Terpaksa Menikahi Sang Penguasa

Terpaksa Menikahi Sang Penguasa
Ch-73 Pulang Kampung.


__ADS_3

"Den, kau sudah handle semuanya kan?"


"Sudah, Tuan."


Kini Nadya, Brydan, Dendy dan Tica hendak pergi ke kampung Nadya dan Tica. Pagi hari yang cerah dibumbui dengan kegiatan yang mengasyikan. Nadya bahkan sangat excited. Karena ia bisa sekalian nostalgia di kampung masa kecilnya.


"Tic, engga ada yang ketinggalan kan?" Tanya Nadya, untuk memastikan kalau semua barang yang dibutuhkan sudah mereka bawa. Seperti makanan dan minuman serta beberapa pakaian ganti.


Sebenarnya Brydan meminta sang istri agar tidak membawa banyak barang. Karena itu akan merepotkan, menurut Brydan, mereka bisa membeli baju baru untuk ganti. Tetapi, Nadya membantah, karena di kampung itu bukan seperti di kota. Tidak ada mall, tidak ada minimarket dan juga tidak ada butik. Palingan hanya ada pasar tradisional yang jaraknya jauh.


"Apa aku perlu membangun sebuah butik di kampung mu itu? Agar kamu tidak lagi kerepotan untuk membawa banyak baju saat pulang kampung!" Brydan berkata sangat mudah. Seakan membangun usaha itu semudah membalik telapak tangan.


Jangan lupa Nadya! Dia itu Sultan. Sultan mah bebas, mau bangun butik di tengah jurang juga engga akan ada yang ngelarang!


"Hehe, engga perlu, Sayang." Sahut Nadya sambil cengar-cengir. Ia benar-benar gemas dengan suaminya itu. Jika bisa, ingin sekali ia sumpal mulut pria itu menggunakan macaron. Agar mulut itu bisa sedikit saja berkata manis.


"Tuan, sopir sudah siap!" Dendy datang dengan beberapa pelayan yang membututi. Mereka membawa semua barang-barang yang Nadya ingin bawa. Sedangkan milik Tica sudah aman di bagasi mobil.


Tica yang sedari tadi hanya diam sembari duduk manis di sofa. Seketika membulatkan matanya, ketika melihat barang-barang yang hendak di bawa oleh Nadya. Ada dua buah tas piknik besar, dan juga satu tas gendong kecil.


"Nad, kita bukan mau minggat kan?"


"Ya enggak lah Tica, kan kita mau menginap untuk dua hari. Jadi kita butuh persediaan makanan!" Sepertinya jiwa hemat wanita itu tengah meronta-ronta. Jadilah ia membawa semua yang ada di mansion untuk dibawa ke kampung halamannya.


"Nad, kamu pikir kita mau tinggal di tengah hutan, pake butuh persediaan makanan segala. Kita ini tinggal di rumah kamu, Nad. Lagian disana juga banyak warteg."


"Iya juga yah," Nadya tampak kembali berpikir.


"Ya udah deh, tolong, tas untuk persediaan makanan, kalian taruh saja lagi yah. Maaf yah, aku merepotkan kalian. Hehe." Jadilah Nadya hanya membawa satu tas piknik berisi pakaiannya dan sang suami. Serta beberapa alat makeup dan kebutuhan wanita lainnya.

__ADS_1


Nyonya, untung saja Anda baik dan cantik. Kalau tidak, sudah saya kutuk Anda menjadi batu menangis! Batin salah satu pelayan yang harus kembali menata makanan itu ke lemari pendingin.


"Ayo, kita berangkat!" Dan mereka pun berjalan bersama ke mobil. Brydan memutuskan untuk menggunakan satu mobil saja. Di kursi kemudi akan diisi sopir, dirinya dan sang istri di posisi tengah. Kemudian di belakang akan diisi oleh Dendy dan Tica.


***


Selama dalam perjalanan, tidak ada satupun yang berani memulai percakapan. Karena sepasang suami istri yang tengah kasmaran. Brydan tanpa malu, mencium, memeluk dan memangku istrinya di depan Dendy dan Tica.


Dendy yang damage kaku, hanya diam saja tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Tetapi Tica, wanita berjiwa lebay itu selalu saja memerah setiap melihat kemesraan Brydan dan Nadya.


"Ehm, Hey Mas!" Dengan sangat pelan, Tica berucap tepat di telinga Dendy. Dendy yang merasa geli pun, akhirnya menoleh.


Dendy mendekatkan wajahnya ke wajah Tica. Sontak wanita itu memejamkan matanya. Ia mengira Dendy hendak mencium bibirnya. Seperti di drama Korea yang ia sering tonton.


"Berhenti memanggil ku dengan sebutan menggelikan itu!" Sayang seribu sayang, Ekspetasi tak sesuai dengan realita. Ternyata Dendy hendak mengatakan sesuatu tepat di depan wajah Tica.


Dendy tersenyum miring, ia tahu wanita itu pasti mengira dirinya akan mencium bibir wanita itu. Benar-benar pemikiran kotor Tica sudah tidak bisa diragukan lagi.


"Apa kau mengharapkan sesuatu?" Tanya Dendy dengan senyum yang terlihat mengejek.


"A.. aku? Memangnya apa yang aku harapkan?" Tica gugup.


"Dirty brain!" Ketus Dendy, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Karena berdebat dengan wanita itu bisa membuat dirinya gila mendadak.


"Engga usah sok Inggris, Mas! Masih makan terasi kok sok Inggris!" Sahut Tica tak kalah ketus.


"Terasi? Apa itu?" Dendy memang tidak begitu tahu soal masak-memasak. Bahkan ia tidak pernah mendengar yang namanya terasi. Entah apa itu.


"Hahaha, udah gede kok masih engga tahu terasi? Malu Mas, malu!" Tica semakin menjadi meledek Dendy.

__ADS_1


Wanita bodoh ini!


Dendy yang tersulut pun akhirnya menyentil dahi Tica dengan keras. Bayangkan saja, bahkan tidak ada satu orang pun yang berani berkata tidak sopan padanya, kecuali Brydan. Tetapi wanita di hadapannya itu bahkan dengan keras mentertawakan dirinya. Bagaimana Dendy tidak emosi?


Tanpa Dendy dan Tica sadari. Nadya sudah mengabadikan momen itu. Ia memotret saat Tica tertawa dan Dendy mengkerut sebal. Diam-diam ia simpan foto itu, siapa tahu berguna untuk masa depan. Sepertinya dia akan menjadi Mak comblang dadakan.


Dendy jomlo akut, Tica juga jomlo karatan. Ya, pantas lah mereka berdua bersanding. Pikir Nadya.


"Berhenti memikirkan mereka! Atau--"


"Haha, aku hanya memikirkan kamu, Sayang." Sebelum bom atom keluar, Nadya sudah mengantisipasi.


Jika ada waktu senggang, hehe.


.


.


.


.


.


.


.


TBC!

__ADS_1


Othor comebackkk. Jangan lupa vote like and komennya buat babang Brydan ama babang Dendy yah!


__ADS_2