Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-75 Kedatangan Naddie!


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua, dimana mereka tinggal di rumah lama Nadya. Sejak membaca tulisan-tulisan yan ditulis oleh mendiang sang ibu yang tertera dalam buku diary itu, Nadya sudah sedikit mengerti. Mengenai alasan mengapa sang ibu harus menjauhkan adiknya. Dan hanya Nadya seorang lah yang tau, sedangkan yang lainnya sama sekali tidak tahu-menahu.


"Besok, kita akan kembali ke mansion, Sayang!" Ujar Nadya sembari tetap mengunyah sarapan paginya. Karena kini, dirinya dan yang lainnya tengah memakan sarapan.


"Tentu, karena ini sudah melenceng dari jadwal, Bey! Kau bilang hanya dua hari kan?" Sahut pria yang dijuluki Sang Penguasa itu. Sembari melihat ke arah jam tangannya. Hari masih terbilang pagi, matahari masih hangat, belum terlalu panas.


"Aku harus bekerja, Nad. Kamu tahu kan bagaimana boss kalau sedang marah? Bisa-bisa aku ditelan bulat-bulat. Untung saja aku bilang izin cuti untuk tiga hari. Kalau tidak, habislah gajiku!" Tica ikut menyela pembicaraan.


Sedangkan Dendy hanya diam mendengarkan dengan saksama. Tidak ada pertanyaan yang terlontar untuknya, itu artinya suaranya tidak dibutuhkan. Jadi cukup diam, pikirnya.


"Lebay kamu mah," Nadya tersenyum kecut.


Mereka pun melanjutkan acara sarapan pagi. Kemudian mereka memutuskan untuk melakukan kegiatan masing-masing, Brydan dan Dendy mengobrol soal bisnis. Sedangkan para wanita tengah mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.


***


Keesokan harinya, mereka berempat sudah siap dengan tas masing-masing yang melekat di punggung mereka. Hari ini waktunya untuk kembali ke mansion. Karena tuntutan kerja tentunya.


"Bey, kau tak membawa kedua buku itu? Khawatir nanti butuh!"


"Tidak, Sayang. Kamu tidak perlu khawatir, percayakan semua pada istrimu ini!" Nadya mengerlingkan sebelah matanya. Seraya menggoda sang suami.


"Baiklah terserah padamu, aku ikut apa katamu, Bey!" Sahut Brydan dengan menggelengkan kepalanya melihat tingkah centil sang istri.

__ADS_1


Mobil pun melaju untuk membawa mereka kembali ke mansion. Perjalanan sampai ke mansion kurang lebih menempuh waktu enam jam, karena beberapa kali mereka harus berhenti untuk mencari makan ataupun mengisi bahan bakar.


"Akhirnya sampai juga," Nadya merentangkan kedua tangannya. Selepas mengantarkan Tica kembali ke rumahnya, mobil langsung saja melaju ke mansion.


"Tuan dan Nyonya, saya pamit untuk kembali." Sekertaris Dendy seraya mengklakson mobilnya.


"Baiklah, hati-hati yah."


Setelah kepergian Dendy, keduanya segera saja masuk ke dalam mansion. Namun, Nadya terlonjak ketika melihat seorang wanita cantik terlihat mengenaskan. Wanita itu terlihat mengerikan dengan make-up yang sudah berantakan karena terhapus air mata. Nadya hampiri wanita itu, siapa lagi kalau bukan Naddie.


Naddie yang menyadari kehadiran Nadya dan Brydan, segera saja menghampiri Nadya. Ia tiba-tiba saja berlutut di hadapan Nadya dan Brydan.


"Huhuhu.. Maafkan aku, Nadya! Ku mohon aku ingin berdamai saja. Sekarang aku sudah tak memiliki apapun lagi, aku..." Naddie masih dengan posisi berlutut dan lelehan air bening yang tidak kunjung berhenti menetes.


"Pak San!"


"Berdiri, Naddie. Ceritakan apa maksud semua ini?" Ia bangunkan Naddie, dan ia dudukkan di sofa.


"A.. aku sebenarnya bukan putri kandung dari mommy dan daddy!"


Duarrr.


Kalimat pertama sukses membuat jantung Nadya berdetak kencang.

__ADS_1


"Mereka mengusirku, karena aku tidak bisa menjadi seperti yang mereka inginkan!" Imbuhnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC!


Guyss Mau Promosiii!


Silahkan mampir ke karya othor yang juga rilis di Noveltoon yah.

__ADS_1


Klik profil othor guyss! ayo ramaikan! Ceritanya ngga kalah menarik kok!



__ADS_2