang suami dan berkata, "iya aku berjanji, Sayang."
Pletakkk. Terdengar suara sentilan jari Brydan mengenai hidung Nadya.
"Sakit, Sayang."
Dasar tidak berperikemanusiaan, tidak berperasaan!
Nadya masih mengamati hidungnya yang terlihat sedikit memerah. Dia mengusap-usap dengan perlahan. Rasanya sedikit ngilu dan sakit!
"Makanya kalau ada orang bicara itu didengar dulu, jangan main potong aja." Kata Brydan dengan ekspresi wajah datar. Sedatar tembok mansion. Jika saja Nadya adalah bawahannya, mungkin dia sudah memarahi dan menghukum Nadya. Karena sudah berani menyela ucapannya.
Tapi nyatanya Brydan dengan mudah mengiyakan permintaannya. Ya, walaupun hidungnya yang harus menjadi korban kdrt. Gapapalah yang penting dapet hak asuh Cemong. Alias hak untuk Cemong tinggal di mansion ini.
"Terimakasih, Sayang." Nadya memberikan sebuah pelukan hangat untuk sang suami. Sebagai tanda terimakasih. Kalau ada maunya aja nihh, ngerayu sampe hidung jadi korban pun gak masalah. Jangankan hidung, korban perasaan pun nggak masalah buat Nadya.
"Berarti boleh dong Sayang, kalau aku panggil pak arsitek."
"Arsitek?" Dahi Brydan terlihat mengkerut mendengar pernyataan sang istri barusan. Untuk apa sampai memanggil arsitek segala, pikirnya. Memangnya mau membangun proyek.
"Ya, Sayang, buat ngerancang rumah khusus untuk si Cemong."
"Cemong?" Brydan kembali berkerut dahi, siapa lagi itu Cemong, pikirnya.
"Cemong itu nama kucing baru aku, Sayang."
"Terserahmu!" Brydan berdiri kemudian meraih sang istri ke ranjang.
"Beri aku hadiah atas kebaikan yang aku lakukan!"
__ADS_1
Memangnya apa yang kau harapkan, Nadya. Lelaki ini tidak akan memberikan walau secuil receh dengan gratis. Dasar pelit!
"Jangan mengumpatku atau aku akan tarik kembali izin yang aku berikan!" Seakan tahu istrinya tengah memakinya, Brydan langsung saja mengeluarkan bom atom nya.
"Aku mana berani, Sayang."
"Baguslah"
Dan malam itu pun menjadi malam panjang dan melelahkan untuk Nadya. Bagaimana tidak, Brydan menggempur nya habis-habisan. Seperti orang yang tidak pernah mendapat jatahnya. Hanya tiga kata yang tepat untuk Nadya saat ini. POOR OF YOU! haha.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
curhat dikit, sebenernya othor tuh udah mau up dari pagi tadi, ehh emak othor ngamuk, hehe. Dan drama pagi pun dimulai 😆
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG : @cynshindi
__ADS_1
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.