
Gaes maaf banget udah tiga hari ini author enggak update sebab lagi sibuk banget..janji mulai hari ini author bakal crazy up kembali !
.......
Hari berganti hari, bulan pun berganti bulan keluarga Argantara semakin bahagia karena Kinanta telah menikah dengan Rama Graham.
Setelah menikah Kinanta memutuskan untuk mengikuti suaminya ke Jerman. Rumah sakit yang ia kelola kembali dipimpin oleh Mommy nya, karena Jihan masih sanggup mengurusnya.
Kepergian Kinanta tentu saja membuat keluarga Argantara merasa kehilangan. Zio bahkan meminta Rama untuk tidak membawa Kinanta, tapi apa boleh buat Kinanta sudah menikah, ia harus mengikuti kemana suaminya pergi.
“Daddy akan selalu merindukanmu.” Ucap Zio memeluk tubuh putrinya, saat mengantar putrinya ke bandara.
“Daddy..’ lirih Kinanta ia menangis dipelukan Daddy nya. Kemudian ia melihat Mommy nya yang sudah berurai air mata.
“Mom..” Kinanta langsung berhambur memeluk Mommy nya. “Mommy jangan menangis nanti Mom tidak cantik lagi dan terlihat tua.” Ucap Kinanta masih sempat bercanda pada Mommy nya.
“Kau ini !” Jihan memukul lengan putri kesayangannya itu karena gemas.
__ADS_1
“Jaga dirimu baik-baik disana, okey. Selalu telepon Mommy dan Daddy mu.” Kata Jihan lagi.
Kinanta menganggukkan kepalanya ia kemudian kembali memeluk tubuh Mommy nya. Lalu ia menatap Berliana yang tengah duduk di kursi roda. Selama masa awal kehamilan Berliana di larang keras oleh Keenan untuk banyak bergerak, jadi Berliana harus menuruti perintah suaminya agar tidak terjadi apa-apa pada calon bayi mereka.
“Aku pergi, Berliana. Jaga dirimu dan calon keponakanku, aku akan kembali lagi jika kau sudah melahirkan.” Kinanta memeluk dan mengelus perut Berliana yang masih datar.
“Tentu saja nanti kau harus pulang setelah keponakanmu lahir, semoga rumah tanggamu bahagia selalu, aku akan selalu mendokanmu.” Berliana membalas pelukan Kinanta.
“Jaga adikku dengan baik, Rama. Jangan kau sakiti dia, jika kau sudah tidak mencintainya lagi kembalikan dia pada kami dengan cara yang baik.” Ucap Keenan pada Rama yang membuat Rama menjadi mawas diri.
Benar bukan ? Jangan menyakitinya, jika tak cinta lagi pulangkan saja pada kedua orang tuanya.
Setelah kepergian Kinanta tadi pagi. Zio dan Jihan tengah duduk diruang keluarga, mereka merasa Nampak seperti ada yang hilang saat Kinanta sudah tak tinggal lagi dirumah mereka.
Biasanya dirumah itu akan selalu terdengar suara cempreng milik Kinanta yang memanggil mereka. Apalagi saat dimeja makan, suara Kinanta selalu mendominasi.
“Rumah ini terasa sepi !” ucap Jihan pelan menyenderkan kepalanya di bahu suaminya.
__ADS_1
Zio mengelus kepala istrinya ia tahu apa yang dirasakan istrinya kala putri kesayangan mereka telah pergi mengikuti suaminya.
“Jangan begitu, disini masih ada Keenan, Berliana, dan sebentar lagi akan hadir suara tangisan bayi yang akan merepotkan Grand Ma nya.” Balas Zio memberikan semangat pada istrinya.
“Mas benar, ah..aku tak menyangka akan menjadi seorang nenek.” Balas Jihan dengan menegakkan tubuhnya.
“Nenek muda yang cantik, meskipun sudah tua.” Kata Zio cepat kemudian mengecup pipi istrinya.
Jihan membulatkan kedua matanya kemudian menatap tajam suaminya “Mulai malam ini, Daddy tidur diluar !” ucap Jihan kemudian masuk ke dalam kamarnya dengan mengunci rapat kamar itu, meninggalkan suaminya yang diam di tempat dengan mulut yang menganga.
“Aku salah apa?” Tanya Zio seorang diri merasa bingung dengan sikap istrinya yang tiba-tiba marah padanya.
... ……...
Siang hari ini Shinta berencana mengantarkan makan siang ke kantor tempat suaminya bekerja. Ini adalah kali pertama baginya mengantarkan makan siang suaminya. Shinta terus mengembangkan senyumannya saat ia telah sampai di lobby dan menuju ruangan suaminya dengan menggunakan lift.
Begitu ia sampai dimana ruangan suaminya dengan diantar oleh salah satu seorang receptionist. Shinta merapikan rambutnya dan pakaiannya sebelum mengetuk pintu ruang kerja suaminya.
__ADS_1
Klek