Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-11 Panggilan baru untuk Brydan.


__ADS_3

"Hei, sekarang berhentilah memanggilku Tuan karena aku ini adalah suamimu." Kata Brydan yang membuat Nadya langsung berpikir panggilan yang tepat untuk si gunung es.


"Memangnya Tuan mau saya panggil dengan sebutan apa?" Tanya Nadya.


"Terserah, yang penting jangan Tuan." Sahut Brydan.


"Bagaimana kalau Suamiku atau...?" Tanya Nadya, karena jika dia memanggil 'Sayang' itu tidak mungkin, karena dia tidak mencintai Brydan.


"Coba panggil aku!" Ucap Brydan.


"Suamiku yang tampan." Jawab Nadya dengan mengerlingkan sebelah matanya. Hahaha, dia sungguh geli dengan panggilan itu. Tapi tidak masalah, daripada dia dihukum lagi.


"Selamat malam, Tu, eh Suamiku." Ucap Nadya yang hampir saja menyebut tuan, tetapi tidak jadi karena mendapat pelototan mata dari Brydan.


Selang beberapa menit Brydan sudah selesai dengan semua pekerjaannya. Brydan pun ikut membaringkan dirinya di sebelah Nadya dan betapa terkejutnya dia saat melihat paha mulus Nadya terekspos, karena Nadya memakai baju tidur berbentuk jubah alias piyama kimono.


Gleg.


Satu tegukan saliva terdengar dari arah Brydan. Bagian tubuhnya yang lain kini sudah menegang.


Jangan salahkan aku, suruh siapa kau memakai jubah saat tidur. Sudah tau aku ini laki-laki normal.


Dan terjadilah apa yang seharusnya terjadi di malam hari. Dengan diiringi suara teriakan dari Nadya.


____________________ 00 ______________________


Pagi hari__


"Shhhhh, auwww." Nadya yang sudah mulai terbangun dari tidurnya merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia benar-benar tidak menyangka kalau si gunung es ini akan melakukan itu bersamanya. Dia kesal, karena di surat kontrak sudah dinyatakan bahwa tidak boleh menyentuh sebelum diizinkan.


Nadya berusaha untuk melangkah ke kamar mandi walaupun tertatih-tatih. Setelah dia sudah berada di dalam kamar mandi, dia langsung mengisi bath-up mandi dengan air hangat. Tidak biasanya dia mandi dengan air hangat di pagi hari, dia lebih suka mandi dengan air hangat jika di sore hari. Tapi sakit di sekujur tubuhnya membuat Nadya memilih berendam dengan air hangat.


"Huhh, ganas sekali dia." Nadya berucap sambil melihat beberapa tanda merah di tubuhnya.


Setelah 15 menit berendam, Nadya menyudahi acara mandinya. Kemudian dia ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya. Seperti biasa dia hanya memakai pakaian santai dengan bedak bayi dan sedikit lipstick.


Saat keluar dari ruang ganti, dia melihat Brydan sudah duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Ambilkan aku air." Titah Brydan.

__ADS_1


"Ini Suamiku." Kata Nadya sambil memberikan segelas air putih dengan sedikit perasan lemon kepada Brydan.


"Suamiku, kenapa Anda melanggar perjanjian kita. Di surat kontrak sudah tertulis bahwa tidak boleh menyentuh sebelum diizinkan." Ucap Nadya memberanikan diri untuk bertanya.


"Apa kau tidak mengerti yang tertulis di poin pertama, bahwa semua perintahku wajib kau patuhi. Dan jika aku menginginkannya kau juga harus bersedia memberikannya." Jawab Brydan dengan santai.


Apa maksud pria ini sih? Dia kan yang mengataiku kampungan? Tapi kenapa dia mau menyentuhku. Dia ini memang plin-plan atau bagaimana sih? Dasar kadal buntung.


"Suamiku, boleh tidak sahabatku datang kemari?" Tanya Nadya.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Dia perempuan kok."


"Hmm."


"Bolehkan? Horeee." Nadya langsung memeluk Brydan sebagai ucapan terimakasih. Dan dengan ragu Brydan membalas pelukan itu.


"Jika masa hukumanmu sudah selesai. Belajarlah untuk memakai make-up, kau ini wanita dewasa tapi masih memakai bedak bayi. Sungguh aneh!" Ujar Brydan.


"Baik, Suamiku." Jawab Nadya.


"Sini biar saya bantu pasangkan." Ucap Nadya yang hendak memasangkan dasi Brydan. Keduanya sudah siap untuk turun dan breakfast.


"Selamat pagi Nyonya, Tuan." Sapa Pak San dan Sekertaris Dendy yang sudah ada di ruang tamu.


Seperti biasa Nadya menarik 2 kursi. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Brydan. "Suamiku, Anda mau lauk yang mana?" Tanya Nadya, karena di meja makan tersedia beberapa lauk.


"Ayam goreng dan udang." Sahut Brydan. Kemudian Nadya langsung mengambilkan apa yang suaminya mau.


Beberapa menit kemudian mereka sudah ada di pintu utama. "Ini Suamiku." Ucap Nadya sambil menyerahkan tas kerja Brydan. Brydan pun memasuki mobilnya dan Nadya yang melihat Brydan hendak pergi menyempatkan melambaikan tangannya kemudian dia masuk ketika mobil yang ditumpangi Brydan sudah keluar pagar.


"Tuan, Anda menyukai Nyonya kecil?" Tanya Dendy sambil tetap fokus ke jalan raya.


"Entah kenapa, belakangan ini dia menjadi penurut. Dan apa kau tau Den, jika wanita dewasa pada umumnya memakai make-up, dia justru memakai bedak bayi." Dan langsung ditertawakan oleh Dendy.


Nyonya kecil, sepertinya Tuan mulai menyukai Anda. Saya yakin Anda lebih baik dari dia yang selalu mengecewakan tuan.


"Jangan mentertawakan istriku, Den!"

__ADS_1


"Maaf Tuan, Nyonya kecil benar-benar lucu, saya lihat dia juga tidak terlalu feminim dalam berpakaian."


"Ya, kau benar. Dan apa kau tau kemarin dia pingsan saat aku ajak melihat film horror."


"Tuan ini suka sekali mengerjai Nyonya kecil."


"Entah kenapa aku suka melihat ekspresinya saat marah atau takut. Hahaha."


"Silahkan Tuan, kita sudah sampai." Ucap Dendy.


Di Mansion Brydan__


"Ayo Tic masuk." Kata Nadya mempersilahkan Tica untuk masuk. Tica baru saja datang dia mengikuti peraturan yang ada di mansion Brydan. Seperti pemeriksaan bahwa dia tidak membawa senjata tajam dan baru dia diperbolehkan untuk menemui Nadya.


"Gila Nad, Rumah suami kamu besar banget. Mirip hotel ini mah. Kalau aku punya rumah kaya begini, mungkin aku tidak akan pernah keluar rumah lagi." Ucap Tica sambil memperhatikan suasana di dalam mansion.


"Lebay kamu mah." Sahut Nadya.


Dan mereka pun duduk di taman belakang karena Tica lebih suka pemandangan luar mansion. Sebenarnya sudah disediakan kursi taman di sana, tetapi Nadya lebih memilih untuk menggelar tikar, katanya lebih dingin dan sejuk.


Mereka berdua bercengkrama melepas rindu selama beberapa hari tidak bertemu. Tica terus saja berbicara mengenai keindahan mansion sedangkan Nadya berbicara tentang kapan sahabatnya itu akan menyusul dirinya untuk menikah. Nadya menyuruh Pak San untuk membuatkan camilan dan segelas jus untuk sahabatnya. Dan mereka berdua menikmati pemandangan mansion sembari menikmati camilan yang disuguhkan oleh pelayan.


Hingga waktu menunjukkan bahwa hari sudah sore. Dan Tica pun pamit kepada Nadya untuk pulang. Setelah Tica sudah pulang Nadya kembali kesepian. Dia ingin sekali membuat kue tapi dia takut Brydan benar-benar akan membuat wajahnya gosong jika berani menyentuh dapur.


Tin... Tin...


Klakson mobil berbunyi, Nadya turun untuk melihat siapa yang datang dan dugaannya benar mobil itu adalah mobil milik suaminya.


Mulai sekarang Nadya mulai belajar untuk menerima Brydan sebagai suaminya. Karena bagaimanapun dia hanya ingin menikah satu kali seumur hidup.


♡(ӦvӦ。)♡(ӦvӦ。)♡(ӦvӦ。)


Happy Reading and Lop u All ✨


Jangan lupa like, komen, dan votenya yah😁


Makasih 🤗


IG : @cynshindi

__ADS_1


__ADS_2