
"Kak Tara..” lirih Berliana saat ketahuan oleh suaminya ia tidak duduk di kursi roda. Ia tahu setelah ini pasti suaminya akan mengomel dan menceramahi nya. Padahal kata dokter,kondisi janin yang ia kandung saat ini sudah baik-baik saja dan kuat. Ia bisa beraktivitas seperti biasanya.
“Sudah ku katakan jangan melakukan apapun tanpaku ! Jika terjadi apa-apa padamu dan terutama calon anak kita bagaimana !” sarkas Keenan yang terlihat marah pada Berliana.
Mata Berliana berkaca-kaca kala mendengar ucapan dan suara suaminya yang terkesan memarahinya.
“Ak..ak..aku..” Suara Berliana tercekat kala suaminya menatap tajam dirinya. Ia kemudian tak meneruskan perkataannya dan memilih kembali duduk di kursi roda.
“Aku ingin kembali ke kamar, karena aku harus melakukan kuliah daring !” Berliana berucap dengan nada dinginnya.
Keenan kemudian tersadar jika ucapannya barusan bisa saja membuat istrinya itu takut. Ia kemudian menghampiri istrinya dan menggenggam tangan istrinya.
“Apa kau takut padaku ?” tanya Keenan pelan.
Berliana hanya diam tak menjawab pertanyaan suaminya. Dan itu membuat Keenan menjadi frustasi. Saat hendak menyentuh bahu Berliana, Berliana menepisnya dan itu membuat Keenan seakan tak percaya dengan sikap Berliana.
__ADS_1
“Sayang..” ucap Keenan pelan.
“Aku hanya hamil bukan wanita penyakitan apalagi lumpuh yang tidak bisa melakukan apapun.” Jawab Berliana dengan dingin.
Keenan terhenyak kaget ucapan Berliana padanya ia tak menyangka jika selama ini dirinya selalu berlebihan dengan istrinya. Memang benar Berliana telah sehat apalagi kondisi calon anak mereka, dokter pun tidak menyarankan lagi jika Berliana harus bedrest.
Tapi entah mengapa semenjak Berliana hamil ia menjadi lebih overprotektif dan itu membuat Berliana tak memiliki gerak untuk dirinya sendiri, semua yang ingin Berliana lakukan tidak diperbolehkan oleh Keenan, dengan alasan Berliana sedang mengandung.
Berliana yang melihat suaminya hanya diam saja tak merespon ucapannya, ia kemudian memanggil pelayan dan memintanya mendorong kursi rodanya ke kamarnya.
“Mulai mala mini, Kak Tara jangan tidur bersamaku !” ucap Berliana dengan tegas. Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan menutup pintu tak lupa untuk menguncinya.
Keenan dibuat kalang kabut dengan ucapan istrinya yang tidak memperbolehkannya untuk tidur dengan Berliana malam ini. Dan semua itu karena kesalahan yang ia buat sendiri yang berubah menjadi suami overprotektif dan terkesan mengekang istrinya.
... ……...
__ADS_1
Malam harinya.
Saat makan malam suasana dimeja makan itu tiba-tiba untuk pertama kalinya begitu sunyi mencekam. Baik Jihan mendiamkan suaminya, begitupun Berliana yang turut mendiamkan pula suaminya.
Padahal para suami itu mencoba bersikap manis dengan memberikan minum, menuangkan nasi dan ataupun lauk tapi baik Jihan dan Berliana hanya diam saja tak merespon apapun pada suami mereka.
Setelah makan malam usai, Berliana mengucapkan kata-kata monohok yang membuat para suami tersebut tercengang.
“Mom, aku ingin tidur dengan Mommy mala ini.” Pinta Berliana pada Mom Jihan.
Jihan tahu menantunya itu pasti memiliki masalah dengan suaminya, pasalnya ia juga melihat Berliana yang mendiamkan Keenan. Seperti mendapatkan teman tentu saja Jihan mengiyakan permintaan menantunya tersebut.
“Baiklah, Mommy akan tidur dikamar mu!” jawab Jihan tersenyum lebar.
“hah !” Keenan dan Zio seakan tak percaya dengan apa yang mereka dengar, ternyata istri-istri mereka benar-benar membuktikan ucapannya untuk tidak tidur satu kamar mulai malam ini.
__ADS_1