Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-50 Bau sampah.


__ADS_3

Sepasang suami istri itu kini tengah bersitegang. Jika Nadya beranggapan, dengan menemui wanita itu, masalahnya akan segera terselesaikan. Maka berbeda dengan Brydan, yang beranggapan bahwa dengan menemui wanita itu, Nadya sama saja membahayakan dirinya sendiri.


Dan Brydan tidak ingin hal buruk sampai terjadi kepada sang istri. Brydan bahkan sempat memarahi Fanny, karena Fanny tidak memberitahukan mengenai pertemuan Nadya dengan wanita itu kepadanya.


Walaupun ini bukanlah salahnya tetapi Fanny mencoba untuk bersikap lebih tenang. Supaya tuannya tidak bertambah emosi. Dan dengan tenang, Fanny menceritakan semua dialog yang dibicarakan oleh Nadya dan Naddie.


"Apa kau mendapatkan sesuatu yang kau inginkan?" Brydan sangat amat yakin, bahwa tujuan Naddie hanyalah ingin memprovokasi istrinya. Dan dengan mudahnya Nadya mengiyakan ajakan Naddie untuk bertemu. Tanpa izin dan sepengatahuan darinya.


Benar dugaan Brydan, Nadya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa kau tidak meminta izinku? Karena kau takut aku tidak akan mengizinkanmu?" Brydan kembali memojokkan sang istri. Kali ini dia masih bisa sabar. Tapi tidak tahu nanti jika Nadya kembali melakukan hal yang sama.


Dengan ragu Nadya menganggukkan kepalanya. Brydan menuntun Nadya untuk duduk di sofa, dia mendudukkan Nadya tepat di sebelahnya. Brydan memegang erat kedua lengan Nadya. Hingga keringat dingin keluar dari kening putih istrinya. Brydan bahkan melihat jelas kegugupan sang istri saat ini.


"Apa kau tahu, betapa liciknya wanita itu? Tidak kah hati dan pikiranmu ini mengerti, betapa khawatirnya aku? Aku lebih tahu mengenai wanita itu dibandingkan denganmu. Kenapa kau tidak bertanya terlebih dahulu?" Ucap Brydan dengan menatap intens manik mata gelap milik sang istri. Dengan ragu Nadya mengeluarkan uneg-uneg nya.


"Aku sudah bertanya kapan hari, tapi kamu tidak menjelaskan apapun." Lirih Nadya.


"Apa kau tahu, aku sedang mempersiapkan diri untuk menceritakannya kepadamu. Bukannya aku mau menutupi semuanya dari dirimu. Bagiku menceritakan masa lalu yang satu ini, sama saja membuat dirimu menjadi tidak nyaman. Dan aku tidak mau itu terjadi. Apa kau mengerti?" Bahkan saat sedang marah, Brydan tetap mempedulikan perasaannya.


Nadya paham, bahwa yang dimaksud oleh Brydan adalah mengenai perasaannya. Brydan takut melukai perasaannya, tetapi Brydan menyampaikan hal itu dengan bahasanya sendiri.


"Maafkan aku, Sayang." Sesal Nadya, sedari tadi dia sudah menundukkan kepalanya. Karena sudah terasa sedikit pegal, akhirnya Nadya mengangkat kepalanya dan menatap manik mata suaminya. Dia memasang wajah memelas nya agar sang suami mengampuni kesalahannya.


"Kau tahu bukan, kalau hal yang selama ini kita simpan rapat. Tidak mudah kita menceritakan hal itu kepada orang lain." Nadya hanya mengangguk saja mengiyakan perkataan sang suami. Memang benar apa yang Brydan katakan.


Bahwa hal yang sudah lama terjadi dan kita tutupi dengan rapat. Bertujuan supaya tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya. Tidak mudah untuk menceritakan hal tersebut dihadapan orang lain.


Brydan bukanlah tipe orang yang suka mengumbar kehidupan pribadinya. Mungkin tidak ada lagi orang yang tahu mengenai rahasia-rahasianya selain Sekertaris Dendy.


"Iya, Sayang, aku paham." Ujar Nadya yang mencoba untuk memahami keadaan sang suami. Tangan Nadya terangkat untuk menggenggam dan mencium tangan Brydan. Brydan yang menerima perlakuan romantis dari Nadya, hanya bisa tersenyum tipis. Dia benar-benar bersyukur diberi istri berhati malaikat. Sang istri bahkan selalu berusaha untuk memahami dirinya.


"Bilang apa, Sayang?" Nadya kembali berseru. Dan Brydan hanya mengangkat bahunya acuh, karena dia tidak memahami maksud perkataan sang istri barusan.


"Aku sudah memaklumi dirimu, jadi kamu harus bilang apa?" Nadya kembali menjelaskan maksud perkataannya kepada sang suami. Dan kali ini Brydan sudah mengerti. Dengan senyum jahil, ia mengecup pipi istrinya dan berkata, "terimakasih."

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang." Balas Nadya dengan senyum manisnya.


Sebenarnya Nadya tidak menuntut ucapan terimakasih dari Brydan. Hal itu ia lakukan untuk mencairkan suasana yang mulai beku.


"Kapan kamu akan menceritakan tentang wanita itu kepadaku, Sayang?" Tanya Nadya. Bagaimanapun Brydan harus memberikan kepastian.


"Akhir pekan, aku akan menceritakan semua tentang wanita itu. Sambil duduk manis di taman belakang."


Akhirnya moment keduanya terpecahkan setelah ada ketukan dari luar. Pak San yang datang memberitahu kalau makan malam sudah siap. Nadya dan Brydan segera turun untuk makan malam. Seperti biasa, di meja makan sudah ada Edward yang tengah menikmati makan malamnya.


"Ehh, Kakak dan Kakak ipar. Maaf ya, Ed mendahului, kelaparan hehe." Kata Edward dengan disertai senyum menyebalkan. Dan Brydan hanya memutar bola matanya malas. Sedangkan Nadya menganggukkan kepalanya.


***


Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing. Nadya sudah tertidur sejak beberapa menit yang lalu, mungkin karena efek lelah. Sedangkan Brydan, ia hanya diam memperhatikan wajah imut istrinya. Sesekali dia mengecup hidung mungil milik istrinya. Dan mengusap bibir kecil milik Nadya.


"Apa dia bisa bernafas dengan hidung kecil ini? Dan bibir ini, dia memberikan apa sehingga bisa sekecil ini? Ahh, wajahnya juga sangat kecil, bahkan lebih besar telapak tanganku." Ujar Brydan sambil menunjuk bagian-bagian yang disebutkan olehnya.


"Sebenarnya dia ini menggunakan shampoo apa? Kenapa rambutnya bisa seharum ini?" Brydan lagi-lagi mengendusi rambut Nadya. Rambut panjangnya terlihat indah walau sudah sedikit berantakan.


Tiba-tiba Brydan merasakan bau aneh dari istrinya. Dan benar saja, Nadya langsung terbangun dan melompat dari ranjang. Bukan apa, saat ini dia benar-benar mulas. Bahkan Brydan sampai dibuat heran oleh tingkah blingsatan istrinya itu.


"Aku mulas, Sayang." Jawab Nadya. Tidak lama kemudian, Nadya kembali berseru.


"Maaf yah, tadi aku kelepasan." Katanya seperti orang yang tidak mempunyai dosa saja.


"Jadi bau itu kentutmu? Kenapa bau kentut mu seperti bau sampah?" Brydan memang aneh, mana ada bau kentut yang harum? Haha.


"Aku tidak tahu, Sayang." Sahut Nadya dengan ekspresi yang begitu membagongkan.


Selang beberapa menit, Nadya keluar dari kamar mandi. Dia menghela nafas lega. Entah apa yang dimakannya sampai bisa mulas di tengah malam. Terlihat Brydan sudah bersiap untuk tidur.


Ia menepuk sisi sebelahnya, bermaksud agar Nadya segera tidur. Nadya pun beranjak naik ke ranjang. Dia memeluk dada suaminya dan menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Brydan.


Brydan membiarkan istrinya dengan posisi seperti itu. Yang terpenting istrinya nyaman. Tidak bisa dipungkiri, berada di dalam pelukan orang yang tersayang, memang adalah tempat ternyaman.

__ADS_1


Brydan mempuk-puk punggung Nadya dikala sang istri sedikit menggeliat. Brydan masih juga belum memejam mata. Dia masih asyik dengan kegiatannya menilik wajah imut istrinya. Hingga terbesit ide jahil di kepalanya. Brydan mengambil handphone nya, dia membidikkan kamera handphone nya ke wajah istrinya ketika tidur. Bahkan lebih dari sekali.


"Cantik, istriku benar-benar cantik." Ujar Brydan sembari melihat hasil jepretannya. Brydan menjadikan salah satu dari foto-foto itu sebagai wallpaper.


Brydan berpose mengecup bibir Nadya, kemudian dia memotretnya. Beginilah tingkah laku orang yang kurang kerjaan. Haha.


Tingkah laku Brydan yang satu ini memang tidak banyak diketahui orang lain. Kecuali Sekertaris Dendy dan sang adik. Memang dasar Brydan, gengsi sudah seperti mahkotanya.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah. Othor udah jelasin di sana kenapa up nya pagi banget, hahaha.


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah

__ADS_1


IG: @cynshindi


Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.


__ADS_2