
Setelah selesai mandi, keduanya pun turun ke lantai bawah untuk dinner alias makan malam. Di meja makan sudah tersaji makanan yang diinginkan Brydan. Baik Brydan atau Nadya sama-sama menikmati makanannya selain rasanya yang enak. Karena mereka berdua juga sudah lapar.
____________________ 00 ______________________
Pagi hari yang indah__
Nadya sudah bangun terlebih dahulu dari Brydan. Seperti biasa dia akan langsung membersihkan diri kemudian menyiapkan keperluan Brydan untuk bekerja, seperti baju dan tas kerjanya. Baru dia akan membangunkan suaminya.
"Suamiku, bangun ini sudah pagi." Ucap Nadya sambil menepuk pelan pipi Brydan. Brydan yang merasa terganggu pun membuka matanya. Saat dia sudah membuka matanya dan sedang mengumpulkan nyawanya.
Tiba-tiba, "haccihhh, haccihhh." Nadya bersin dan tanpa sengaja mengenai wajah suaminya. Brydan yang masih tidak sadar langsung tersadar dan menatap Nadya dengan tajam.
Aduhhh, matilah aku. Kok bisa sih aku bersin di wajah gunung es. Pasti bakal teriak nih. Siapin mental Nadya!
"Nadya! Kau sudah bosan hidup ya?" Ucap Brydan, karena air bersin Nadya melesat kearahnya. Nadya langsung mengambil tissue dan membersihkan wajah Brydan.
"Maaf Suamiku, saya tidak sengaja." Ucap Nadya sambil menundukkan kepalanya.
"Minggir, aku mau lewat."
"Airnya sudah saya siapkan."
Setelah selesai dengan drama pagi ini. Mereka bersiap untuk breakfast. Hari ini Brydan hanya ingin makan roti dan selai. Dan setelah breakfast, Nadya mencium pipi suaminya untuk melepas kepergian suaminya ke kantor.
Di dalam mobil_
"Apa kau tau Den, tadi pagi dia bersin mengenai wajahku." Ucap Brydan kepada Dendy dengan raut wajah kesal.
Hahaha, sungguh gadis pemberani! Nyonya kecil memang istimewa. Coba saja aku yang bersin di wajah Anda. Mungkin Anda akan menyiram wajahku dengan air mendidih.
"Kenapa kau mentertawakan istriku! Tertawa saja. Hahaha."
"Nyonya kecil memang istimewa, Tuan."
"Kau benar, Den!"
"Owh ya, apa Anda sudah menelfon Nyonya, Tuan?" Tanya Dendy, untuk memastikan bahwa Nadya sudah menyimpan nomor telfon Brydan.
"Aku lupa Den, nanti saja di kantor." Jawab Brydan.
Sesampainya di kantor, seperti perkataannya tadi. Bahwa dia akan menghubungi Nadya. Dia mengambil handphone nya dan menekan nomor Nadya. Dengan nama (Rahasia).
Titt Titt Titt.
Di Mansion Brydan.
"Siapa ini nomor tidak dikenal." Nadya meriject panggilan itu. Karena dia takut itu nomor orang yang tidak bertanggung jawab. Atau bisa dikatakan orang iseng. Sampai 3 kali menelfon, Nadya tetap menolak panggilan dari nomor itu.
"Ganggu aja sihh."
__ADS_1
Kling.
Bunyi notif di handphone Nadya. Sontak saja Nadya langsung melotot saat melihat siapa yang mengirim pesan itu.
Tuhan tolong aku. Aku sudah meriject panggilannya berkali-kali. Sebentar lagi telingaku pasti akan pengang. Kalau tidak teriak, dia pasti mengomel.
Nadya melihat nomor itu menelfon lagi, dan dia segera menekan ikon berwana hijau.
Di sambungan telfon.
"Hei kau, sepertinya kau semakin tidak tahu diri ya?" Benar dugaan Nadya, kalau Brydan langsung mengomel.
"Maaf Suamiku, saya tidak tahu kalau itu nomor Anda." Sahut Nadya dengan nada dibuat-buat.
"Kau bisa tidak, berbicara jangan terlalu formal. Anda saya, seperti aku ini rekan kerjamu saja." Brydan kesal setiap kali Nadya berbicara formal. Seakan-akan orang asing saja.
"Jika kau tidak menjawab panggilan ku lagi, maka buang saja hp mu!"
Salah lagi aku, gunung es ini selalu saja mengomel. Apa dia tidak lelah mengomel terus? Apa tadi dia bilang? Buang? Enak saja, aku bahkan harus banting ginjal, eh banting tulang untuk membeli hp ini!
"Iya Suamiku, sa, eh aku tidak akan berbicara formal lagi. Dan maaf, aku tidak tahu kalau ini nomor mu." Jawab Nadya.
"Bagus, jangan lupa simpan nomorku!"
Nyenyenye. Jingin lipi simpin nimirki.
"Ya."
Nadya mematikan sambungan telepon. Brydan di seberang sana sudah kesal. "Beraninya dia. Jika dengan Dendy, biasanya selalu aku yang mematikan dulu." Kesal Brydan.
Tok tok tok.
"Masuk."
"Tuan, silahkan tanda tangan disini!" Ucap Dendy yang baru saja masuk.
"Tuan, apa Nyonya kecil sudah menyimpan nomor Anda?" Dendy mulai kepo.
"Sudah. Apa kau tau Den, dia berani mematikan sambungan telfon dulu tadi." Jelas Brydan, secara tidak langsung Brydan menjelaskan pada Dendy. Bahwa dia merasa kesal sekaligus gemas.
"Apa saya harus memberi penghargaan pada Nyonya kecil, Tuan?"
"Jika kau sudah bosan hidup."
"Saya permisi, Tuan." Dan hanya di angguki oleh Brydan.
Di Mansion Brydan_
Nadya sedang mager alias malas gerak hari ini. Entah kenapa dia ingin sekali memasak. Tapi dia takut Brydan memarahinya lagi.
__ADS_1
"Pak San tolong buatkan aku es campur yah." Ucap Nadya.
"Es campur itu seperti apa, Nyonya." Pak San sama sekali tidak mengerti seperti apa bentuknya es itu? Apa berisi campuran racun? Atau campuran es batu? Memangnya kalau es dicampur itu enak ya? Kira-kira itulah yang dipikirkan Pak San.
Nadya langsung mencari gambar es campur di situs pencarian. Kemudian menunjukkannya pada Pak San. Dan Pak San langsung menganggukkan kepalanya.
"Maaf Nyonya, itu namanya sop buah." Kata Pak San. Nadya hanya menjawab "oh."
Beberapa menit kemudian es yang diminta Nadya sudah siap. "Silahkan Nyonya." Pak San menyajikannya di meja makan. Dan Nadya langsung menyendok buah yang sudah tercampur dengan es dan susu. Uhhh rasanya sungguh menyejukkan.
"Segar sekali es ini." Ucap Nadya. Dan dalam sekejap es itu sudah habis tertelan.
Mau apa lagi yah? Mungkin drama Korea adalah obat kebosanan ku.
Nadya kembali bersandar di sofa ruang tamu. Seperti biasa, jika sudah menonton drama kesukaannya, yang lain dia anggap angin lalu. Nadya terus menonton, kadang cekikikan sendiri, kadang marah sendiri dan kadang cemberut.
Sampai dia lupa bahwa dia sudah menonton selama 3 jam. Dan di pintu utama langkah kaki Sang Penguasa sudah terdengar. Semua pelayan membungkukkan badan mereka. Hanya makhluk yang sedang di sofa, yang sama sekali tidak menyadari kedatangan Brydan.
"Nadya, kau mulai tidak tahu diri ya." Ucap Brydan. Karena dia sudah dari tadi berdiri di depan Nadya. Tapi Nadya tetap fokus pada handphone nya.
What? Aku kok kebiasaan sih kalau sudah nonton. Dasar drama sialan! Tapi aku suka. Bagaimana ini, aku harus apa?
"Eh, Suamiku sudah datang. Selamat datang." Ucap Nadya dibubuhi dengan kecupan kecil di pipi Brydan. Sebenarnya dia merayu supaya tidak terkena omelan. Dan benar saja, seketika amarah Brydan langsung mereda.
"Jika kejadian ini terulang, habis kau!" Ancam Brydan.
Waktu terus berlalu hingga malam hari. Nadya dan Brydan baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Dan kini mereka sudah duduk bersandar di ranjang.
"Mana handphone mu!" Ucap Brydan.
"Ini." Karena malas berdebat, akhirnya Nadya memberikan handphone nya. Brydan melihat walpaper Nadya, kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Kau memasang foto jelek ini untuk walpaper?" Ucap Brydan tidak berhenti tertawa.
"Ini fotoku yang paling cantik." Nadya sungguh kesal dengan pria satu ini.
"Kau menamai kontakku apa?" Brydan langsung mengetik nomornya, untuk melihat nama yang ditulis Nadya untuknya.
'Gunung es Galak!'
"Gunung es? Kau yang memulai yah." Brydan sudah menindih tubuh Nadya. Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi. Menolak? Bahkan Nadya tidak bisa berkata-kata jika Brydan sudah marah. Otak nya seakan blank dan menjadi kosong. Haha.
♡(ӦvӦ。)♡(ӦvӦ。)♡(ӦvӦ。)
Happy Reading and Lop U All :D
Jangan lupa like, komen and votenya yah 😁
Makasih✨
__ADS_1
IG : @cynshindi