Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-60 Berkunjung.


__ADS_3

Tidak sia-sia Dendy menyelidiki dan akhirnya ia menemukan pelakunya. Sudah sejak tadi Dendy mencari tahu, sampai ia meretas cctv jalan.


Namun, dirinya ingat, kalau ia memasang cctv rahasia di salah satu pohon yang ada tepat di sebelah tempat sampah. Dan bahkan wajah pelakunya terlihat begitu jelas.


"Tuan, saya menemukan pelakunya," ujar Dendy kepada Brydan yang terlihat tengah berkutat dengan beberapa berkas. Keduanya memang berada di kantor. Brydan mengehentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Dendy. Ia mengkode Dendy untuk segera memperlihatkan buktinya.


Dengan segera, Dendy mengirimkan sebuah video rekaman cctv ke handphone milik Brydan. Setelah itu, Brydan melihat dengan saksama video yang baru saja Dendy kirim.


Brydan sudah menduga bahwa wanita itu pasti pelakunya. Entah apa masalah wanita itu dengan sang istri hingga wanita itu begitu ingin mencelakai istrinya.


"Naddie!" Brydan terlihat mengepalkan kedua tangannya.


"Kita temui Uncle Gerald sekarang juga. Ini sudah keterlaluan!" Apalah daya Dendy sekarang, ia hanya mematuhi perintah dari Brydan.


"Baik, Tuan, apa kita akan memberikan pelajaran untuk Nona Naddie?" Tanya Dendy dengan hati-hati. Karena ia bisa saja terkena imbas kemarahan tuannya itu.


"Tentu, Den!" Jawab Brydan dengan penuh penekanan. Ia sudah diam ketika istrinya dipermalukan oleh Naddie, tetapi sekarang adalah saatnya untuk bertindak. Jika begini terus, lama-lama istrinya bisa tertekan.


"Jika Uncle Gerald lagi-lagi tidak bisa mengatasi kelakuan putrinya, maka jangan salahkan aku jika aku bertindak dan melukai putrinya!"


"Anda harus bisa mengendalikan emosi, Tuan. Karena musuh kita kali ini bukanlah seorang pegulat, melaikan seekor ular berbisa," Dendy saja sudah geram kepada satu wanita ini, apalagi Brydan.


Dendy benar-benar tidak habis pikir kalau ada banyak Naddie-Naddie lain di luar sana. Satu Naddie saja sudah membuatnya pusing tujuh keliling.


Bukannya Dendy takut untuk bertindak. Tetapi ia bukanlah seorang pengecut yang hanya bisa memukul wanita. Ibunya adalah wanita, lalu bagaimana bisa ia memukul wanita.


"Kau benar, Den," jawab Brydan.


***


"Nak Brydan, sudah lama tidak bertemu. Apa kabar Nak Brydan dan juga Sekertaris Dendy?" Sesampainya mereka di mansion Uncle Gerald, mereka langsung disambut dengan begitu ramah oleh Aunty Karin.


Ibunya berhati malaikat lalu bagaimana anaknya bisa berhati iblis? Ibunya begitu baik dan ramah. Tetapi putrinya adalah biang masalah.


"I'm fine, Aunt. To the point, saya kesini untuk menemui Uncle Gerald, apa beliau ada?" Tanya Brydan dengan tetap sopan kepada ibu dari rivalnya. Begitupun dengan Dendy yang hanya menampilkan senyum tipis dan anggukan kepala.


"Uncle Gerald sedang tidak enak badan. Mari masuk," ujar Aunty Karin mempersilahkan mereka berdua untuk masuk.


Dendy dan Brydan duduk di sofa yang sama berseberangan dengan kedua tuan rumah. Raut wajah Brydan terlihat sekali jika sedang menahan kekesalan.

__ADS_1


"What's wrong, Brydan?" Berbeda dengan sang istri, Uncle Gerald memang jauh lebih tegas. Uncle Gerald adalah pribadi yang disiplin dan berwibawa.


"Den, jelaskan!"


"Kedatangan kami kemari, hanya untuk menunjukkan kelakuam putri kesayangan Uncle." Dan Dendy langsung memberikan bukti cctv itu kepada Uncle Gerald. Karena orang tua Naddie masih belum juga paham, akhirnya Dendy menjelaskan.


"Jadi, Nona Naddie sudah keterlaluan. Dia menukar produk asli yang dipesan oleh istri Tuan Brydan dengan produk palsu. Jika saja Nyonya Nadya sampai memakai produk itu, bukan tidak mungkin kulitnya akan rusak. Karena saya sudah meminta bantuan anggota saya untuk memeriksa produk palsu itu. Dan ada banyak bahan kimia berbahaya. Yang bahkan bisa membuat kulit menjadi terbakar." Dengan panjang lebar Dendy menjelaskan kepada kedua orang tua Naddie.


"Saya masih diam, bukan berarti saya menerima perlakuan Naddie kepada istri saya! Sekali lagi hal ini terjadi, maka jangan salahkan saya jika Naddie enyah dari muka bumi ini!" Brydan menimpali perkataan Dendy dengan tegas.


"Maafkan putri kami, Nak Brydan."


"Saya sebagai ayahnya begitu merasa bersalah karena telah gagal mendidiknya. Saya akan bersikap tegas kepadanya. Saya akan menghukum Naddie!" Uncle Gerald begitu kecewa atas sikap Naddie yang sudah membuat dirinya malu.


"Tetapi, kenapa kamu tidak mengundang kami untuk datang ke pernikahan kalian?" Tanya Aunty Karin. Karena dirinya baru saja tahu kalau Brydan sudah menikah, saat Brydan mengumumkannya di konferensi pers.


Sebenarnya Brydan sudah menganggap Aunty Karin dan Uncle Gerald seperti kedua orangtuanya sendiri. Karena semenjak kepergian sang ayah, Uncle Gerald lah yang sering kali membantu Brydan dan juga Dendy.


Pada saat Brydan masih terpukul atas kepergian kedua orangtuanya, Uncle Gerald lah yang memegang kendali perusahaan sang ayah. Dan Aunty Karin yang membantunya untuk bangkit.


Berbeda dengan Dendy, saat ia mendengar kabar kepergian sang ayah karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja. Sontak saja ia langsung menemui sang ibu. Bukan dirinya yang saja yang merasa terpukul, tetapi juga pasti sang ibu yang lebih terpukul lagi. Ia lebih memilih untuk diam menahan semua kesedihan hatinya. Dan menguatkan sang ibu.


Banyak yang sudah tuan besar lakukan untuk keluarganya. Hingga pengabdian Dendy tidak akan cukup untuk membalas semua jasa tuan besar.


Akhirnya Brydan menceritakan kepada Aunty Karin dan Uncle Gerald mengenai pertemuannya dengan Nadya. Dan mereka berdua benar-benar terkejut seorang Brydan Robson yang terkenal dingin dan tak tersentuh, akhirnya luluh pada seorang gadis biasa.


Brydan tidak menceritakan semua ulah Naddie kepada orangtuanya, karena Brydan tidak mau membuat Uncle Gerald semakin sakit saat mendengar berita buruk yang ia bawa.


"Oh ya, Nak Brydan sama Sekertaris Dendy mau minum apa?" Bagaimana bisa Karin melupakan suguhan untuk tamu spesialnya ini.


"Tidak perlu repot, Aunt. Brydan mau pamit dulu, masih banyak pekerjaan," Dendy juga mengangguk.


"Kalian ini tega sekali yah, sudah jarang bertemu sekalinya bertemu langsung mau pulang. Aunty kan juga kangen sama putra kecil Aunty."


"Baiklah, Brydan akan disini sampai beberapa saat lagi." Ujar Brydan dengan senyum tipisnya.


Akhirnya Aunty Karin meminta pelayan untuk membuat suguhan untuk kedua tamu spesialnya kali ini.


"Oh ya, bagaimana kabar adikmu yang nakal itu?" Aunty Karin memang sering gemas pada makhluk satu itu, siapa lagi kalau bukan Edward. Karena Edward memang sangat nakal. Saat kecil dulu, Edward lah yang sering ia jewer. Karena suka sekali mengganggu kakaknya.

__ADS_1


"Dia sudah dewasa, Aunt. Sekarang sudah mempunyai bisnis sendiri. Dan dia baik."


"Jika Aunty dan Uncle ada waktu luang, sempatkanlah untuk berkunjung ke mansion daddy."


"Tentu, Sayang."


***


Setelah pulang dari mansion Uncle Gerald, Brydan kembali menuju ke kantor. Karena pekerjaannya memang menumpuk. Sekertaris Dendy juga memiliki segunung pekerjaan, hanya saja ia meninggalkan pekerjaannya. Karena harus menyelidiki pelaku kejahatan kepada istri Tuan Brydan.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG: @cynshindi

__ADS_1


Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.


__ADS_2