Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-64 Will you be with me forever?


__ADS_3

Nadya tertegun, karena mendadak ada banyak orang di sisinya. Posisinya sekarang tengah berbaring di sebuah brankar, karena seingatnya tadi. Ada orang yang menyuntikkan sesuatu di lengannya, kemudian ia tidak ingat apapun lagi.


"Auchh, dimana aku?" Gumamnya dengan suara yang terdengar begitu lembut. Kepalanya bahkan masih sedikit terasa berdenyut.


Apa ini, kenapa aku dipakaikan baju pengantin? Dan apa ini, kenapa wajahku berat? Seperti orang mau menikah saja. Batinnya bergejolak, ia bertanya-tanya kenapa penampilannya mendadak berubah? Ia masih belum paham semua ini.


"Keluar semua!" Dendy masuk ke dalam ruangan dan meminta semua orang yang berada di dalam ruangan untuk segera keluar.


"Baik, Tuan." Ujar mereka.


"Apa maksud semua ini? Apa yang kau rencanakan? Berhenti mempermainkan aku!" Dengan suara dingin dan ekspresi datar, Nadya berbicara seangkuh mungkin.


"Kau lihat apa yang kau kenakan sekarang? Dan apa yang aku kenakan sekarang? Kau tau bukan apa yang akan segera terjadi?"


Dengan santainya, Dendy melangkah ke sisi brankar Nadya. Ia menunjukkan kepada Nadya apa yang tengah dikenakannya sekarang.


Dendy mengenakan tuxedo dengan setelan celana panjang yang terlihat senada dengan warna wedding dress miliknya.


"Kita akan segera menikah, Cantik!" Dendy berbicara seraya mencolek dagu runcing Nadya. Nadya dengan spontan memalingkan wajahnya. Ia tidak mau berdekatan dengan pria yang ia anggap brengsekk itu.


"Sampai aku mati pun! Aku tidak akan pernah sudi menikah dengan pria brengsekk seperti dirimu! Aku masih sah menjadi istri Brydan dan kau tidak berhak melakukan ini!" Nadya berbicara dengan begitu angkuh, seakan dirinya memiliki seribu nyali untuk melawan pria yang kini tengah berhadapan dengan dirinya.


"Siapa bilang tidak berhak, Cantik? Aku lah yang berkuasa sekarang dan aku berhak melakukan dan mendapatkan apapun yang aku ingin!"


"Keluar kau dari sini, KELUAR!"


Prok prokk!


Suara tepukan tangan Dendy menggema di ruangan itu. Kemudian datanglah dua orang bawahan Dendy.


"Tutup matanya! Panggil pelayan untuk menggiringnya!" Titah Dendy.


"Baik, Tuan." Dengan sigap mereka melangkah ke arah Nadya, yang sudah memasang ancang-ancang siap.


"Berhenti, jangan mendekat!" Teriaknya kepada dua bawahan Dendy.


Melihat Nadya hendak memberontak, Dendy pun turun tangan. Dendy tahu benar, bahwa Nadya bukan tipikal orang yang mudah menyerah. Matan majikannya itu adalah orang yang penuh dengan semangat dan keceriaan.


"Diam, atau suamimu akan yang akan menanggung akibatnya!" Kata Dendy sembari meminum soda yang baru saja diberikan oleh pelayan.


"Kau dengar ini baik-baik! AKU TIDAK TAKUT!"


"Kedua orang tuaku selalu mengajarkan aku untuk menjadi wanita pemberani. Karena ayahku bukan pria pecundang seperti dirimu, BRENGSEKK!" Ujarnya dengan penuh penekanan.


"Nyalimu besar juga yah! Hahaha." Dendy tertawa dengan senangnya melihat Nadya yang sudah tersulut emosi.


"Kalian paksa dia! Pegang dan tutup matanya, kalian giring dia menuju ke lokasi!" Dendy berdiri seraya hendak melangkah pergi dari ruangan yang terlihat bersih itu.

__ADS_1


"Kami mohon kerjasama nya, Nona. Atau dengan terpaksa kami akan bertindak kasar!" Salah satu dari mereka berdua, mecoba berbicara halus kepada Nadya.


Jika aku memberontak, mereka pasti akan menyeretku dengan paksa. Aku akan pikirkan cara untuk kabur, sekarang aku ikuti saja dulu. Duo botak ini benar-benar menyeramkan!


Nadya hanya diam, namun mereka menganggap kebisuan Nadya sebagai tanda setuju.


Setelah menutupi kedua mata Nadya dengan kain hitam pekat. Mereka menggiring Nadya ke suatu tempat, entah dimana itu. Namun Nadya yakin, tempat ini masih disekitar gedung tua kotor itu.


"Pelan-pelan! Kalau mau cepat buka penutup mataku!" Ketus Nadya, karena kedua orang itu seakan mendorongnya agar berjalan lebih cepat.


"Jangan menyulitkan kami, Nona!" Jawab salah satu dari mereka.


"Kalian jangan mengada-ada, justru kalian yang menyulitkan aku! Kepala saja yang gede, tapi otaknya kecil. Udah botak, masih saja belagu!" Nadya mengomel sebal, ia benar-benar sebal dengan dua orang berseragam hitam itu. Ingin sekali ia mutilasi kepala orang itu.


***


Tibalah Nadya di sebuah tempat, entah tempat apa Nadya juga tidak tahu. Bagaimana mau tahu, kalau kedua Indra penglihatannya saja masih ditutup rapat.


"Hey kalian, cepat buka penutup mataku!"


"Jangan banyak bicara, Nona!"


Menyebalkan, dua botak kejam!


"Bersiaplah Nona, dalam hitungan ke tiga kami akan membuka penutup mata Anda!"


"1 2 3..."


Dan penutup mata Nadya terbuka. Namun ia melihat kejanggalan. Dia ditempatkan di sebuah ruangan besar yang gelap. Begitu gelap, bahkan tidak ada secercah cahaya pun yang masuk.


"Dimana aku? Siapapun tolong aku! Hey aku tidak bisa melihat dalam gelap, bodoh!" Teriaknya dengan penuh kekesalan.


Klik


Lampu menyala, dan terlihat lah seisi ruangan. Nadya bahkan sedikit tertegun dengan semua ini. Ia masih belum bisa mencerna apa yang terjadi.


Dekorasi aula yang terlihat begitu indah. Dengan meja dan kursi yang tertata dengan rapi. Dan ada karpet merah panjang ditengah-tengah. Dan sekarang dirinya tengah berdiri di podium.


Duarr


Bunyi balon yang meletus secara bersamaan, membuat Nadya terlonjak kaget. Namun tiba-tiba, sesuatu kembali terjadi. Segerombolan orang datang kepadanya dengan membawa sebuah kota kado ditangan masing-masing.


Ada Tica, Dendy, Naddie pun ada dengan wajah angkuhnya. Dan banyak orang lain yang tidak Nadya ketahui siapa mereka.


"Happy Birthday, Nadya Kharisma!" Ucap mereka secara kompak dan bersamaan.


Nadya masih saja speechless dengan semua yang terjadi. Ia masih tidak menyangka hal ini. Tapi, kemana sang suami? Itulah yan menjadi pusat pemikirannya sekarang.

__ADS_1


Tiba-tiba semua orang itu membelah menjadi dua, sebagian ke sisi kanan dan sebagian ke kiri. Di tengah-tengah munculah orang yang tengah Nadya pertanyakan keberadaannya.


Brydan berjalan ke arahnya dengan membawa sebuket bunga mawar merah kesukaannya. Dan dengan warna tuxedo yang senada dengan wedding dress yang tengah ia kenakan.


Brydan bertekuk lutut di hadapan Nadya. Ia menjulurkan sebuket bunga yang ia bawah ke Nadya. Nadya dengan senang hati menerimanya. Kemudian Brydan terlihat merogoh sesuatu di sakunya.


"Will you be with me forever?" Ya, Brydan menjulurkan sebuah sepasang cincin cantik berhiaskan berlian kecil kepada sang istri.


Nadya berkaca-kaca, ia tidak menyangka akan mendapatkan kejutan yang begitu spesial sekaligus menegangkan dari pria yang kini telah dicintai nya itu. Dengan mantap, Nadya menganggukkan kepalanya.


"Yes, i will!" Ujarnya dengan suara yang tegas dan lantang.


Tepuk tangan riuh menyambut keduanya. Semua yang menyaksikan pun ikut terharu dan bahagia. Kecuali satu orang yang tengah duduk di salah satu kursi. Siapa lagi kalau bukan Naddie. Ia hanya memutar matanya malas. Kalau bukan paksaan ayahnya, ia tidak akan mau datang ke pesta Nadya. Yang notabene nya adalah rivalnya.


Nadya benar-benar masih tidak menyangka. Pernikahan yang ia impikan akan jadi kenyataan. Tuhan mengabulkan doanya.


.


.


.


.


.


.


.


Happy Reading and Lop U All


Jangan lupa like komen and votenya yah 🤗


Biar makin semangat up-nya hehe 😁


Jangan jadi pembaca gelap 🤐


Makasih kakak-kakak sayang ✨


Kalau mau gabung GC silahkan klik profil othor yah, ayo ramaikan 💖


Kalau mau tanya-tanya perihal novel ini atau mau kenalan boleh follow IG aku yah


IG: @cynshindi


Nanti bakalan ada info perihal novel ini di sana yah.

__ADS_1


__ADS_2