Terpenjara Cinta Tuan Keenan

Terpenjara Cinta Tuan Keenan
BAB 121


__ADS_3

Kinanta kemudian bangkit dari duduknya ia lalu menghampiri putrinya yang masih terlelap dalam tidurnya. Rama bahkan terus memeluk tubuh Kinanta dari arah belakang seraya selalu memberikan kekuatan dan semangat untuk istri tercintanya.


“Lihatlah, bukankah Kirana begitu cantik dan menggemaskan ? Aku sangat beruntung memiliki seorang istri sepertimu yang mau mengandung dan melahirkan buah cinta kita. Apa kau tahu banyak wanita di luar sana yang tidak bisa menjadi seorang Ibu karena faktor kesehatan mereka atau karena takdir Tuhan yang tak mengizinkan mereka untuk merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu.”


“Bukankah kau patut bersyukur karena Tuhan telah mempercayai kita untuk menjaga amanahnya dengan menitipkan Kirana pada kita ?”


“Kau jangan merasa seorang diri, Sayang. Aku akan selalu ada untukmu, membantumu dan selalu menjadi teman berkeluh kesahmu dalam merawat Kirana. Kita pasti bisa melewati semuanya, dan menjadi orang tua yang terbaik untuk putri kita.” Ucap Rama kembali memberikan semangat untuk istrinya.


Mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya. Kinanta kemudian membalikkan tubuhnya dan memeluk tubuh suaminya. Ia begitu bersyukur memiliki seorang suami yang begitu penyayang dan sabar padanya.


Ia pun kembali mawas diri, benar apa yang dikatakan oleh suaminya banyak wanita di luar sana mendambakan diri ingin menjadi seorang Ibu. Tapi semua itu adalah takdir yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, karena anak adalah sebuah titipan sang Maha Kuasa yang tidak kita ketahui kapan ia akan menitipkannya pada kita.


“Maafkan aku, Kak.” Lirih Kinanta dan Rama menyambutnya dengan senyuman manisnya, dalam hal ini ia tak bisa marah dan kecewa pada istrinya yang ada ia harus ekstra sabar menjadi suami karena yang dibutuhkan oleh istrinya saat ini hanyalah dukungan dan semangat darinya.

__ADS_1


“Kau tidak bersalah, Sayang. Jangan salahkan dirimu.” Rama membalas pelukan Kinanta dengan hangat.


... ……....


Setelah kejadian itu dua bulan kemudian Kinanta menjalani harinya menjadi seorang Ibu dengan bahagia. Ia tak pernah lagi ingin tahu siapa saja yang memberikannya komentar negative di sosial medianya. Karena yang terpenting saat ini adalah bagaimana merawat putrinya dengan baik dengan caranya sendiri.


Kinanta membawa Kirana berjalan-jalan disekitar rumahnya. Setelah menikah selama tiga bulan Kinanta dan Rama memutuskan untuk tinggal dirumah mereka sendiri, kompleks perumahan elit nan mewah tempatnya para kaum sultan.


Saat ia tengah melewati para ibu-ibu sosialita yang baru saja keluar dari salah satu rumah tersebut, langkahnya terhenti kala salah satu orang diantarnya memanggil dirinya.


“Nyonya Kinanta ?”


Kinanta membalikkan tubuhnya, ia mengenali siapa orang yang memanggilnya dia adalah istri Tuan Demian yang merupakan rekan bisnis suaminya.

__ADS_1


“Iya ?” jawab Kinanta


“Apa kabar Nyonya ? Wah..anak anda sangat menggemaskan.” Puji istri Tuan Demian.


“Kabarku baik, terimakasih Nyonya Demian.” jawab Kinanta.


Namun salah satu ibu yang lain melihat botol susu yang terdapat di saku stoller Kirana. Mereka jadi kepo pada Kinanta, mengapa Kinanta memberikan putrinya susu formula, bukan ASI yang jelas-jelas lebih baik untuk pertumbuhan bayi.


“Apa anakmu meminum susu formula, Nyonya Kinanta ?” Tanya Ibu-ibu yang lain.


“Iya Nyonya !” jawab Kinanta apa adanya.


“Zaman sekarang Ibu-ibu muda tidak mau repot untuk menyusui anaknya ya, padahal ASI adalah hal yang terbaik untuk tumbuh kembang sang buah hati !”

__ADS_1


__ADS_2