Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-85 Kehancuran Naddie.


__ADS_3

Masih dengan drama yang berlanjut, dimana kakak dan adik yang terpisah selama dua puluh tahun lebih itu kini bertemu. Nadya terus saja menangis sesenggukan, sembari memeluk erat adiknya. Begitupun dengan wanita yang merupakan adik Nadya itu. Ia terus menangis, semenjak tahu kebenarannya dari kedua orangtua angkatnya, ia merasa begitu terpukul.


"Ve... Velyn?" Brydan menganga, hatinya tergelitik melihat kenyataan yang baru saja terungkap. Bahwa adik dari istrinya adalah mantan kekasihnya.


"Jadi, ini Velyn yang kamu maksud, Sayang?" Nadya berbalik, ia tatap netra suaminya. Yang terlihat begitu terkejut akan kenyataan yang baru saja terungkap itu.


"Iya." Sahut Brydan.


"Oh My God, kenapa kisah cintaku begitu rumit, Tuhan. Jadi selama ini aku menikah dengan mantan kekasih adikku sendiri, benar-benar lucu bukan?"


"Jadi, Kakak adalah istri Bry, ah maksudku Kak Brydan?"


"Cih, sejak kapan kau memanggil aku dengan panggilan kakak?"


"Sudahlah Tuan, berdamai lebih baik."


"Diam kau sialan, dasar jomblo abadi!"


"Sudahlah Sayang, terima saja kenyataan ini dan cobalah berdamai dengan keadaan. Sekarang dia adalah adikku."


Perdebatan-perdebatan kecil terus berlanjut karena keangkuhan sang penguasa itu. Hingga Brydan teringat akan sumpahnya dulu, di saat Velyn meninggalkan dirinya dan lebih memilih kariernya.


Brydan menarik lengan istri, hingga Nadya jatuh dalam pelukan pria itu. Kemudian ia membelitkan lengan kekarnya di pinggang ramping istrinya. Dan tanpa malunya, ia menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya di hadapan semua orang.


"Ehmpp..." Nadya tercekat, lidahnya dibelit paksa oleh suaminya itu. Lama-kelamaan dirinya pun jatuh dalam buaian bibir suaminya dan ikut menikmati permainan bibir itu.


"Oh God!"


Seketika semua orang yang ada di dalam ruangan itu memutar bola matanya malas. Keromantisan Tuan dan Nyonya nya itu seakan tidak ada habisnya. Dendy sudah terbiasa dan sekaligus jengah dengan tontonan delapan belas plus itu.


"Sekarang aku telah menepati sumpahku, Velyn."


"Cih, aku tak peduli. Kalau aku tak berbohong bahwa aku dijodohkan, kau tidak akan mungkin bersama kakakku sekarang!"


"Lepaskan aku, brengsekk!"


Semua perhatian tertuju pada Naddie yang baru saja datang. Naddie terlihat begitu mengenaskan dengan baju compang-camping dan makeup berantakan. Ada dua bodyguard berbadan kekar yang setia memegang tangannya agar wanita itu tidak kabur.


"Sayang, kita apakan wanita satu ini?"


"Kau tenang saja, Bey. Aku sudah memiliki semua bukti kejahatan wanita ular ini. Dan aku sudah meminta Dendy untuk melaporkan semua kejahatannya ke pihak yang berwajib."


Dendy segera saja meminta salah satu bawahannya untuk segera menyerahkan semua laporan itu ke kantor polisi. Dan ia akan menyeret paksa wanita pengganggu itu.


"Dia Kak, wanita ini yang telah menculik kami. Bahkan di sini kami tidak diberi makan dengan baik. Lihat saja, mommy dan daddy sampai lemas kelaparan." Velyn yang geram akan tabiat Naddie, segera saja mengadukan perbuatan wanita itu pada sang kakak.


Nadya pun geram, tetapi ia tidak boleh main hakim sendiri. Biar yang berwenang yang akan menangani wanita itu.

__ADS_1


"Dia akan mendapatkan balasan atas semua tindakannya, Velyn!"


"Benar, Nona Velyn."


"Jangan, aku tidak mau dipenjara! Lepaskan aku!" Sekuat apapun Naddie memberontak, ia tidak akan bisa lolos lagi sekarang. Brydan benar-benar membuktikan ucapannya untuk menyingkirkan wanita ular itu. Walaupun Naddie merupakan putri dari sahabat daddy-nya, tetapi Naddie juga adalah seorang penjahat yang harus dihukum.


Kini semuanya telah berbahagia, kehidupan rumah tangga mereka akan aman dan damai tanpa gangguan dari Naddie lagi. Dan Nadya selalu berdoa, semoga tidak ada Naddie-Naddie lain di luar sana yang akan menganggu kehidupan rumah tangga orang.


***


Makan malam kali ini terasa begitu indah. Brydan mengundang keluarga Velyn untuk makan malam di rumahnya. Dan Nadya juga mengundang sahabat yang selama ini telah ia lupakan, siapa lagi kalau bukan Tica. Dan juga Fanny.


Makan malam dimulai dengan kebisuan seperti biasanya. Sang penguasa itu telah bertitah, tidak ada suara manusia saat makan tengah berlangsung. Siapa yang berani membantah, oh tentu tidak ada.


Setelah lima belas menit berselang, semua anggota telah menyelesaikan makan malam. Mereka berkumpul di taman belakang mansion Brydan. Malam yang indah dengan hawa yang dingin dan gemerlap lampu taman. Serta kumbang-kumbang kecil yang berterbangan di bunga mawar di taman itu. Brydan menyediakan kursi khusus, yang muat untuk diduduki banyak orang.


"Nad, aku engga muat, nih." Tica protes karena kursinya hanya muat untuk dua orang. Nadya dan Brydan, Velyn dan Fanny dan kedua orangtua Velyn di kursi berikutnya. Kini hanya tinggal kursi Dendy saja yang kosong dan masih muat satu orang lagi.


"Itu kursinya Dendy masih muat satu orang. Kamu duduk aja di situ." Sahut Nadya masih tetap menatap Brydan.


"Ck!" Dengan sangat terpaksa, ia duduk di sebelah Dendy. Walaupun mulutnya masih menggerutu, karena pria itu benar-benar menyebalkan menurutnya. Sudah tahu dirinya tidak dapat tempat duduk, bukannya ditawarkan untuk duduk di sebelahnya. Eh malah diam saja seperti patung.


Yang lainnya bercengkrama, hanya Dendy dan Tica saja yang saling diam-diaman. Sepertinya Tica akan membeku beberapa saat lagi. Karena tidak tahan lagi, akhirnya Tica angkat bicara. Jika berdiam diri terus seperti ini, lama-lama ia akan stres.


"Mas, Anda itu bisu apa bagaimana? Saya ini manusia loh, ajak ngomong sedikit kenapa sih?"


Namun nihil, tak ada sahutan dari lawan bicaranya. Dendy hanya diam saja, karena dirinya tidak merasa dipanggil. Wanita itu tidak memanggilnya dengan benar.


"Aku bukan patung."


"Lalu apa? Mayat?"


"Kau yang buta, jelas-jelas aku manusia!"


"Kalau manusia kenapa tidak menyahut saat diajak bicara?"


"Karena aku tidak merasa kau bicara denganku!"


"Dasar bodoh akut."


"Siapa?"


"Kau!"


"Tanya."


Begitu saja terus, perdebatan mengesalkan itu tidak akan ada habisnya. Yang perempuan terlampau bar-bar dan yang pria terlampau banyak diam. Mereka berdua itu adalah makhluk yang bertolak belakang satu sama lain.

__ADS_1


"Saya sudah punya pacar, jauh-jauh dari saya." Tica seraya menjauh, memberi jarak.


"Cih! Siapa yang bernafsu dengan wanita bar-bar seperti dirimu!"


"Sial, dia mengatakan aku bar-bar?"


"Bar-bar itu prestasi, jangan bar-bar kalau engga jago!"


Dendy diam, percuma saja meladeni wanita tidak beretika itu, pikirnya. Wanita yang sama sekali bukan tipenya. Sudah muka pas-pasan, kelakuan tidak sopan, membuat Dendy geli melihat wanita satu itu. Entah mengidam apa ibunya saat melahirkan wanita itu.


"Lihat Sayang, sepertinya mereka berdua cocok."


"Sudahlah, berhenti menjadi Mak comblang, kau dengar sendiri kan sahabatmu itu sudah mempunyai pacar."


"Tapi siapa tahu mereka jodoh kan, Sayang."


"Berhenti mengurusi Dendy, Bey!"


"Ah, baiklah maafkan hamba Tuan."


"Dasar istri nakal!"


Brydan dan Nadya terus bercanda ria, bermesraan seakan dunia hanya milik berdua, sedangkan yang lain pada nyewa.


Di hati paling dalam, Nadya lega kini masalahnya telah berakhir. Adik tercintanya telah ia temukan.


Ibu dan Ayah, berbahagialah kalian di sana. Adik sekarang sudah ada bersamaku, kami sudah bahagia, Ayah Ibu.


.


.


.


.


.


.


.


TAMAT-


ALHAMDULILLAH, SYUKUR TERUS BISA TAMATIN KARYA PERTAMAKU. ENJOY TERUS YAH, MAMPIR DI KARYAKU YANG LAIN


MAKASIH BUAT KALIAN SEMUA, TANPA KALIAN KARYA INI BUKAN APA-APA. LOVE KALIAN BANYAK-BANYAK.

__ADS_1


UNITY OF LOVE- (Kisah Dendy)


THE CEO'S GENIUS DAUGHTER-


__ADS_2