
Waktu berjalan tak terasa sudah enam bulan berlalu sejak kepergian Keyla. Pernikahan Berliana dan Keenan berjalan baik-baik saja sampai detik ini. Berliana menyibukkan diri dengan kuliah begitupun dengan Keenan ia tetap fokus bekerja mengembangkan perusahaan milik keluarganya.
"Dia seperti dirimu sewaktu masih muda." ucap Zio pada Jihan disampingnya melihat menantunya yang baru saja menuruni anak tangga, tentu saja Berliana akan berangkat ke kampus.
"Bahkan sekarang aku masih cantik, bukan ?" balas Jihan dengan penuh percaya diri. Jihan tidak mau di anggap tua, itu sebabnya ia sering melakukan perawatan wajah dan tubuh serta pola hidup sehat agar dirinya terlihat awet muda.
"Iya, kau memang yang terbaik." ucap Zio kemudian sekilas mengecup pipi istrinya. Namun pemandangan itu terlihat oleh Berliana dan Kinanta yang hendak mendudukkan diri di kursi dan bergabung sarapan bersama.
"Uh...pengantin old tidak mau kalah saing sama yang baru menikah." ejek Kinanta sambil memoles selai kacang di rotinya.
"Kinan, Mommy belum tua." balas Jihan tak mau jika di sebut tua oleh anaknya sendiri.
Kinanta terkekeh begitupun Berliana. Mereka kemudian menikmati sarapan bersama pagi itu.
"Berlian, apa sudah ada tanda-tanda ?" bisik Jihan pada Berliana disampingnya.
"Maksud Mom ?" tanya Berliana tak mengerti.
__ADS_1
"Ini, apa sudah ada cucu Mom disini." Jihan mengelus perut menantunya.
Berliana hanya tersenyum kikuk pada mertuanya tersebut. Cucu ? Bahkan sudah enam bulan menikah pun Keenan tidak menyentuh dirinya, karena Keenan terus bekerja sampai larut malam. Bahkan hari libur pun Keenan masih disibukkan dengan pekerjaan diruang kerjanya.
Bukan tentang pekerjaan, bahkan ketika mereka sedang bersama topik pembicaraan Keenan selalu menyangkut tentang Keyla. Lantas bagaimana ia bisa hamil anak Keenan, sedangkan Keenan tak pernah menyentuhnya dan punya waktu untuk berdua.
Apalagi saat ini sudah satu minggu berlalu suaminya itu sedang melakukan perjalanan bisnis ke Jepang.
"Mungkin belum Mom." balas Berliana asal
Jihan menganggukkan kepalanya, ia sadar seharusnya ia tak menanyakan hal itu pada Berliana. Sebab hadirnya seorang anak karena izin dari yang maha kuasa.
... .......
"Omo..omo..apa aku tidak salah lihat ? Berliana !" ucap Shinta antusias ia memeluk temannya tersebut saking senang dan bahagianya.
"Shinta.." balas Berliana mengurai pelukan mereka.
"Kau sedang apa Ber ? Kuliah di sini juga ?" tanya Shinta.
__ADS_1
"Iya."
"Wah...kebetulan sekali, aku baru saja mengurus perpindahan kuliahku. Besok aku akan mulai kuliah disini." ucap Shinta
"Benarkah ? Kenapa pindah ? Apa tidak betah tinggal di negeri ginseng, tempatnya opa-opa." balas Berliana
"Ini karena ulah Papaku yang menginginkan aku menikah !" balas Shinta malas jika menceritakan masalah dirinya.
"Kenapa ? Ayo kita ke kafe dekat kampus sini, tapi tunggu sebentar aku ingin menyerahkan tugas kuliahku dulu." ucap Berliana kemudian ia masuk ke dalam ruangan Dosennya.
Beberapa saat kemudian Berliana dan Shinta duduk disebuah kafe dekat kampus mereka. Mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka setelah tamat sekolah.
"Jadi kau sudah menikah, dan tidak memberitahu aku." ucap Shinta dengan bibir mengerucut karena merasa tidak diberitahu sama sekali oleh Berliana jika sudah menikah.
"Aku tidak punya kontak mu, bagaimana aku mau mengabari mu." kilah Berliana kemudian menyedot es boba miliknya.
"Lantas bagaimana denganmu ? Benarkah kau akan menikah ? Dengan siapa ?" tanya Berliana penasaran.
Shinta menghembuskan kasar nafasnya kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan foto yang membuat Berliana memekik kaget.
__ADS_1
"What !"