
Beberapa hari ini Nadya memang belajar untuk memakai make-up. Dan dia juga sudah lumayan bisa, ya walaupun belum 100%.
"Suamiku, airnya sudah siap." Kata Nadya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Nadya membantu melepaskan sepatu dan kaos kaki Brydan. "Terimakasih." Dan Brydan langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya gunung es nya sudah sedikit meleleh." Ucap Nadya sambil tersenyum sendiri.
Setelah Brydan selesai mandi, barulah Nadya membersihkan dirinya. Mereka berdua sudah selesai mandi dan memakai piyama seperti biasanya. Tetapi jangan salah, sekarang semua piyama Nadya yang berbentuk celana sudah Brydan musnahkan dan hanya tinggal jubah alias piyama kimono saja. Jubah khusus untuk tidur. Berbentuk seperti dress tetapi memiliki motif yang cantik.
"Ayo Suamiku, Pak San bilang makan malamnya sudah siap." Ujar Nadya.
"Ayo." Sahut Brydan. Mulai hari ini Nadya sudah belajar untuk menggunakan bedak kecantikan bukan bedak bayi lagi. Dan Brydan sudah bisa melihat perbedaannya. Nadya terlihat lebih anggun jika dibalut dengan sedikit make-up. Sebenarnya Nadya tidak mengikuti les khusus make-up, dia hanya belajar secara otodidak dari sebuah video.
Mereka berdua turun ke lantai bawah untuk makan malam. Dan menu makan malam hari ini adalah beef steak dan juga ada sayur mayur nya dengan segelas air putih tentunya.
Akhirnya setelah menyelesaikan makannya, Brydan dan Nadya kembali ke kamar mereka untuk istirahat.
"Hei, kau tidak merasa gerah dengan rambutmu?" Tanya Brydan yang merasa gerah melihat rambut Nadya yang menurutnya terlalu panjang.
"Bisa tidak Suamiku ini memanggil saya dengan panggilan yang lebih baik? Contohnya istriku atau apalah. Setidaknya jika tidak mau memanggil saya dengan panggilan yang romantis, panggil saja nama saya." Sahut Nadya, dia sungguh kesal karena Brydan selalu saja memanggilnya dengan 'hei kau' seperti memanggil maling saja.
"Dan saya sama sekali tidak gerah dengan rambut saya ini. Rambut saya hanya sebatas pundak, menurut saya ini sudah pendek." Imbuh Nadya. Dari kecil Nadya memang suka memanjangkan rambutnya.
"Nadya?" Kata Brydan mencoba memanggil Nadya dengan namanya. "Nama mu kampungan sekali. Hahaha." Imbuhnya
Ihh, dasar pria tidak berperasaan. Tega sekali dia mengejek istrinya sendiri. Tapi tidak masalah, yang penting gunung es nya sudah sedikit meleleh.
"Asalkan punya nama!" Nadya menyahut dengan ketus. Kemudian langsung menarik selimut dan membelakangi Brydan.
"Hei berani sekali kau mengacuhkan aku! Kau mau aku membakar selimut ini ya?" Tetapi Nadya tetap kekeh tidak mau menoleh.
"1 2 ti.." Brydan sudah mulai menghitung.
"Iya, iya ini saya sudah menjawab Anda kan?" Jawab Nadya sambil tetap menutup dirinya dengan selimut.
"1 2 ti..." Brydan kembali menghitung.
"Iya ini saya sudah menoleh." Jawab Nadya sambil membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah Brydan.
"Bagus."
__ADS_1
Tanganmu, tanganmu kondisikan. Jangan menjalar kemana-mana sudah seperti akar tanaman kaktus saja.
"Suamiku hentikan tanganmu."
"Tidak." Tangannya sudah menjalar ke bagian sensitif Nadya. Begitu terus sampai akhirnya Brydan tertidur dengan sendirinya. Dengan perlahan Nadya memindahkan tangan Brydan ke tempat semula. Kemudian dia menyusul Brydan ke alam mimpi.
_____________________ 00 _____________________
Pagi hari yang indah__
Tringg Tringg Tringg..
Terdengar suara alarm handphone Nadya berbunyi. Nadya mulai mengerjapkan matanya dan meliukkan badannya. Hingga Nadya benar-benar tersadar dan mematikan alarmnya. Sedangkan Brydan jangan ditanya, dia masih mendengkur. Haha.
Nadya beranjak dari ranjang ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kemudian ia keruang ganti untuk memakai pakaiannya, ia hanya memakai pakaian santainya. Daster rumahan.
Lalu Nadya duduk di depan meja rias, memakai sedikit bedak dan lipstick. Kemudian berlanjut menyiapkan segala keperluan suaminya untuk berangkat ke kantor nanti.
"Suamiku, Suamiku bangun ini sudah pagi." Ucap Nadya sambil memukul pelan pipi Brydan.
"Emhhhh.." Brydan sudah mulai bangun dari tidurnya dan terlihat Brydan sudah mengulet seperti ulat. "Air." Brydan meminta air.
"Rambut mu indah sekali." Puji Nadya. Sungguh terbalik, seharusnya suami yang memuji istri. Tetapi di dalam rumah tangga mereka justru istri yang memuji suaminya. Nadya yakin bahwa suatu hari nanti gunung es ini pasti akan meleleh juga.
Brydan sudah masuk ke dalam kamar mandi sejak beberapa menit yang lalu. Dan sekarang sudah ada pelayan yang sedang membersihkan kamar Nadya. Tiba-tiba Nadya menginginkan sesuatu untuk dikerjakan.
Aku bosan sekali hari ini. Aku ingin berkebun saja. Ya, berkebun menyenangkan. Tapi jangan lupakan gunung es, Nadya. Kalau tidak dia akan menanamku bersama bibit tumbuhan yang aku tanam nanti. Hahaha.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka terlihat Brydan yang sudah basah dan hanya memakai jubah mandi. Dia mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil. "Biar aku saja, Suamiku." Kata Nadya. Dan Brydan langsung memberikan handuk yang dipegangnya kepada Nadya.
Setelah rambutnya kering, dia langsung ke ruang ganti untuk memakai pakaian kerjanya. Dan tidak lupa crocodile shoes berwarna hitam sudah melekat sempurna dikakinya.
Setelah menyelesaikan rutinitas paginya, mereka berdua turun ke lantai bawah untuk sarapan. Dan seperti biasa kedatangan mereka disambut oleh Pak San dan Sekertaris Dendy.
"Selamat pagi Tuan, Nyonya." Kata Dendy dan Pak San sambil membungkuk sopan. Dan hanya diangguki oleh Brydan.
"Selamat pagi Pak San, Sekertaris Dendy." Sapa Nadya balik. Setalah acara sarapan selesai. Nadya mempersiapkan diri untuk bertanya pada Brydan mengenai keinginannya untuk berkebun.
__ADS_1
"Suamiku, boleh tidak saya berkebun?" Tanya Nadya dengan hati-hati. Dia takut Brydan tidak memperbolehkannya untuk berkebun di taman belakang.
"Boleh, asal tau waktu."
"Baik, Suamiku."
Yeyyy, dia sudah agak baik sekarang yah.
Setelah mobil yang ditumpangi Brydan dan Dendy keluar dari pagar, Nadya langsung masuk untuk mempersiapkan kegiatan selanjutnya.
"Bibi, tolong yah bantu saya mempersiapkan peralatan untuk berkebun." Ucap Nadya kepada salah satu pelayan yang kebetulan lewat.
"Baik, Nyonya." Sahut pelayan itu.
Dan setelah peralatan sudah siap semua. Nadya mengambil beberapa bunga mawar kecil di pot di gudang untuk dipindahkan ke taman.
Nadya pun mulai menggali tanahnya dan memindahkan bunga mawar dari pot ke atas tanah. Saat dia sudah memindah 10 bunga, dia merasa sedikit lelah. Tapi dia masih ingin berkebun jadi dia meneruskannya.
"Nyonya, ini minuman untuk Anda." Kata pelayan yang baru saja datang membawa segelas jus jeruk dingin untuk Nadya.
"Terimakasih, bibi." Nadya menghabiskannya dalam sekali teguk. Kemudian memberikan gelas yang kosong kepada pelayan. Dan dia melanjutkan berkebunnya.
"Awhh, shhh." Tanpa sengaja tangan Nadya tertusuk duri mawar. Ketika dia akan memindah mawar dari pot. Dan jari telunjuknya mengeluarkan darah walaupun tidak terlalu banyak.
Fanny yang sedari tadi berada di belakang Nyonya nya. Langsung menghampiri Nyonya nya saat melihat telunjuk Nadya berdarah.
"Bibi, ambilkan kotak P3k." Teriak Fanny sambil meniup-niup tangan Nadya.
"Ini, Nona Fanny." Ucap pelayan yang baru saja datang membawa kotak P3k. "Terimakasih." Kata Fanny. Dan pelayan itu pun pergi.
Fanny memberi sedikit alkohol ke tangan Nadya, agar bakterinya mati. Kemudian dia meneteskan obat merah dan membungkus luka tusukan itu dengan plester.
"Nyonya saya mohon berhentilah. Mari kita masuk." Kata Fanny sambil membantu Nadya berdiri.
"Tapi ini masih kacau Fanny." Jawab Nadya.
"Biar pelayan yang membersihkannya, Nyonya."
"Baiklah."
__ADS_1