Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-39 Surat pemecatan Fanny?


__ADS_3

***


Jika di dalam Nadya dan Brydan sedang terjadi perseteruan antara suami dan istri. Maka di dalam ruang kerja Brydan, sedang dilanda ketegangan antara Sekertaris Dendy dan Fanny. Sedari tadi, Sekertaris Dendy terus mencecar Fanny dengan pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab.


Bukannya tidak mau menjawab, tapi Fanny masih ragu untuk menjawabnya. Sedangkan Sekertaris Dendy terus saja memaksa Fanny untuk buka mulut. Karena Sekertaris Dendy membutuhkan jawabannya malam ini juga. Dan sebentar lagi akan ada hukuman yang menimpa Fanny tentunya.


"Katakan secara rinci. Kenapa kau melanggar perintah Tuan Brydan. Kenapa kau melanggar kepercayaan yang diberikan oleh Tuan Brydan. Kau tidak mungkin melakukannya sendirian kan? Lalu siapa yang membantumu melakukan kesalahan ini? CEPAT JAWAB!" Sekertaris Dendy terus saja menghardik Fanny dengan berbagai macam pertanyaan. Hingga suaranya bertambah satu oktaf di akhir kalimat.


Jantung Fanny sudah berpacu cepat sedari tadi.


Flashback On.


Kling.


Dering handphone Fanny berbunyi saat dia hendak memasuki mansion. Dan ternyata ada sebuah pesan masuk.


Sekertaris Dendy : "Kau antar nyonya ke kamar!"


Dan setelah mengantar Nyonya Nadya ke kamar, Fanny hendak menemui Pak San. Tapi seseorang menepuk bahunya dari belakang. Dan benar dugaan Fanny, riwayatnya akan benar-benar tamat. Karena orang itu adalah Sekertaris Dendy.


"Ikut aku ke ruangan kerja Tuan Brydan!" Ucap Sekertaris Dendy disertai tatapan tajamnya. Dan perkataan Sekertaris Dendy sukses membuat jantung Fanny seakan-akan ingin keluar dari tempatnya. Jika Nyonya Nadya saja dihukum, apalagi dirinya? Pikir Fanny.


"Baik, Tuan." Fanny menyahut dengan sedikit gugup. Dan Sekertaris Dendy bisa melihat kegugupan dari suara itu. Kalau orang tidak bersalah, tidak akan gugup. Kalau orang gugup sebelum di eksekusi, itu artinya dia mengakui bahwa dirinya memang bersalah. Itulah yang Sekertaris Dendy perkirakan.


Sekertaris Dendy sudah mendahului Fanny, masuk ke dalam ruangan kerja Brydan. Fanny terlihat menundukkan kepalanya menghubungi seseorang saat hendak masuk ke ruangan kerja Brydan.


Fanny : "Aku dihukum."


Dan Fanny mengirimkannya. Entah apa yang akan dilakukan orang itu, Fanny tidak lagi peduli. Karena dia sedang memikirkan nasib dirinya setelah masuk ke dalam.


Ceklek.


Saat Fanny membuka pintu, terlihat Sekertaris Dendy tengah mengetuk meja menggunakan jari telunjuk nya.


"Kau jalan menggunakan kepalamu? Kenapa kau lama sekali? Aku tidak suka orang lambat!" Baru saja masuk, bukannya dipersilahkan duduk. Malah dicecar dengan ucapan tidak mengenakkan.


"Maaf, Tuan." Fanny hanya menundukkan kepalanya.


"Aku tidak butuh maaf mu! Duduk!" Titah Sekertaris Dendy.


Flashback Off


"Apa kau tuli? AKU BILANG JAWAB!" Dan lagi-lagi Fanny menerima bentakan yang amat keras.


"Apa kau tau, kalau perbuatan mu itu bisa membuat nyonya menjadi tidak aman." Sekertaris Dendy kembali berucap dengan sinis nya.


"Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya sudah memperingatkan nyonya, tapi beliau mengabaikan peringatan saya." Fanny mencoba membela dirinya dengan memberikan pernyataan sebenarnya.


"JANGAN MENYALAHKAN NYONYA." Sekertaris Dendy terus saja menghardik Fanny dengan bentakan keras. Hal itu membuat Fanny semakin gugup. Dia tidak tahu lagi harus menjawab apa.

__ADS_1


"Lalu untuk apa tuan mempekerjakan dirimu. Jika kau masih tidak bisa menjaga nyonya!" Sekertaris Dendy mengeluarkan sebuah file dari dalam laci.


Itu adalah surat pemecatan! Fanny menggelengkan kepalanya, dia masih mau bekerja. Dia masih butuh pekerjaan ini.


"Saya mohon, Tuan. Jangan pecat saya. Saya akan menerima hukuman apa saja. Asalkan jangan pecat saya." Fanny menyatukan kedua telapak tangannya di dada. Kali ini air matanya sudah menggenang dan siap untuk meluncur.


"Kau tidak mau dipecat?" Tanya Sekertaris Dendy.


"Ya, Tuan." Jawab Fanny.


"CEPAT KAU BERSUJUD DI KAKI TUAN BRYDAN!" Bentakan ini sukses membuat air mata Fanny jatuh dari tempatnya.


"Hiks... hiks.. hiks..."


"Akan saya lakukan, Tuan." Fanny membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi keluarga nya di kampung.


Fanny berdiri hendak menuju ke kamar Brydan. Dan Sekertaris Dendy berjalan membututi Fanny.


Fanny sudah akan mengetuk pintu kamar Tuan Brydan. Tapi dia urungkan setelah mendengar bentakan keras dari dalam kamar. Sepertinya dia tahu apa yang sedang terjadi. Dan Fanny lebih memilih menunggu hingga sang pemilik kamar keluar dengan sendirinya.


"Ini semua karena ulah mu!" Sekertaris Dendy mengambil posisi duduk di kursi sebelah Fanny.


"Maaf, Tuan." Hanya itu yang dapat dikatakan oleh wanita malang ini. Fanny tengah berharap semoga dirinya tidak dipecat oleh Tuan Brydan.


Aku mohon Tuhan, aku masih membutuhkan pekerjaan ini. Aku mohon lembutkanlah hati tuan. Agar beliau bisa memaafkan aku dan berdamai dengan nyonya.


Air mata Fanny sudah menetes di lantai bahkan membasahi kain baju nya.


Fanny mengambil tissue kering dan mengeluarkan sesuatu kental dari hidung nya. Yang sedari tadi membuat nafasnya terdesak.


"Hei hentikan! Aku jijik melihatnya." Fanny langsung membuang tissue itu pada tempatnya. Setelah Sekertaris Dendy memandang aneh ke arahnya.


"Biarkan saya menangis, Tuan."


"Lemah, cih."


Fanny tidak lagi mempedulikan ucapan makhluk satu itu. Dia hanya fokus kepada nasib dirinya sebentar lagi.


Kling.


Dering handphone Fanny dari dalam saku celananya. Fanny menyalakan benda pipih itu dan melihat pesan yang masuk.


Dan betapa terkejutnya Fanny saat membaca pesan yang dikirimkan oleh seseorang.


"Ini akan menjadi seru." Gumam Fanny saat membaca pesan tersebut.


"Apa dia sudah mulai gila. Dia enak tidak kena marah, tapi aku?" Lirih Fanny dengan sangat pelan agar tidak didengar oleh Sekertaris galak di sampingnya.


Fanny : "Aku tidak mau dipecat!"

__ADS_1


Fanny membalas pesan masuk itu.


"Jangan khawatir, aku akan segera ke sana setelah ini." Balas orang tersebut. Dan hanya diread oleh Fanny.


"Tu..." Fanny tidak melanjutkan perkataannya, karena orang yang akan diajak bicara sudah tidak nampak lagi. Sekertaris Dendy sudah tidak ada di sebelah Fanny. Dan tidak lama, Fanny melihat Sekertaris Dendy membawa segelas minuman. Seperti teh dicampur dengan susu. Milktea, ya itu milktea.


"Tuan, kenapa hanya membuat satu?" Fanny bisa-bisanya berkata seperti itu di saat nasibnya sedang genting.


"Hei, kau pikirkan nasibmu. Kenapa malah memikirkan Milktea?" Sahut Sekertaris Dendy dengan nada yang ketus.


"Baiklah." Fanny bangun dari posisinya dan melangkah menuju pintu kamar. Dia berjalan ke kanan dan ke kiri.


10 menit kemudian tidak ada yang berubah, Milktea Sekertaris Dendy sudah habis. Dan Fanny tetap berjalan seperti setrikaan.


"Hei, kau mau aku jatuhkan dari sini?" Ancaman yang membuat Fanny bergidik ngeri.


"Tidak, Tuan."


"Duduk!" Titah Sekertaris Dendy, Fanny langsung duduk di diam. Daripada dia meregang nyawa karena jatuh dari lantai dua.


"Aku hendak ke belakang dulu. Jika kau berani berpindah satu centi dari posisi mu saat ini. Aku pastikan besok kaki mu tidak akan ada di tempatnya!" Fanny langsung berkeringat dingin, yang tadi menangis. Sekarang langsung diam.


"Ba.. baik, Tuan." Sahutnya.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah

__ADS_1


IG: @cynshindi


nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.


__ADS_2