
"Kak Tara ini tempat umum." protes Berliana saat Keenan mengecup bibirnya sekilas.
"Maaf" balas Keenan dengan santainya.
Berliana mendengus kesal dengan sikap Keenan ia kemudian menyodorkan mangkok baksonya ke arah Keenan. "Makan dan habiskan, atau aku tidak akan memaafkanku." ancam Berliana pada Keenan.
Mau tidak mau Keenan memakan bakso itu karena takut Berliana tidak mau memaafkannya. Keenan bahkan menghabiskan satu mangkok bakso itu tak tersisa, ia akui rasa bakso tersebut sangatlah enak.
"Sesekali Kak Tara harus merasakan betapa lezatnya rasa micin !" ucap Berliana dengan terkekeh geli melihat Keenan menghabiskan bakso tersebut.
"Kenapa enak sekali, aku mau satu lagi." pinta Keenan dengan tak tahu malunya, persetan dengan image yang terpenting saat ini ia menginginkan bakso itu lagi di samping rasa lapar dan memang rasa bakso itu sungguh nikmat.
Tawa Berliana pecah saat Keenan meminta satu mangkok bakso lagi. Berliana pun memesan lagi bakso tersebut satu untuknya dan satu untuk Keenan. Mereka kemudian memakan bakso itu dengan diselingi canda tawa, sungguh pemandangan dua sejoli yang begitu manis.
__ADS_1
Beberapa waktu kemudian Keenan mengantarkan Berliana pulang ke rumah. Keenan mengerutkan keningnya saat Miko telah berdiri di samping mobil yang biasa ia pakai untuk pulang pergi ke kantor.
"Ada apa ?" tanya Keenan pada Miko. Sedangkan Miko menatap Berliana dari atas sampai bawah sosok Berliana secara langsung yang bisa membuat Keenan yang arogan dan dingin seperti es balok mencair dan manis seperti sekarang.
Keenan memahami bahasa tubuh Miko jika Miko tak mau ada orang lain yang tahu pembicaraan mereka. Keenan pun mengajak Miko untuk berbicara di ruang kerjanya. "Aku harus bicara dengan Miko, kau istirahat dulu, okey." pinta Keenan agar Berliana masuk ke dalam kamarnya.
Berliana menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya. Ia tak mau ambil pusing dengan urusan dua lelaki itu, mungkin saja Berliana pikir itu prihal pekerjaan. Namun saat ia hendak masuk ke dalam kamarnya ia mendengar suara Mom Jihan di arah dapur.
Berliana pun tak jadi masuk ke dalam kamarnya, ia kemudian menuju ruangan dapur. Ternyata Mom Jihan sedang membuat kue di sana seorang diri, padahal banyak pelayan dan juga koki di rumah ini tapi Mom Jihan memasaknya seorang diri.
"Mom sedang membuat kue apa ?" tanya Berliana kemudian ia melihat semua bahan kue tersebut lalu ia tahu kue apa yang ingin dibuat oleh calon mertuanya tersebut.
"Lapis nanas" ucap Berliana dan Jihan bersamaan.
__ADS_1
Kemudian mereka sama-sama melempar senyuman. Jihan tak menyangka jika Berliana tahu kue apa yang akan dibuat oleh Jihan. "Kau bisa membuatnya, Berlian ?" tanya Jihan antusias jujur saja Jihan baru saja ingin belajar membuat kue tersebut dengan melihat buku resep.
Berliana menganggukkan kepalanya, tentu saja Berliana tahu bagaimana cara membuatnya. Dulu Berliana pernah bekerja di toko kue yang menjual berbagai macam jenis kue. Ia banyak belajar bagaimana caranya membuat kue yang enak dan unik.
Setelah Berliana dan Jihan berkutat di dapur dan jadilah kue lapis nanas buatan Berliana dan Jihan yang begitu menggoda. Jihan kemudian memotongnya dan mencicipinya ternyata rasanya sangatlah enak.
"Berlian ini enak sekali." ucap Jihan memuji hasil karya mereka.
"Benarkah, Mom ?" tanya Berliana kemudian ia mencicipi sedikit kue tersebut.
"Kau sangat pintar membuatnya, Berlian. Apa kita buka saja toko kue ?" ucap Jihan antusias sedangkan Berliana menganggap ucapan Jihan hanyalah candaan semata.
"Mommy bisa saja." Berliana terkekeh mendengar ucapan Jihan.
__ADS_1
Pemandangan yang begitu manis bukan ? Calon mertua dan calon menantu yang begitu kompak. Pemandangan itu tak sengaja di lihat oleh Zio yang baru saja dari halaman belakang, ia tak menyangka rumah ini sebentar lagi akan bertambah anggota keluarga baru, dan Zio melihat hubungan antara Jihan dan Berliana yang sangat akur dan manis.