Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-48 Kedatangan wanita ular.


__ADS_3

Inilah yang Brydan takutkan jika sampai mempublish pernikahannya. Wanita itu pasti akan mengganggunya lagi dan lagi. Seperti saat dirinya berhubungan dengan Velyn dulu.


Sudah puluhan kali Brydan mengusir bahkan memaki wanita itu dengan kata-kata yang sangat kasar. Tetapi hal itu tidak bisa membuat wanita itu sadar mengenai kesalahan yang diperbuatnya. Tapi Brydan tidak akan lagi diam jika wanita itu sampai mengancam keselamatan istrinya.


_____________________ 00 _____________________


"Selamat pagi, Kakak dan Kakak ipar." Ucap Edward dengan senyum manis yang merekah. Dan dibalas senyum yang tak kalah manis oleh Nadya.


"Selamat pagi, Nyonya dan Tuan." Ucap Sekertaris Dendy dan juga Pak San. Keduanya tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Sekertaris Dendy dengan handphone nya dan Pak San sibuk menata makanan untuk sarapan.


"Selamat pagi, semuanya."


Makan telah usai beberapa menit yang lalu. Dan sang suami pun sudah berangkat tepat setelah makan selesai. Nadya hanya duduk termenung di sofa ruang tamu.


Dengan Fanny di sebelahnya. Istri dari Brydan itu tengah memikirkan siapa wanita yang mengaku-ngaku menjadi istri Brydan. Akun yang bernama @Nadya_Kr.


"Fan, apa yang akan kau lakukan jika ada seseorang yang ingin merebut kekasihmu?" Entah mengapa pertanyaan itu secara spontan terlontar dari bibir Nadya.


"Saya tidak akan ambil pusing, Nyonya. Saya percaya Edward adalah laki-laki setia. Dan saya juga percaya bahwa Edward tidak akan mungkin mengkhianati kepercayaan saya." Kalimat yang diucapkan oleh Fanny berhasil membuat Nadya terhipnotis.


Dia tidak pernah menyangka seorang Fanny bisa berkata seperti itu. Nadya tahu, Fanny adalah pribadi yang cuek dan dingin terhadap seseorang yang baru dikenalnya.


Tetapi sepertinya bersikap cuek adalah salah satu hal yang perlu ia terapkan mulai saat ini.


"Apa aku harus bersikap cuek untuk semua yang terjadi, Fan?" Tanya Nadya lagi, tetapi kali ini Nadya terlihat begitu serius. Bahkan dia menatap manik Fanny dengan lekat.


"Itu lebih baik, Nyonya."


***


"Tuan, dia datang." Sekertaris Dendy yang baru saja ingin meminta tandatangan Brydan, sontak terkejut saat melihat wanita yang begitu dia kenal kini tengah berjalan menuju ruangan Brydan.


Dengan percaya dirinya, wanita itu berjalan terus ke lantai atas dimana ruangan Brydan terletak.


Sekertaris Dendy yakin bahwa wanita itu hanya membawa kesialan untuk hidup tuannya. Akhirnya dia memilih mengirimkan sebuah pesan untuk tuannya. Karena dia malas jika harus berhadapan dengan wanita itu lagi dan lagi.


Sudah puluhan bahkan ratusan kali Sekertaris Dendy meminta wanita itu untuk menjauh dari hidup tuannya.


Bahkan Sekertaris Dendy tidak segan mengirimkan wanita itu ke negara yang jauh dari negara tuannya. Tetapi nihil, wanita itu tetap bisa kembali.


Wanita itu dengan percaya dirinya masuk tanpa mengetuk pintu. Brydan yang sudah tahu mengenai kedatangan wanita itu, langsung mempersiapkan dirinya. Dia terlihat cool seperti biasa.


"Hallo, Dear." Ucap wanita itu kepada Brydan.

__ADS_1


Wanita itu berjalan ke arah Brydan. Dia dengan tidak tahu dirinya memeluk Brydan dan hendak mencium Brydan. Brydan yang merasa jijik, sontak mendorong tubuh wanita itu dengan keras.


"Berhenti menganggu hidupku! Dan berhenti menganggu hidup istriku!" Brydan bahkan langsung to the point. Dan wanita itu hanya tersenyum miring. Dia seakan tuli dan tidak mengindahkan ancaman yang Brydan berikan.


"Jika aku tidak menghargai ayahmu, mungkin aku sudah melenyapkan dirimu." Brydan menunjuk wajah wanita itu dengan angkuhnya.


Saat wanita itu hendak bicara, Sekertaris Dendy datang dengan membawa beberapa berkas di genggaman tangannya.


Sekertaris Dendy amat sangat kesal, karena tadi resepsionis menelfon nya dan mengatakan kalau ada seorang wanita yang mengaku sebagai istri dari Tuan Brydan. Dan karena wanita itu mengancam akhirnya resepsionis memperbolehkan untuk masuk.


"Tuan, ada berkas yang perlu untuk ditandatangani." Ujar Dendy tanpa mempedulikan kehadiran wanita itu.


"Lama tidak berjumpa, Sekertaris Dendy." Kata wanita itu yang langsung dihadiahi delikan mata dari lawan bicaranya.


"Owh, ternyata ada Nona Naddie." Balas Sekertaris Dendy.


"Sekarang jangan panggil aku Naddie, tapi Nadya!" Dengan angkuhnya Naddie mengakui nama Nadya sebagai namanya.


"Kau tau kan pintu keluar yang mana?" Brydan sudah mulai tersulut emosi. Dia benar-benar lelah menghadapi wanita satu itu.


Jika saja dia laki-laki, mungkin Brydan sudah melenyapkannya sejak lama. Tetapi sayangnya musuh nya kali ini bukanlah laki-laki.


"Kau mengusirku, Dear?" Tanya Naddie dengan wajah yang dibuat-buat seolah tengah bersedih. Naddie memang wanita licik yang amat Brydan benci sejak dulu.


"Kau merasa? Kalau begitu silahkan keluar!" Brydan ingin sekali mencekik wanita ular itu. Bukan hanya Brydan tetapi Sekertaris Dendy juga ikut geram melihat wanita ular itu.


Bahkan Sekertaris Dendy sudah mengambil ancang-ancang untuk menyeret wanita itu keluar dari kantor milik tuannya. Tetapi Brydan menahannya.


"Tidak perlu mengotori tanganmu, Den." Dan benar saja, dua security berbadan besar langsung menyeret Naddie keluar. Ternyata sedari tadi Brydan sudah memanggil tim keamanan di kantornya.


"Aku pasti akan mendapatkan dirimu, aku akan merebut dirimu dari istrimu." Teriak Naddie yang telah menghilang diseret oleh kedua security yang Brydan panggil.


"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Fanny selalu pasang badan untuk Nyonya kecil." Ujar Sekertaris Dendy. Seakan tahu apa yang tengah dikhawatirkan oleh tuannya.


"Jika saja dia bukan putri dari Uncle Gerald, maka sudah aku lenyap kan dia!" Brydan sudah mengepalkan tangannya. Tetapi Sekertaris Dendy berusaha untuk menenangkan sang atasan, supaya tidak bertindak gegabah.


Sekertaris Dendy paham benar, kalau wanita seperti Naddie tidak bisa diatasi dengan kekerasan. Tetapi dengan kecerdasan.


"Wanita itu tidak bisa diatasi dengan kekerasan, Tuan. Tetapi dengan kecerdasan." Sekertaris Dendy pasti akan menentang segala hal yang membuat Brydan merasa tidak nyaman.


"Kembalilah, Den." Setelah menandatangani berkas-berkas tadi, Brydan meminta Sekertaris Dendy untuk keluar. Dia ingin sendiri, dan memikirkan cara untuk menyingkirkan wanita ular itu.


***

__ADS_1


Waktu begitu cepat berlalu, kini Brydan dan Dendy sudah dalam perjalanan pulang. Brydan sudah tidak sabar menemui istrinya. Begitupun dengan Dendy yang sudah sangat lelah dan ingin mengistirahatkan dirinya.


Beberapa menit berselang, akhirnya mobil yang ditumpangi Brydan sudah sampai di mansion.


"Saya pamit pulang dulu, Tuan. Sampaikan salam saya untuk Nyonya kecil." Kata Dendy sebelum melajukan kereta besinya untuk keluar dari mansion Brydan.


"Selamat datang, Sayang." Pucuk dicinta ulam pun tiba. Makhluk yang sedari tadi Brydan cari baru saja memunculkan batang hidungnya.


"Darimana saja?" Tanya Brydan dengan heran, tidak biasanya sang istri terlambat menyambut kedatangannya.


"Aku baru saja selesai mandi, Sayang." Dan diangguki oleh Brydan. Nadya membawakan tas kerja sang suami dan melangkah bersama menuju kamar mereka.


"Mandilah, aku sudah siapkan airnya." Ujar Nadya yang kini tengah menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Beberapa menit yang lalu dia sudah meminta sang suami untuk mandi, tetapi Brydan masih saja melamun. Entah apa yang dilamunkan oleh Brydan.


.


.


.


.


.


.


.


Happy reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG: @cynshindi

__ADS_1


Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.


__ADS_2