Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-84 Kemenangan Nadya.


__ADS_3

"Sayang, ini gedung tua itu?" Tanya Nadya.


"Hmm."


Karena kini ia, Brydan dan Dendy tengah berada di sebuah gedung tua di tepi kota. Dimana gedung itu terlihat tak berpenghuni dan kotor. Mereka bertiga melangkahkan kaki masuk ke dalam kawasan gedung tua itu. Tidak ada apapun di dalam gedung itu, hanya sebuah aula yang luas. Dengan lumut dan juga tanaman-tanaman liar yang sudah tumbuh tak tertentu. Dan juga ada beberapa ubin yang sudah retak.


"Angkat tangan!" Tiba-tiba saja segerombolan orang berseragam hitam melingkari mereka bertiga. Dengan masing-masing mengacungkan sebuah pistol. Dengan topeng yang menutupi sebagian wajah mereka.


Seketika, Dendy, Nadya dan Brydan membentuk pola segitiga. Mereka masing-masing menatap pada musuh mereka yang melebihi sepuluh orang, mungkin sekitar lima belas sampai dua puluh orang.


Nadya mengincar ketua dari mereka, yang terlihat memakai pakaian yang berbeda. Dengan senjata yang juga berbeda tentunya, ia tahu betul peluru pistol itu bisa menembus besi terkuat di dunia.


"Sayang, kau hadapi mereka, dan kau juga Dendy! Sedangkan aku akan mengatasi ketua mereka."


"Apa kau mampu? Aku tidak mau istriku terluka."


"Jangan remehkan aku, Sayang."


"Serang!"


Dor.


Satu peluru melesat, untung saja Brydan mengelak, dan segera saja lelaki itu mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya yang ia dapatkan dari Roland. Dengan sigap, ia menembaki semua lawannya dengan brutal. Hingga lima orang sekaligus tewas di tangannya.


Dor dor dor.


Dendy juga tak kalah brutal, ia menembaki setiap musuh yang mendekat dan mencoba untuk menumbangkan dirinya. Dengan lincah, pria itu terus menghindari tembakan-tembakan peluru dari musuh. Dengan langakh seribu, ia menghindar dari sebuah peluru yang hampir saja menghunus jantungnya.


"Bey!" Brydan terus melirik istrinya yang kini tengah bertarung melawan pimpinan dari musuh. Namun, dirinya juga masih tetap melawan beberapa lawannya dan siap untuk membabat habis mereka semua.


Pletakk.


Nadya, wanita itu mencetak rekor karena telah berhasil menjatuhkan senjata musuh. Namun, dengan gesit, musuh itu langsung menendang pistol Nadya, dikala Nadya menoleh ke arah suaminya dan perhatiannya sedikit tersita.


"Sial!" Umpatnya, tidak mudah untuk menjatuhkan senjata musuh. Gegara panggilan suaminya tadi, semua usahanya sia-sia karena senjatanya juga harus jatuh.


Bugg.


Tangan Nadya yang hendak menyentuh wajah pria itu, berhasil ditangkap oleh pria itu. Kemudian pria itu memutar tangan Nadya ke lawan arah, hingga kini pria itu berhasil membekap Nadya. Ia mengunci satu tangan Nadya ke belakang. Sungguh pria yang bodoh karena telah melupakan satu tangan lainnya.


Nadya, wanita itu bukan wanita bodoh. Dengan gesit ia langsung menggunakan tangan satunya sebagai senjata. Kelincahan wanita itu tidak bisa diragukan lagi, karena tiba-tiba ia menyikut perut lawannya dengan keras. Dan menarik satu tangan lawan itu, kemudian membantingnya dengan keras.


Bruakk.

__ADS_1


Tubuh lawannya terjatuh ke lantai dengan begitu keras. Pria itu bahkan mengaduh kesakitan, bantingan itu membuat pinggangnya seakan remuk termakan kerasnya lantai di aula gedung tua itu.


Segera saja, Nadya menginjak keras perut pria itu, dan mengikat kaki dan juga tangannya. Dengan bantuan Dendy dan Brydan, karena mereka juga telah menumpas habis lawan-lawannya.


Sebuah Helicopter terdengar di atas atap gedung tua itu. Mereka bertiga keluar dan melompat ke atas helicopter itu melalui sebuah tali.


Helicopter itu terus berjalan, membawa mereka ke sebuah pulau terpencil yang ada bangunan di tengah-tengah pulau itu.


Dari atas, terlihat jelas peperangan besar tengah terjadi di depan bangunan itu. Bahkan banyak mayat yang sudah tergeletak di sekitar bangunan itu.


"Kita turun, sesuai rencana lewat belakang!"


"Baik Tuan!"


Mereka bertiga turun dari helicopter, namun masih harus menyusuri hutan. Karena helicopter turun tidak terlalu dekat dari bangunan itu, agar suaranya tidak terdengar dari bangunan itu, sehingga tidak terdeteksi.


Mereka bertiga terus menyusuri hutan lebat itu, hingga sampailah mereka di pintu belakang bangunan itu. Pintu besi yang mustahil untuk diterobos.


"Pintu ini besi, Tuan. Sulit untuk membobol pintu besi!"


"Minggir!"


Brydan maju, ia sudah pasti sangat tahu cara membobol pintu itu. Karena pintu itu memiliki sebuah kode yang harus diketik baru kemudian bisa terbuka. Brydan menscan sesuatu dari handphone-nya dan ia ketikkan di layar kode di sisi pintu. Dan sukses pintu besi itu terbuka.


Mereka bertiga masuk dengan hati-hati, Nadya menumbangkan beberapa pengawal yang berjaga di dalam. Dengan cara memukul leher mereka dan seketika mereka pun roboh.


"Ayo masuk!"


Mereka terus berjalan, memasuki sebuah ruangan. Ruangan yang terlihat begitu tertutup.


Cetarrr.


Dendy, Nadya dan Brydan menembak pintu kaca itu dengan sekali tembakan. Alhasil pintu hancur tak bersisa, dengan pecahan kaca yang bercecer dimana-mana.


"Tolong kami." Dari dalam sudah terdengar suara lemah seseorang yang tengah meminta pertolongan.


Sontak saja Nadya masuk, dan matanya seketika berair melihat sebuah keluarga tengah terikat mengenaskan. Di sebuah kursi dan diikat dengan rantai berduri.


"Ka... Kakak."


"Kau? Ka.. kau adikuu?" Nadya tercengang, wanita muda itu memanggil dirinya dengan sebutan kakak. Bagaimana wanita itu bisa tahu?


Nadya segera menembak rantai yang mengikat wanita itu dan juga kedua orang tua wanita itu. Istri Brydan itu segera saja memeluk wanita itu.

__ADS_1


Adik yang selama ini rindukan, kini telah ada dalam rengkuhannya. Adik yang selama ini ia cari keberadaannya, kini telah terpampang nyata di hadapannya. Kedua orang tua itu tersenyum, karena telah mempertemukan saudara sekandung yang telah berpisah lebih dari dua puluh tahun itu.


Brydan dan Dendy masuk, mereka baru saja selesai mengatasi beberapa musuh. Dengan tembakan-tembakan brutal tentunya.


Degg.


Seketika mata kedua pria itu mendelik, melihat siapa adik Nadya sebenarnya. Terkhususnya Brydan, pria itu menganga tak percaya bahkan matanya membola sempurna.


"Ini bukan mimpi kan, Den?"


"Sayangnya, ini nyata, Tuan. Anda terbelenggu dalam suatu hubungan yang rumit!"


"Diam kau!"


Pikirannya seketika terhenti, bagaimana mungkin? Orang yang selama ini dekat dengan dirinya ternyata adalah adik Nadya. Sungguh ia terkejut dengan kenyataan ini, kenapa harus serumit ini, pikirnya.


***


Sedangkan di luar sana, Roland dengan bangganya masuk ke dalam markas Fiero. Karena dirinya baru saja berhasil menaklukkan musuh terbesarnya itu. Walaupun ia harus kehilangan beberapa anggota terbaiknya, namun sekarang ia telah bebas karena musuh bebuyutannya itu telah tewas di tangannya sendiri. Sekarang waktunya menyusul Dendy dan Brydan di dalam.


"Kalian tahan wanita itu, Dendy meminta wanita itu hidup-hidup."


"Baik Tuan."


Roland berjalan dengan gagahnya ke dalam markas Fiero yang kini telah menjadi miliknya.


.


.


.


.


.


.


.


TBC!


YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH!💖

__ADS_1


__ADS_2