Terpenjara Cinta Tuan Keenan

Terpenjara Cinta Tuan Keenan
BAB 24


__ADS_3

Malam harinya Berliana berjalan mondar mandir memikirkan bagaimana cara agar lari dari rumah Keenan. Tiba-tiba Berliana terpikirkan dengan sebuah adegan film yang pernah ia tonton.


Berliana menuju tempat penyimpanan obat-obatan ia bersorak gembira saat tahu ada obat merah yang ia cari. Beruntungnya CCTV kamar Keenan sudah dimatikan itu artinya Berliana bisa dengan leluasa menjalankan rencananya.


Berliana berteriak hingga memancing dua pengawal yang berjaga di luar kamar masuk ke dalam dan melihat Berliana terduduk kesakitan. Apalagi dari pangkal pahanya mengeluarkan darah.


Kedua pengawal tersebut panik dan hendak menelpon Bosnya siapa lagi kalau bukan Keenan. Berliana yang tahu pengawal tersebut mau menelpon Keenan dengan sengaja Berliana menahannya dengan beralibi ingin segera dibawa ke rumah sakit.


"Tolong bawa aku ke rumah sakit." pinta Berliana berakting seolah ia tengah kesakitan.


"Tapi Nyonya, kami harus meminta izin dahulu pada Tuan Keenan." jawab pengawal tersebut.


Dalam hati Berliana mengumpat kesal. Apa katanya tadi ? Meminta izin Keenan prihal kondisinya, lalu bagaimana jika ia benar-benar mengalami pendarahan. Mungkin ia sudah mati terlebih dahulu sebelum di selamatkan.


"Aaaa sakit" teriak Berliana sambil menangis.

__ADS_1


Berliana kembali berakting kesakitan dan berteriak hingga membuat dua pengawal tersebut panik. Tanpa banyak berpikir lagi kedua pengawal tersebut langsung membawa Berliana ke rumah sakit.


Semua pelayan yang menyaksikan Berliana dibawa ke oleh pengawal masuk ke dalam mobil mereka merasa syok dan khawatir dengan kondisi Berliana.


"Apa dia hamil ?" ucap salah satu pelayan saat mobil yang ditumpangi Berliana menghilang dari pandangan mereka.


"Manusia tidak memiliki darah seperti ini, pasti kalian tahu apa ini" jawab pelayan lain menunjukkan tangannya yang terdapat seperti darah.


"Ini obat merah" ucap pelayan


"Dia mencoba lari dari sini, kita lihat saja endingnya apakah dia bisa kabur. Jujur saja aku merasa kasihan padanya." jawab pelayan satunya.


"Setuju !" jawab para pelayan


... ....

__ADS_1


Setelah Berliana sampai di rumah sakit ia segera mendapatkan pertolongan dari dokter dan para suster. Dokter paruh baya yang masih cantik diusianya itu tampak memicingkan matanya saat tahu pasiennya tersebut pura-pura mengalami pendarahan.


"Dokter tolong saya." ucap Berliana dengan mata yang berkaca-kaca Berliana memegang tangan dokter tersebut agar ia mau membantunya.


Dokter tersebut adalah Jihana Almayra, sejak Kinanta pergi ke Jerman satu minggu lalu ia meminta izin pada Zio untuk kembali bekerja karena ia berpikir masih sehat dan masih bisa melakukan tugasnya sebagai seorang dokter.


Lagi pula dengan ia masih tetap di rumah sakit ia bisa mengajari putrinya Kinanta bagaimana mengolah rumah sakit sebagaimana kepemimpinan yang pernah ia lakukan. Kinanta harus belajar banyak darinya agar bisa mengembangkan rumah sakit milik mendiang Papa Anggara.


Jihan menatap manik mata gadis dihadapannya kini ia mencari kejujuran dimata gadis itu. Kemudian ia memerintahkan perawat untuk meninggalkan dirinya dan pasien di hadapannya kini.


"Semuanya keluar dari ruangan ini dan tutup mulut kalian." ucap Jihan dengan tegas. Para perawat tentu saja menuruti perintah Dokter sekaligus mantan direktur mereka.


"Ada apa denganmu ?" tanya Jihan pelan


"Dokter bisa tolong saya, saya harus pergi lari dari dua orang yang sedang berada di luar ruangan ini. Saya mohon dokter." Berliana menangis tergugu di hadapan Jihan.

__ADS_1


Jihan merasa iba dengan gadis dihadapannya itu namun ia juga penasaran apa yang sudah di alami oleh gadis tersebut.


"Ceritakan masalahmu, jika kau berkata jujur aku akan membantumu." jawab Jihan menatap wajah Berliana dengan intens.


__ADS_2