
...Tidak ada yang kekal di dunia ini, semuanya pasti akan berpulang kepangkuan-Nya. Jangankan pelangi setelah hujan, bahkan ada pertemuan dan perpisahan. Kita tidak tahu kapan hari itu terjadi, sebab itu adalah rahasia-Nya....
Keyla gadis kecil berusia enam tahun, putri Yohana dan Keenan kini dikebumikan di pemakaman keluarga milik Argantara. Mereka tak menyangka baru saja setelah perayaan kebahagiaan antara Keenan dan Berliana keluarga Argantara diselimuti duka mendalam atas kepergian Keyla.
Tangis Yohana tak pernah berhenti kala tubuh putrinya telah menyatu dengan gundukan tanah merah dan bertabur dengan bunga tujuh rupa. Apalagi saat doa telah dipanjatkan untuk putrinya.
Selama ini putrinya telah berjuang melawan penyakit itu lebih tepatnya sejak Keyla berumur empat tahun. Berbagai pengobatan telah Yohana berikan agar Keyla sembuh dari penyakitnya, namun ternyata Tuhan lebih menyayangi putrinya. Tak akan ada lagi rengekan dan tangisan Keyla terdengar ditelinga Yohana.
"Ikhlaskan kepergiannya Nak, bukan hanya kau yang kehilangan kami juga kehilangan cucu kami." lirih Jihan mengelus bahu Yohana yang masih terisak dalam tangisnya.
... Setiap yang bernyawa pasti akan kembali ke pangkuan-Nya. ...
__ADS_1
Satu persatu keluarga Argantara pergi meninggalkan pemakaman Keyla kini hanya tersisa Yohana, Keenan, Berliana, dan Bern di sana.
"Ayo kita pulang Nyonya, kasihan Nona Keyla jika Nyonya terus bersedih di pusaranya." ucap Bern pada Yohana
"Bern, Putriku sudah tidak sakit lagi bukan ? Apa dia bahagia di sana bersama Papaku dan Mamaku ?" lirih Yohana yang terus mengelus nisan Keyla.
Keenan, Berliana, dan Bern yang mendengar itu tentu saja mereka merasakan pilu yang Yohana juga rasakan.
"Iya Nyonya, Nona Keyla pasti telah bahagia bersama Kakek dan Neneknya. Ikhlaskan kepergiannya, Nyonya harus menunjukkan jika Nyonya bisa tegar dan baik-baik saja setelah kepergian Nona Keyla. Karena Nona Keyla pasti akan sangat sedih jika melihat Nyonya terus terpuruk dalam duka." ucap Bern memberikan nasehat pada Yohana.
"Mama akan datang lagi sayang." ucap Yohana mengelus nisan putrinya untuk terakhir kalinya kemudian Yohana bangkit dari duduknya kemudian ia membenahi selendang yang ia kenakan di kepalanya dan hendak pergi meninggalkan makam putrinya bersama Bern.
__ADS_1
"Yohana.." ucap Keenan pelan yang mampu membuat langkah kaki Yohana terhenti dan berbalik menatap Keenan, Ayah dari anaknya.
"Setelah ini tidak akan ada lagi dendam dan pertumpahan darah diantara kita. Aku mengikhlaskan semuanya, jika kau tak terima karena kepergian Grand Ma mu yang disebabkan olehku. Silahkan kau laporkan aku ke polisi dan dengan sadar aku akan menyerahkan diriku." ucap Yohana panjang lebar.
Keenan menggelengkan kepalanya saat mendengar penuturan Yohana. Ia tak akan setega itu pada wanita yang telah melahirkan putrinya, membesarkan dan berjuang bersama mengobati putrinya. Karena semua peristiwa terjadi berawal dari kesalahannya.
"Aku minta maaf, sekali lagi maafkan aku." lirih Keenan dengan mata sembab yang sedari tadi ia menangis menyaksikan pemakaman putrinya.
Yohana menghembuskan nafasnya memaafkan ? mungkin tak semudah meminta maaf bukan ? Tapi semua telah terjadi, semuanya tidak bisa diulang kembali. Yohana harus berbesar hati agar putrinya bahagia dan tenang di alam-Nya.
"Mari menjalin hubungan baik mulai sekarang, Keenan. Aku memaafkan mu." Balas Yohana kemudian ia berbalik melangkah pergi meninggalkan Keenan dan Berliana.
__ADS_1
Tangis Keenan pecah saat Berliana memeluknya, ia butuh sandaran, dirinya rapuh benar-benar rapuh saat ini. Kehilangan seorang putri yang baru saja ia temui hanya dalam kurun waktu dua hari.
"Maafkan Papa, Keyla. Maafkan Papa..." isak tangis Keenan menyelimuti di pusara Keyla, putri kandungnya.