
“Baiklah, kami akan mengikuti saran anda, Dokter” balas Keenan.
“Tapi aku tidak mau dirawat di rumah sakit, Kak Tara.” Ucap Berliana memelas karena ia tidak menyukai rumah sakit.
“Nyonya tenang saja, Nyonya bisa bedrest di rumah nanti saya yang akan memeriksa keadaan nyonya setiap dua atau tiga hari sekali.” Balas dokter tersebut.
“Kau dengar sayang ? Kau bisa dirawat di rumah.” Kata Keenan menenangkan istrinya.
Berliana tersenyum senang akhirnya ia tak dirawat di rumah sakit. Tapi ia harus rela tidur di rumah sakit malam ini karena dokter ingin mengecek kondisinya di pagi hari.
Berliana kemudian ditempatkan diruang inap president class. Entah mengapa ia tak ingin jauh dari suaminya dan ingin tidur di samping suaminya. Keenan menuruti keinginan istrinya, mungkin itu termasuk keinginan calon anaknya, pikirnya.
“Apa masih terasa keram ?” tanya Keenan mengelus perut rata istrinya sambil memeluk tubuh istrinya.
“Tidak lagi, mungkin karena sudah diberi obat oleh dokter lewat infus ini.” Balas Berliana menunjukkan tangannya yang memang dipasang alat infus.
__ADS_1
“Aku hampir saja membunuh calon anak kita.” Lirih Keenan merasa bersalah karena mengingat aktivitas percintaan mereka tadi, memang Keenan bermain sedikit kuat dan dalam tempo yang cepat. Mungkin itu membuat istrinya mengalami keram perut dan sedikit pendarahan.
“Jangan menyalahkan diri sendiri, aku juga salah. Yang terpenting sekarang kita sudah tahu jika sudah ada calon anak kita disini. Bukankah tugas kita sekarang adalah menjaganya dengan baik, hingga ia lahir ke dunia dan melihat Daddy dan Mommy nya.” Ucap Berliana menenangkan suaminya agar tak selalu menyalahkan dirinya sendiri.
Mendengar kata Daddy membuat Keenan meneteskan air mata bahagianya ia tak menyangka sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Ia benar-benar bahagia saat ini. Semua kebahagiaan itu ia dapatkan dari Berliana, istrinya.
“Terimakasih sudah membuatku menjadi pria yang sempurna, aku bahagia memilikimu.” Keenan mengecup kening istrinya.
“Aku pun lebih bahagia di miliki mu.” Balas Berliana mengecup bibir suaminya, dan memeluk tubuh suaminya. Kemudian mereka terlelap dalam tidur dan masuk ke dalam mimpi.
Shinta menatap nanar punggung lelaki yang telah menjadi suaminya. Ini adalah malam pengantinnya bersama Miko, tapi Miko sama sekali tak menyentuh dirinya. Miko bersikap dingin padanya, hanya bicara padanya itupun jika Shinta yang bertanya padanya.
Shinta terus memandangi punggung Miko yang tidur membelakanginya. Mungkin Miko masih belum menerima pernikahan mereka yang tidak di dasari oleh cinta itu. Shinta kemudian menguatkan hati dan dirinya, ia yakin jika suatu saat ia bisa merebut hati suaminya dan membuat Miko jatuh hati padanya.
... ………...
__ADS_1
Luna berjalan ke arah suaminya yang tengah berdiri di balkon kamar hotel milik mereka, dengan membawa dua gelas kosong dan satu botol wine ditangannya.
Ia kemudian meletakkan gelas dan botol wine itu di atas meja kecil yang terdapat di balkon kamar, hingga Alrend tersadar akan keberadaan Luna.
“Mau minum ?” tawar Luna saat menuangkan wine ke dalam gelasnya.
Alrend menyunggingkan senyuman di bibirnya saat Luna bicara padanya. Walaupun pernikahan mereka tidak dilandaskan cinta, tapi entah mengapa ia begitu nyaman jika berada didekat Luna.
Alrend menerima gelas yang berisi wine dari tangan wanita yang telah menjadi istrinya, itu ia menyesapnya dengan pandangan matanya tak lepas dari Luna.
“Mulai sekarang jangan panggil aku dengan sebutan, Tuan. Karena aku suamimu.” Ucap Alrend meletakkan gelas ke atas meja. Kemudian ia membelai rambut Luna dan menyingkirkan rambut Luna kearah belakang.
Pandangan mata mereka saling bertemu dengan pikiran mereka masing-masing. “Aku dan kamu ?” ucap Luna pelan.
Alrend menganggukkan kepalanya seolah setuju dengan ucapan Luna. “Itu lebih baik.”
__ADS_1
“Kau menginginkanku ?”