Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-63 Pengkhianatan (part 2)


__ADS_3

Dan tibalah Nadya di sebuah ruangan yang begitu kacau, dengan meja dan kursi berserakan. Serta satu cermin besar yang sudah terlihat buram. Seperti benda kuno yang tidak pernah tersentuh oleh manusia.


"Ikat dia di kursi itu, tetap sandera suami dan temannya!" Titah Dendy kepada dua orang berseragam hitam yang kini tengah menekuk kedua tangan Nadya ke belakang. Kemudian mereka ikat dengan kencang menggunakan rantai besi.


Sedangkan beberapa dari mereka, ada yang menggiring Brydan ke pojok ruangan dengan tangan yang masih dipegang kuat.


"Jangan sentuh istriku, brengsekk! Aku pasti akan menghancurkan mu!" Brydan dengan sekeras mungkin berteriak ke arah Dendy. Namun Dendy masih tetap dengan senyum devil nya.


Nadya masih dengan sesegukannya, ia masih mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Betul apa kata Fanny, jika ia menangis. Maka ia tidak akan bisa berpikir dengan jernih.


Aku harus tenang, tenang Nadya, tenang. Hufttt.


Ingat Nadya, kau itu harus bisa menjadi cerdas dengan otak minimalis mu ini.


Tiba-tiba Nadya mengingat suatu peristiwa, dimana pada saat itu dirinya hendak diculik oleh seseorang tak dikenal. Namun sang ayah berhasil menyelamatkan dirinya.


Flashback On


Di taman yang indah, tepatnya di pusat desa. Seorang gadis kecil cantik tengah duduk manis sembari menikmati es krim coklat kesukaannya. Sang ayah dengan setia menemani seraya mengusap pucuk kepalanya.


"Sayang, makannya kok masih belepotan, anak ayah kan sudah besar. Harus jadi anak yang pintar, mandiri, jadi kalau makan harus bersih. Nggak boleh belepotan, okey Cantik?," ujar sang ayah pada putrinya.


"Iya ayah." Jawab sang putri dengan suara khas anak kecil.


Gadis kecil itu adalah Nadya, dimana saat itu dirinya masih berusia 7 tahun. Sang ayah memang kerap kali mengajarkan kepada Nadya agar menjadi anak yang pintar dan mandiri.


"Sayang, sebentar yah ayah mau beli air mineral. Nadya tunggu disini, ingat jangan pindah dari tempat ini sebelum ayah datang. Mengerti?"


Si kecil Nadya hanya mengangguk, pertanda ia mengerti perintah sang ayah. Kemudian sang ayah pun berlalu untuk membeli air mineral di toko dekat taman. Tidak jauh dari posisi Nadya sekarang.


Beberapa menit berlalu, Nadya masih tetap menunggu. Namun, seseorang menghampiri dirinya. Dan duduk tepat di sebelah Nadya.


"Hai Cantik, nama kamu siapa?" Ujar pria itu, seraya mengelus kepala Nadya. Nadya yang merasa terpanggil pun menoleh.


"Om siapa?" Ujar nya dengan suara imut yang begitu menggemaskan.


"Om temen ayah kamu"


"Ayah kamu yang itu kan?" Pria itu menunjuk posisi ayah Nadya. Yang kini tengah mengantri di sebuah toko.


"Iya, kok Om tau?"


"Kan om udah bilang, om temen ayah kamu," dan hanya di jawab anggukan kepala oleh gadis kecil itu.


"Cantik!"


"Ihh Om, nama aku Nadya bukan cantik!" Jawab Nadya dengan ekspresi yang begitu menggemaskan. Bibir yang dimajukan dua centi dan alis yang mengkerut sebal.


"Oh ya, kamu mau es krim?"


"Nadya udah makan es krim barusan. Kata ayah, nggak boleh sering-sering makan es krim. Nanti giginya ompong loh, Om."

__ADS_1


"Yah, sayang dong. Tadi om beli es krim, tapi nggak ada yang makan. Om buang aja yah?"


"Eh eh, jangan Om, kata ayah nggak boleh buang-buang makanan." Nadya sedikit berpikir, apa ia terima saja ya es krim itu. Ayahnya pasti akan marah kalau tau dia memakan es krim lagi, tetapi ayahnya akan lebih marah kalau melihat ada orang yang membuang-buang makanan.


Dengan keyakinan penuh, gadis kecil itu mengangguk dan berkata kepada si pria yang ia panggil dengan sebutan 'om'.


"Ya udah, buat Nadya aja deh. Nanti Om dimarahi ayah kalau buang-buang makanan. Nadya takut Om nangis, soalnya Nadya nggak punya uang buat beli balon."


"Hahaha, kamu ada-ada aja. Ayo ikut om, es krim om ada di sana. Di mobil yang warna putih." Pria itu seraya berdiri hendak menuntun Nadya ke arah mobilnya.


Nadya turun dari bangku, dan menerima uluran tangan pria itu.


Baru saja melangkah, suara seseorang memanggil Nadya dari belakang.


"Nadya." Teriak orang itu, yang tidak lain adalah ayah Nadya. Nadya pun menoleh dan berlari ke arah sang ayah. Melihat ayah dari anak kecil itu, si pria itu pun kabur. Dan dari situlah ayah Nadya tahu, kalau pria itu pasti berniat jahat kepada sang putri.


"Nadya, Om itu nggak ngapa-ngapain kamu kan, Sayang?" Ujar sang ayah, yang kini tengah menggendong anaknya sembari mendekap erat sang anak.


"Nadya nggak apa-apa Ayah, om itu baik kok."


"Nadya, dengerin ayah! Lain kali, Nadya nggak boleh asal ikut sama orang yang nggak dikenal."


"Tapi kata om itu, dia temen Ayah"


"Siapapun itu, kalau Nadya nggak kenal, nggak boleh ikut. Kalau Nadya diculik terus nggak bisa ketemu ayah sama ibu lagi gimana?"


Nadya kecil yang ketakutan pun akhirnya berkaca-kaca.


"Kenapa Nadya nggak boleh lari, Ayah?"


"Kalau Nadya lari, om itu bakal kejar Nadya dan nyakitin Nadya. Nadya paham kan, Sayang?"


"Iya Ayah, maafin Nadya. Nadya masih mau ketemu sama ibu sama Ayah."


Flashback Off.


Sekarang Nadya mengerti apa maksud sang ayah. Dari kejadian itu lah yang membuat Nadya trauma dengan yang namanya penculikan.


Dengan sebisa mungkin, Nadya mecoba mengontrol emosi dan ketakutan yang bergejolak dalam hati dan pikirannya.


Ia harus mengikuti nasehat ayah nya, ikuti permainan orang itu, kemudian ketika orang itu lengah, barulah dia pikirkan cara untuk kabur.


Jika ia memberontak sekarang, yang ada tenaganya hanya akan terbuang sia-sia. Lebih baik ia simpan tenaganya untuk modal kabur nanti. Otak minimalis wanita ini tengah bekerja, mencari jalan keluar yang pas.


Aku pasti bisa, semangat Nadya!


Batin Nadya bergejolak untuk memberikan semangat kepada dirinya sendiri. Karena ia yakin, bahwa semua masalah pasti ada jalan keluarnya.


Duarrr


Tiba-tiba saja suara keras membuyarkan lamunan Nadya.

__ADS_1


Pria sialann ini, membuat jantungku berdebar saja. Untung jantungku masih sehat!


"Apa yang kau pikirkan, Cantik? Jangan mencoba kabur, karena seluruh ruangan ini berada dalam kendaliku!" Ucap Dendy dengan disertai senyum mengerikan.


"Oh, maaf siapa?" Tanya Nadya sembari mendekatkan telinganya seraya mengkode bahwa dirinya tidak paham.


"Aku, berada dalam kendaliku!" Dendy hanya berdecak sebal.


"Yang tanya, hahahaha." Siapa yang tanya, pikir Nadya. Ia tertawa terpingkal-pingkal, walaupun gejolak ketakutan itu masih tersisa di hatinya.


"Ck, menyebalkan!" Dendy sembari memperlihatkan wajah datarnya kembali.


"Hey kau," Dendy memanggil salah satu bodyguard yang tengah berjaga di pintu ruangan.


"Saya, Tuan." Jawab si bodyguard seraya membungkuk menghadap tuannya.


"Cepat kau panggil orang itu, sepuluh menit dari sekarang. Jika lebih maka kepalamu jadi taruhan."


Dengan tegas bodyguard itu mengangguk. Dan berlalu untuk memanggil seseorang yang Dendy maksud.


Dia pikir itu onde-onde apa? Walaupun botak kan itu tetap kepala, seenaknya saja dibuat taruhan!


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Maaf yah, othor cuma bisa up sekalu sehari aja mulai sekarang dan seterusnya, karena othor lagi fokus sama novel baru yang akan segera launching, hehe. Kalian tunggu aja yah, nanti kalau udah launching, pasti othor kasih tau.


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG:@cynshindi

__ADS_1


Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.


__ADS_2