
"Sayang, aku ingin bercerita sesuatu!" Ujar Nadya. Kini keduanya tengah duduk manis di atas ranjang. Dengan posisi yang menguntungkan Brydan. Karena istrinya memeluk Brydan seperti koala dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Brydan. Uhh atas bawa nempel nih!
"Ceritakan!"
"Jadi begini, Sayang. Dulu ibuku pernah bilang, bahwa aku ini memiliki seorang adik. Yang usianya terpaut mungkin hanya dua tahun denganku. Tetapi aku bahkan tidak tahu seperti apa rupa adikku. Karena ibu dan ayah tidak pernah bercerita apapun. Tiba-tiba saja adikku menghilang bagai ditelan bumi.
Namun, beberapa menit sebelum ibu meninggal. Beliau berkata, bahwa adik masih hidup. Dan aku dengan adik memiliki barang kembar. Liontin hati, warisan ibu. Yang di dalamnya terdapat foto kami!" Jelasnya panjang lebar. Brydan mendengarkan dengan saksama.
"Lalu, kau ingin mencari tahu mengenai adikmu? Apa kau sudah dapatkan barang kembar itu, Bey?" Akal brilian Brydan bekerja dengan cantik.
"Kau cerdas, Sayang. Aku sudah menemukan barang itu, tepatnya di gedung tua tempat aku ulang tahun kemarin."
"What? Kau mengenali pemiliknya?"
"Tapi Sayang, aku ingat betul, kalau meja dimana aku menemukan liontin itu, adalah meja yang sebelumnya diduduki oleh Naddie."
"Jangan ngaco, Bey. Naddie itu punya mommy sama Daddy!"
"Maka dari itu Sayang, mari kita selidiki! Kamu mau kan bantu aku?" Tanya Nadya dengan menatap intens manik hazel pria itu.
"Anything for my wife!" Jawab Brydan dengan lantang. Nadya sontak saja memeluknya dengan erat sebagai ucapan terimakasih. Ia juga menghadiahi banyak kecupan di wajah Brydan.
__ADS_1
Kemudian Nadya membisikkan sesuatu kepada Brydan. Dan hanya diangguki oleh Brydan.
"Ide yang bagus! Istriku memang cerdas, impressive!" Ujarnya sesaat setelah mengetahui rencan yang dibuat istrinya. Nadya harus menemukan adiknya, bagaimana pun caranya. Karena ini adalah amanah ibunya.
"Kita harus datang ke rumah lama, Sayang. Yang ada di kampung, aku yakin pasti ada petunjuk di sana!"
"Tapi, aku takut menganggu pekerjaan mu, Sayang." Nadya tertunduk sedih. Raut wajah nya menggambarkan kesedihan, melihat kesibukan suaminya. Rasanya tidak mungkin bagi suaminya untuk cuti kerja.
"Aku akan meminta sekertaris ku untuk menghandle semuanya." Jawabnya dengan enteng.
"Sekertaris Dendy?" Karena setahu Nadya, sekertaris Brydan itu hanya Dendy.
Brydan tersenyum, istrinya itu benar-benar lucu, mana ada perusahaan sebesar itu hanya memiliki satu Sekertaris?
"Kamu lucu, Sayang. Kita butuh Dendy dalam penyelidikan ini, jadi Dendy juga akan cuti. Kamu pikir aku hanya punya satu sekertaris? Perusahaan segede gaban masa iya cuma ada satu sekertaris? Nanti, aku bakalan minta sekertaris aku yang satunya, Sayang. Untuk menghandle semuanya selama kita cuti," Brydan menjelaskan panjang lebar. Dan Nadya manggut-manggut paham.
"Bey, kapan ada baby di sini?" Brydan menatap perut istrinya. Ia elus dan ia kecup perut istrinya dengan lembut. Jujur, kemarin ia bermimpi sesuatu.
"Tunggu masa subur aku, Sayang. Sabar yah."
"Kamu tahu, kemarin aku mimpi, aku sedang menggendong bayi kecil tampan. Wajah itu adalah wajahku saat kecil, tatapan mata itu begitu meneduhkan. Seperti tatapan mu, tetapi manik mata itu adalah milikku, hazel!"
__ADS_1
"Tapi aku akan nunggu dengan sabar kok, Bey. Aku ngga maksa, sedikasihnya deh, hehe."
"Iya Sayangku, Papahnya Cemong."
"Bey, berhenti! Aku bukan papahnya kucing, aku majikannya!" Brydan paling geli jika Nadya menyebut dirinya sebagai papa dari kucing lucu itu.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
__ADS_1
vote like and komennya yah buat babang Brydan! oh ya, btw aku bakalan launching novel baru nih, di NT tentunya.
sedih, pembaca ku menurun drastis! jadi kurang semangat mau nulis, curhat dikit yah!