
"SAH."
Pernikahan itu telah terlaksana, dimana hanya ada sebuah kesederhanaan di dalamnya. Setelah beberapa hari mengurus dokumen, Dendy langsung saja menikah di rumah Tica. Yang bahkan jauh dari kata mewah. Hanya ada beberapa tetangga yang hadir dan juga seorang penghulu.
Bahkan jika biasanya pernikahan adalah momen yang paling membahagiakan dalam hidup, tidak untuk Dendy dan Tica. Pernikahan mereka adalah sebuah pernikahan karena sebuah kecelakaan, namun bukan kecelakaan kerja. Melainkan kecelakaan dalam melepas benih Deper! Alias Dendy spermaa.
Beberapa tetangga sudah pulang, dan Tica serta Dendy pun kini tengah berada di dalam kamar pengantin mereka. Yang telah dihias sedemikian rupa, dengan taburan bunga di atas ranjang kapuk itu. Dan juga lilin-lilin yang ditata membentuk love di lantai ubin itu. Dendy hanya memandang dengan santai seakan tidak ada reaksi sama sekali. Berbeda dengan istri bar-barnya itu.
"Ahh... Jika setelah menikah kamarku akan dihias seindah ini, aku menikah saja setiap hari, agar kamarku selalu bagus setiap hari!"
"Dasar wanita tidak punya otak!"
"Aku dengar, Tuan."
Sahut Tica, tubuhnya masih terlentang di atas ranjang dengan kaki yang masih bergelantungan ke bawah. Bahkan kebayanya saja belum ia lepas.
Dendy melepas tuxedo miliknya, dan berganti dengan pakaian casualnya. Namun wanita itu terlihat begitu kesulitan melepas baju kebaya yang dikenakannya itu. Karena ada beberapa kancing di belakang. Sedangkan tangannya tidak bisa menggapai kancing belakang itu. Ia ingin meminta tolong, namun pada siapa. Karena di kamar itu hanya ada dia dan Dendy saja. Akhirnya dengan sangat terpaksa Tica meminta bantuan lelaki itu.
"Tuan!"
"Hmm?"
"Bukain kancing belakang saya dong!"
Dendy hanya membuka saja tanpa banyak bicara. Bahkan Dendy tidak menunjukkan reaksi apapun setelah melihat punggung mulus tanpa noda itu. Seakan pria itu sama sekali tidak memiliki gairah akan keindahan tubuh wanita.
"Apa Tuan impoten?"
"Mulut bar-barmu itu tidak memiliki filter?"
"Saya ini tanya, Tuan. Jika memang Tuan lelaki normal seharusnya Tuan itu bergairah melihat punggung saya!"
"Selain bar-bar, kau juga centil yah."
"Tuan baru tahu?"
"Tidak!"
"Menyingkirlah dari hadapanku! Tubuh jelekmu itu tidak akan membuat aku bergairah!"
"What?"
__ADS_1
Tica berekspresi, wanita heran baru kali ini ada yang menolak pesona seorang Tica Maharani. Dengan tubuh seramping tubuh Tica, pria itu masih tidak bergairah? Lalu tubuh macam apa yang bisa membangkitkan gairah pria itu? Pikir Tica.
"Lihatlah tubuhku!"
Wanita itu malah semakin memutar-mutar tubuhnya seraya menunjukkan setiap jengkalnya kepada Dendy. Wanita itu memang tidak menyadari, bagaimana kerasnya usaha Dendy menahan gejolak birahinya. Semakin Tica menunjukkan jengkal-jengkal tubuhnya, semakin gairah Dendy terajak untuk bangkit.
"Jelek!"
"Sial!"
Karena kesal tubuhnya hanya dihargai dengan kata jelek, akhirnya wanita itu membuka kebaya beserta bawahannya, hingga terpampanglah tubuh molek itu. Yang hanya mengenakan braa dan juga underwear-nya.
"Jelek!"
Pria itu tetap kekeuh mengatakan kata yang sama. Demi sebuah harga diri, ia rela menahan gejolak birahi. Kepalanya akan segera pusing sebentar lagi. Sudah dipastikan, jika hasratnya tidak tersalurkan.
"Sial pria satu ini!"
Karena sebal sendiri, akhirnya Tica tidak menyadari bahwa dirinya kini tengah telanjang bulat. Bulatan sintal di dadanya itu terpampang nyata dengan dua choco chips yang menggantung. Serta dua gundukan bulat sintal di bagian bawahnya. Wanita itu berjalan dengan santai ke arah ranjang seraya mengambil baju gantinya.
"Akh!"
Dendy menggeram, seketika darahnya berdesir naik ke ubun-ubun. Tubuhnya langsung merasa panas melihat tubuh indah yang nampak mulus dan begitu ramping. Maklumlah, sudah lama menyendiri membuat pria itu haus akan belaian wanita. Bayangkan saja, lelaki normal mana yang akan tahan jika diberi pemandangan seindah itu.
"Pakai bajumu! Bahkan cicak saja malas melihat tubuh jelekmu!"
Kemudian lelaki itu segera pergi ke kamar mandi untuk mandi air dingin.
Tica menggeram kesal, baru kali ini ia dibuat sekesal ini hanya karena olok-olokan pria patung itu.
***
"Dendy sudah menikah!"
"Apa? Sama siapa, Sayang?"
"Tica! Sahabatmu."
"Apa? Tapi kenapa Tica tidak memberitahu aku?"
"Ceritanya panjang, mereka menikah karena sebuah accident. Sekarang Dendy tengah berada di rumah Tica. Dan Tica hamil!"
__ADS_1
"Aku tidak bisa berkata apa-apa!"
Sahut Nadya, ia tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Bagaimana bisa sampai hamil di luar nikah, tetapi ia hanya bisa mensupport saja. Karena dirinya tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga Tica. Walaupun ia adalah sahabat Tica, tetapi Tica juga berhak punya privasinya sendiri.
***
"Eh Yah, pasti mereka udah em em em."
"Ibu mana tahu?"
"Buktinya Dendy lagi mandi sekarang tuh! Tadi ibu denger ada suara air di dalam kamar mandi."
"Biarin aja ih, Ibu engga bisa lihat anak bahagia dikit."
"Apa sih Ayah?"
"Ibu mau juga? Ayo kalau gitu!"
"Ya udah ayo, siapa takut!"
Bukannya Dendy dan Tica, malah ibu dan Ayah Tica yang melakukan hal itu. Padahal yang menjadi pengantin barunya adalah putra dan putri mereka.
Tica yang hendak mengantar handuk Dendy yang ketinggalan, berjalan melewati kamar ibu dan ayahnya. Ia mendengar seperti suara decitan ranjang dan suara *******. Seketika otaknya menjadi liar.
"Tragedi ranjang berdecit! Aku yang menikah, kenapa mereka yang ***-***?"
Selepas kegiatan di malam hari, akhirnya Tica dan juga suami barunya itu beranjak untuk tidur. Mereka tidur di atas ranjang yang sama. Dengan posisi saling membelakangi tentunya, namun siapa tahu ketika keduanya telah terlelap dalam indahnya mimpi. Posisinya berubah menjadi saling berpelukan manja.
Kini keduanya telah sah menjadi suami dan istri. Semoga saja Tuhan selalu memberi takdir yang baik untuk rumah tangga keduanya. Entah apa rencana mereka selanjutnya, tidak ada yang tahu, bahkan mereka sendiri pun belum tentu tahu. Mungkin sebentar lagi akan banyak menguras air mata, atau justru menguras tenaga?
Dinginnya hawa malam di desa, membuat tubuh Dendy semakin meringsek memeluk Tica. Seraya mencari kehangatan dari tubuh wanita yang baru menjadi istrinya selama beberapa jam itu. Dendy memeluk pinggang istrinya semakin erat, bahkan kakinya juga menumpang di atas kaki istrinya. Dan bibirnya mengarah tepat di dahi Tica, sungguh posisi yang mendebarkan jika keduanya dalam keadaan sadar. Namun sayang, keduanya dalam keadaan tertidur.
.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC!
YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH!💖 LOPE YOU GUYSS! MAKASIHH! JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR JUGA YAH, HEHE MAAF NGELUNJAK😁 YOK YANG MAU GABUNG GRUP SEGERA GABUNG YAH, BIAR RAME!