
Hari ini Nadya tengah bersiap diri untuk bertemu dengan partner in crime nya, siapa lagi kalau bukan Tica. Seperti biasa mereka akan bertemu di taman. Nadya akan menjemput dan mengantar Tica.
"Fan, kamu sudah siap?" Ujar Nadya yang kini berada di pintu utama. Hari sudah mulai siang dan matahari sudah sedikit terik. Oleh karena itu, Nadya menggunakan style yang tertutup, jeans yang dipasangkan dengan kaos putih polos. Dan tidak lupa cardigan sebagai penyempurna style Nadya kali ini. Dilihat dari lubang sedotan saja, Nadya masih tetap terlihat kece badai.
"Siap, Nyonya." Dan akhirnya mobil pun melaju menuju ke kediaman Tica. Setelah Tica sudah berada di dalam mobil, mereka pun menuju ke taman. Seperti biasa Fanny akan melajukan mobil dengan santai. Bukan apa, itu adalah perintah dari sang majikan. Supaya bisa menikmati indahnya ibu kota, itulah alasan yang diberikan Nadya.
***
"Akhirnya sampai juga. Ayo, Nad!" Kata Tica seraya menarik tangan Nadya untuk duduk di salah satu bangku taman. Mereka berdua duduk menikmati indahnya hamparan rerumputan hijau di hadapannya. Selain cowo tampan, ternyata taman juga bisa dijadikan objek untuk cuci mata.
"Btw, Nad, aku boleh nanya?" Tica menatap Nadya dengan intens, seakan-akan hendak menanyakan sesuatu yang penting.
"Tumben nanya dulu, biasanya langsung nyerocos aja tuh." Kata Nadya sedikit meledek sahabat karibnya itu. Dan Tica langsung kikuk dibuatnya. Tica sontak saja memukul pelan bahu Nadya.
"Kamu yakin masih mau pakai pil kontrasepsi?" Ujar Tica. Saat Nadya hendak menjawab, Tica kembali berseru. Dan menyela ucapan Nadya.
"Kamu nggak takut ketahuan sama suami kamu? Suami kamu kalau aku lihat dari covernya sih serem yah. Menurut saran aku mendingan kamu berhenti deh, bisa berabe loh kalau ketahuan." Sebenarnya Tica tidak bermaksud untuk menakut-nakuti Nadya. Tetapi ia khawatir Brydan mengetahui semua ini. Kalau dirinya sih tidak masalah, tetapi Nadya yang akan mendapat masalah.
"Aku mau cerita sama kamu, Tic. Kamu tahu kan aku itu masih mau mencari tahu lebih dalam lagi tentang suami aku. Kamu pikirkan, kalau aku sampai hamil, sudah pasti suamiku akan melarangku ini dan itu. Dan pastinya aku tidak akan bisa lagi keluar mansion.
Belakangan ini aku sedang menyelidiki tentang seorang wanita masa lalu suamiku. Naddie itu loh." Nadya menjeda untuk memikirkan kata-kata yang pas supaya Tica bisa menangkap arah pembicaraannya.
Nadya memang sudah memberitahu kepada Tica perihal Naddie. Melalui pesan di handphone, Nadya menceritakan semua yang terjadi kepada Tica. Dan Tica hanya bisa mendengarkan curhat dan keluh kesah sahabatnya itu, tanpa bisa berbuat apapun. Jika Nadya meminta, Tica pasti akan membantu semampunya. Namun Nadya meminta Tica untuk jangan gegabah, alias tetap kalem.
Nadya tahu betul sikap sahabat karibnya itu. Tica paling tidak suka pada yang namanya perebut hak orang. Dan Tica sungguh amat geram saat mendengar cerita Nadya. Jika Tica ada di posisi Nadya, mungkin wanita itu sudah diulegnya menjadi perkedel. Haha.
"Aku akan selalu support kamu, Nad. Dan aku akan mendukung apapun keputusan yang kamu ambil. Aku tahu sahabatku, sahabatku tidak akan mengambil keputusan tanpa berpikir panjang." Ucap Tica berusaha untuk memberikan support serta dukungannya untuk sang sahabat. Menunjukkan rasa peduli dan sayangnya untuk sang sahabat.
Dan Nadya begitu bahagia mendengar support yang selalu mengalir untuknya. Mulai dari Fanny, Tica dan bahkan sang suami. Walaupun Nadya sudah tahu, bahwa ini bukan kali pertama Tica memberikan support untuk dirinya. Tetapi yang namanya mendapat dukungan dari orang tersayang tentu saja selalu membawa kebahagiaan tersendiri bagi kita.
"Btw, Fanny kemana, Nad?" Tica sedikit tersadar kalau sedari tadi dirinya tidak melihat bodyguard yang selalu mengintil kemanapun Nadya pergi. Dan Nadya menunjuk salah satu bangku taman yang tidak terlalu jauh dari bangku yang diduduki oleh keduanya. Tica hanya manggut-manggut saja.
"Tic, lihat deh." Nadya berkata sambil menunjuk abang penjual siomay. Tica yang merupakan salah satu penggemar siomay, sontak langsung berdiri dari duduknya dan hendak menarik tangan Nadya untuk menuju ke abang penjual siomay.
"Ayo Nad, beli itu." Ujar Tica, tetapi Nadya malah mengernyit dahi merasa heran.
"Apanya yang mau dibeli?" Tanya Nadya balik, sepertinya Tica salah paham.
__ADS_1
"Lah kamu kan tadi nunjuk abang siomay."
"Dasar kamu yah, kamu mah bukan pengen tapi doyan." Kata Nadya yang langsung mendapatkan pelototan mata dari Tica. Dan sedetik kemudian keduanya tertawa bersama dengan begitu kencangnya.
"Yang aku lihat itu kucing yang ada di bawah gerobak siomay. Noh lihat!" Nadya kembali menunjuk pada kucing lucu yang bernaung di bawa gerobak siomay di tepi taman. Kucing berwarna campuran kuning dan coklat. Kucing yang terlihat begitu menggemaskan.
"Elah, kan deket juga, Nad!" Keduanya langsung saja menuju ke tepi taman, untuk tujuan yang berbeda. Tica untuk membeli siomay sedangkan Nadya untuk menemui kucing lucu itu.
"Bang, saya mau siomay nya satu porsi yah." Kata Tica kepada abang penjual siomay.
"Mau dibungkus apa makan disini, Neng?"
"Bungkus aja, Bang."
Sedangkan Nadya masih sibuk dengan hewan yang baru saja ditemuinya itu. Digendong dan ditimangnya kucing lucu itu. Nadya semakin gemas saja kepada kucing itu. Karena kucing itu begitu penurut, buktinya kucing itu langsung mau digendong olehnya. Yang notabene nya adalah orang baru.
"Bang, ini kucing siapa?" Tanya Nadya, siapa tahu kucing itu adalah milik abang penjual siomay.
"Saya juga nggak tahu, Neng. Setiap saya mangkal, dia udah ada disini." Jawab abang dan membuat senyum di wajah Nadya semakin berkembang.
"Menurut Abang, kucing ini punya majikan apa nggak?" Nadya kembali bertanya bahwa kucing lucu itu tidak mempunyai pemilik. Supaya dia bisa mengadopsi kucing itu menjadi peliharaannga di mansion.
"Ini, Neng."
"Makasih, Bang." Siomay nya sudah siap dan Tica pun membayar nya. Kemudian mereka berdua kembali ke mobil. Dengan kucing yang masih digendongan Nadya.
***
Diperjalanan pulang, Nadya selalu saja berbicara kepada kucing barunya itu. Hingga Fanny merasa gemas pada majikannya itu.
Bukan hanya Fanny, bahkan Tica saja dibuat gemas oleh perlakuan aneh Nadya pada kucing itu. Bisa dibilang norak yah, haha.
"Nad, aku duluan yah, terimakasih tumpangannya." Saat Tica sudah hendak turun barulah Nadya tersadar. Kalau sedari tadi dirinya hanya sibuk dengan peliharaan barunya itu. Sampai-sampai Tica dan Fanny diabaikannya.
"Ehh udah sampe yah. Dadah Tica." Kemudian mobil pun melaju menuju mansion. Nadya sudah tidak sabar ingin bermain bersama kucing nya itu di dalam mansion. Bahkan Nadya sudah mempunyai rencana yang ia susun rapi sejak tadi. Supaya sang suami mengizinkan dirinya untuk memelihara kucing.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya Nadya sudah sampai di pelataran mansion. Dengan semangat yang berkobar, dia memanggil Pak San.
__ADS_1
"Iya, Nyonya, apa ada yang bisa saya bantu?" Jawab Pak San dengan terburu-buru. Karena dia baru saja selesai mengontrol keadaan mansion.
"Pak San, tolong panggilkan arsitek yang merancang mansion ini yah." Ujar Nadya dengan senyum yang begitu manis.
"Kalau boleh tahu, untuk apa, Nyonya?" Tanya Pak San dengan sopan.
.
.
.
.
.
.
.
Happy Reading and Lop U All
Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗
Biar makin semangat up-nya hehe 😁
Jangan jadi pembaca gelap 🤐
Makasih kakak-kakak sayang ✨
Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah. Banyak info loh disana, hehe
Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah
IG: @cynshindi
Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.
__ADS_1
Sorry guys up nya siang banget🥺 Aku tak berdayaaaaa!