
...“Jangan memaksakan kehendak jika ia memang tak bisa menjadi milikmu. Karena sejatinya sebuah paksaan tak akan berkahir dengan kebahagiaan. Terutama pada lawannya, jangan pernah memberi celah jika tak ingin memantik api dan membuat orang lain terluka.”...
Miko bergegas menuju cafe tempat dimana Shinta dan Luna berada. Miko begitu marah kala Shinta dengan beraninya menemui Luna tanpa sepengetahuannya.
Begitu Miko tiba di cafe yang disebutkan oleh Bayu. Miko keluar dari mobilnya dan hendak masuk ke dalam café, tiba-tiba ia bertemu dengan Luna.
Miko menatapnya dengan penuh damba wanita yang sudah mengunci hatinya untuk satu nama yaitu, Luna. Namun Luna menatap Miko biasa saja, tak ada rasa sedikitpun cinta itu pada Miko. Karena semua telah terkubur oleh tumpukan cinta yang sudah diberikan oleh suaminya, Alrend.
“Lu..luna.” sapa Miko, untuk pertama kalinya setelah perpisahan diantara mereka, kini mereka bertemu kembali. Selama ini ia hanya bisa melihat Luna dari pantauan anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi kemana Luna pergi dan apa yang Luna lakukan.
__ADS_1
Tapi saat ini ia tengah berhadapan langsung dengan wanita yang ia cintai itu. Rasanya canggung seperti pertama kali ia bertemu dengan Luna, kala mereka belum berpacaran namun ia sudah lebih dahulu menyukai Luna.
“Apa kabar Miko ?” Tanya Luna basa-basi mungkin pikirnya ia harus mengatakannya saja saat ini pada mantan kekasihnya itu, jika Miko tak perlu terus berlarut mengharapkan dirinya yang sudah bahagia bersama yang lain.
“Kabarku baik-baik saja.” Jawab Miko mengembangkan senyuman di bibirnya. Hatinya begitu menghangat kala Luna menanyakan kabarnya.
“Sepertinya langsung saja ku katakan padamu. Miko, aku sudah bahagia bersama suamiku, Alrend. Lihat aku tengah mengandung buah cinta diantara kami. Sebaiknya kau buang jauh-jauh rasa cintamu untukku. Karena kau harus menjaga hati istrimu, apakah kau tak melihat betapa tertekan, dan kasihan nya dia karena kau selalu menyebut namaku dan tak pernah menghargainya sebagai istrimu ?”
“Bagaimana jika apa yang dialami oleh istrimu juga dirasakan oleh adik perempuanmu ! Apakah kau sanggup menerimanya ? kala suaminya tak menghargainya dan menyia-nyiakannya ? Kau harusnya sadar, akan hal itu, Miko !”
__ADS_1
ucap Luna panjang lebar, ia menjadi kesal dan makin kecewa pada Miko. Seharusnya mantan kekasihnya itu menemukan kebahagiaannya meski tak bersamanya, bukan malah menyakiti hati wanita lain, dan itu adalah istrinya sendiri.
Miko tertegun ia diam terpaku dengan apa yang dikatakan oleh Luna padanya. Iya, selama ini sudah menyia-nyiakan istrinya tak pernah menghargainya, harusnya ia juga sadar bagaimana jika perbuatannya itu berimbas pada sebuah karma yang dapat diterima oleh orang disekitarnya termasuk adik kandungnya sendiri.
Ia begitu mementingkan egonya sendiri demi sebuah rasa yang pemiliknya sudah tak mengharapkannya kembali ke sisinya.
“Jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil tak dapat kau raih, harusnya kau sadar jika selama ini kau sudah memiliki yang jauh lebih baik dari apa yang kau harapkan.” Ucap Luna kemudian ia pergi masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Miko diam terpaku.
Shinta yang sedari tadi menyaksikan bagaimana penuh damba pada suaminya itu menatap Luna, hatinya begitu nyeri. Apalagi saat suaminya tersenyum manis seperti itu, sebuah ekspresi yang tak pernah ditunjukkan padanya selama satu tahun mereka menikah.
__ADS_1
Miko kemudian menyadarkan dirinya kala manik matanya menangkap sosok Shinta yang tak jauh dari dirinya. Ia melihat gadis malang yang menjadi istrinya itu, sebegitu besarnya mungkin rasa sakit yang ia berikan pada Shinta tanpa ia ketahui.
“Shinta…