
Brydan sengaja mengeraskan suaranya, bahwa besok ia dan Dendy akan datang ke gedung tua. Karena Brydan tahu, ada beberapa orang mata-mata Fiero yang kini tengah mengikutinya.
Dendy tersenyum smirk, sepertinya rencana mereka akan berjalan dengan semestinya tepat seperti apa yang mereka inginkan. Ia hanya mengacungkan jempolnya untuk Brydan. Karena musuh mereka sekarang ini bukan orang biasa, melainkan ketua mafia licik.
"Tuan, lapor mereka akan datang ke gedung tua di tepi kota besok pagi. Lalu kapan kita akan beraksi?" Salah satu mata-mata yang membuntuti Brydan, segera melaporkan informasi yang ia peroleh kepada Fiero.
"Ah baiklah, Tuan!"
Setelah mematikan sambungan telepon, kemudian ia lari entah kemana. Dan menaiki sebuah mobil yang menjemputnya.
"Bagus Tuan, jika rencana A gagal maka kita harus segera lakukan rencana B. Roland sudah memberitahu tadi, bahwa rencana A rentan mengalami kegagalan karena Fiero itu licik." Dendy terus memberikan pengertian kepada Brydan, di dalam mobil pria yang biasanya hanya diam saja itu, kini tidak pernah berhenti untuk bicara.
"Aku paham, Den. Fokuslah pada jalan, aku masih mau hidup!"
Baru kali ini Brydan turun tangan langsung dalam dunia gelap. Ia bahkan tidak pernah sekalipun melihat peperangan sungguhan, paling-paling hanya di televisi. Sekarang ia akan merasakan. Namun, demi sang istri akan ia lakukan apapun.
"Tapi Tuan, apa kita harus mengajak Nyonya kecil juga? Bukankah ini beresiko untuk seorang wanita?"
"Jangan remehkan istriku, Den! Dia itu pemegang sabuk hitam beladiri, tempo hari aku tidak sengaja melihat sebuah seragam beladiri lengkap beserta sabuknya di lemari milik istriku."
Dendy sontak ternganga, nyonya kecil yang selama ini ia anggap lucu dan menggemaskan itu ternyata seorang jagoan neon? Siapa menyangka wajah cantik itu ternyata bisa garang juga.
"Apa kau ingin bertarung melawannya? Sepertinya akan seru!"
Brydan mengatakan seperti itu bukan apa, karena beberapa hari yang lalu ia juga pernah bertarung melawan istrinya. Dan ia bahkan dibanting beberapa kali oleh tubuh kecil dan mungil itu. Pantas saja sang istri tidak pernah gentar menghadapi siapapun, dan istrinya itu juga terlihat begitu semangat jika diajak olahraga.
"Tentu jika Anda memperbolehkan, Tuan." Sahut Dendy, dirinya merasa tertantang oleh wanita mungil itu. Bagaimana bisa, wanita secantik dan seimut Nadya, ternyata adalah seorang jagoan. Tentu tidak akan ada yang menyangka, bahkan Fanny sekalipun.
Brydan tersenyum smirk, kita lihat saja sebentar lagi, siapa yang lebih dulu kalah. Dan siapa yang akan menang.
***
"Selamat datang, Sayang."
Seperti biasa, sang istri tetap dan selalu menyambutnya saat pulang bekerja. Dengan wajah cantik yang sudah dipoles makeup tipis dan rambut tercepol ke atas. Dengan style kaos putih polos dengan hot pant kesukaan Nadya.
Cup.
Brydan mengecup sang istri dengan sayang. Ia segera saja meminta Dendy untuk menunggu sedangkan dirinya dan sang istri melangkah ke arah kamar mereka.
"Bey!" Brydan seraya menjatuhkan diri ke ranjang, bersama pinggang istrinya yang ia belit. Sehingga Nadya juga ikut terjatuh di dada bidang suaminya itu. Ia memukul kecil dada suami nakalnya itu.
"Apa sih, udah sana mandi. Kamu bau ih!" Nadya seraya menjepit hidungnya dengan kedua jari telunjuk dan jempolnya. Ia juga sedikit menjauhkan wajahnya dari ketiak suaminya.
__ADS_1
"Berani ya sekarang sama suaminya, mentang-mentang udah ngalahin aku di ring. Sekarang mau jadi istri durhaka, suami pulang bukannya di cium malah dikatakan bau." Entah sejak kapan lelaki itu berubah menjadi cerewet di hadapan Nadya. Cerewet dan manja persis seperti Cemong.
"Ututu... Suami aku sayang, mandi dulu ya, Cintaku. Nanti setelah mandi kita makan malam."
"Tapi, Bey, Dendy ingin bertarung dengan dirimu. Katanya penasaran sama kemampuan kamu!"
"Sekarang? Sayang ini sudah sore, aku juga sudah mandi. Masa iya mau keringetan lagi." Nadya bangun, ia mendudukkan dirinya tepat di depan lemari. Dan mengambil satu setel pakaian casual milik Brydan.
"Jadi kamu tidak mau?"
"Ya sudah aku mau, kasihan kan Sekertaris Dendy udah nunggu dari tadi. Bentar aku ganti baju dulu."
***
Semuanya sudah siap, Dendy, Brydan dan Nadya kini telah berada di lantai atas di ruang gym. Ring sudah ada lengkap dengan kelengkapan untuk bertarung beladiri.
Nadya tampak begitu siap dengan seragam putih beladiri yang melekat di tubuhnya dan sabuk hitam yang ia belitkan di pinggang rampingnya. Ia pasang kuda-kuda nya dengan kuat, seraya bersiap menghadapi serangan musuh.
Begitupun dengan Dendy, sekertaris Brydan itu terlihat sudah siap. Ia memakai seragam beladiri milik Brydan, dengan alasan meminjam sebentar. Tentu saja Brydan mengizinkan karena paksaan dari istrinya. Dendy sudah siap dengan kuda-kudanya. Ia silangkan tangannya di depan, seraya bersiap menyerang musuh.
Bugg.
Nadya memberikan satu tendangan sambaran dan melayang tepat di perut Dendy.
Bugg.
"Bagus Bey!"
Dendy kembali bangkit, Dendy mencoba meninju Nadya. Namun dengan gesit, wanita itu berpindah posisi ke samping Dendy dan kembali melayangkan tendangan sambaran ke arah perut Dendy.
Pertarungan terus berlanjut hingga tiga babak, beberapa kali Dendy bahkan berhasil memukul perut Nadya. Namun, Nadya melakukan hak yang jauh lebih berat, wanita itu berhasil beberapa kali membanting tubuh kekar Dendy dengan keras. Bahkan Dendy sendiri tidak menyangka, kenapa tenaga wanita itu seperti Hulk? Hingga tubuh mungil itu kuat untuk menopang tubuh besar dan kekar Dendy.
Prok prok prokk!!
"Menyerah kau?"
"Saya menyerah, Nyonya. Punggung saya rasanya sudah remuk dibanting terus." Ia turun dari ring, Brydan naik dan mengangkat tangan sang istri.
"Permainan yang bagus, Bey!" Istrinya memang yang terbaik, apa yang tidak bisa dilakukan oleh Nadya, sepertinya istrinya itu serba bisa.
"Hanya permainan kecil, Sayang. Dulu ayahku adalah lawanku, bahkan guruku juga adalah lawanku. Karena tidak ada lagi teman-temanku yang sanggup melawan aku."
"Anda benar-benar mengagumkan, Nyonya." Dendy seraya memegang punggungnya yang sedikit ngilu karena bantingan keras Nadya.
__ADS_1
Hulk versi wanita, Nyonya Nadya Kharisma!
"Semua piagamku ada di rumah lama!"
"Aku bangga pada istriku." Brydan menggendong Nadya ala bridal style, ia membawa sang istri turun dan mandi.
"Den, kau menginaplah di sini."
"Baik Tuan."
***
Setelah usai mandi, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Mereka makan malam ditemani dengan kesunyian. Namun, setelah makan usai, semuanya kembali bercengkrama seperti sedia kala. Ketidakhadiran Naddie membuat suasana menjadi sedikit lebih tenang.
"Sudah malam, semuanya pergilah tidur."
Brydan dan Nadya kembali ke kamarnya, mereka bersiap untuk tidur setelah mengganti pakaian kasualnya dengan setelan piyama.
"Bey, mau." Sang penguasa itu merengek memegang salah satu squishi milik istrinya, ia bahkan menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak istrinya.
"Lagi? Kemarin kan sudah, Sayang." Nadya tidak menghentikan, ia membiarkan saja Brydan melakukan apapun yang disukai oleh pria itu.
"Mau lagi."
Dan akhirnya ruangan itu menjadi saksi bisu percintaan panas mereka berdua. Suara-suara seksi itu terus-menerus keluar dari mulut Nadya. Dan Brydan hanya bisa menggeram nikmat, istrinya memang sangat memuaskan.
.
.
.
.
.
.
.
TBC!
YOK RAMAIKAN! JANGAN LUPA VOTE LIKE AND KOMENNYA YAH! 💖
__ADS_1