
"Iya Berlian, mau ya menikah dengan putra Bibi ? Bukankah kalian sudah saling mengenal sejak kecil dan berjanji akan menikah ketika dewasa nanti ?" bujuk Jihan pada Berliana. Tentu saja Jihan ingin sekali Berliana menjadi menantunya sebab Jihan sangat menyukai Berliana yang baik, ramah, sopan dan lemah lembut.
Jihan menganggukkan kepalanya ia setuju menikah dengan Keenan. "Baiklah Paman, Bibi. Aku mau menikah dengan Keenan." jawab Berliana mantap.
Zio dan Jihan tersenyum senang akhirnya putra akan menikah dengan Berliana. Ya selama ini Jihan dan Zio sering memperkenalkan Keenan dengan anak teman bisnisnya namun Keenan selalu menolak dengan berbagai alasan.
Terlebih lagi usia Keenan sudah menginjak umur tiga puluh tahun. Sedangkan putra itu tidak kunjung menikah juga. Dan kini akhirnya putranya itu akan menikah mereka tidak sabar untuk menantikan hari bahagia itu nantinya.
"Baiklah, kalian akan menikah minggu depan." ucap Zio dengan tegas yang membuat Keenan dan Berliana menoleh ke arah Daddy nya itu.
"Minggu depan ?" ulang Keenan ia tak menyangka jika Daddy nya menyuruhnya untuk menikah secepat itu.
"Turuti saja perintah Daddy mu, Ken." ucap Jihan memberikan pengertian pada putranya.
__ADS_1
"Tapi Mom, menikah itu butuh persiapan yang matang." balas Keenan cepat.
"Kau tenang saja, kau dan Berliana hanya perlu mempersiapkan diri." ucap Zio
Keenan mengusap kasar wajahnya ia bisa apa jika Daddy nya telah memberikan perintah padanya.
"Tapi Paman, bagaimana dengan Kakakku ? Hanya dia yang bisa menjadi wali nikahku, karena Ayahku sudah tiada." lirih Berliana.
"Kau tidak usah mempermasalahkan itu, Kakakmu akan menjadi wali nikah mu." jawab Zio dengan tegas. Ya walau bagaimana pun Jonathan adalah Kakak Berliana, hanya Jonathan yang bisa menikahkan Berliana dengan Keenan.
"Mas bagaimana jika mulai hari ini Berliana tinggal di rumah ini saja ?" ucap Jihan pada suaminya. Keenan yang mendengarkan itu dalam hatinya bersorak gembira, Mommy nya benar-benar sangat tahu jika ia harus lebih dekat dengan Berliana.
"Tidak masalah, tapi bagaimana dengan Berliana." balas Zio menatap Berliana
__ADS_1
"Maafkan aku Paman, Bibi. Bisakah nanti saja aku menginap di rumah ini. Aku harus menyelesaikan pesanan pelanggan ku besok dan memberitahu Kakak terlebih dahulu soal pernikahanku." pinta Berliana pada Zio dan Jihan.
"Baiklah kalau begitu, lusa kau harus mulai tinggal di rumah ini, Okey ?" ucap Jihan antusias ia begitu senang pada akhirnya Berliana akan menjadi menantunya.
Berliana hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawabannya pada Jihan. Berliana juga senang jika memiliki calon mertua seperti Jihan. Jihan yang baik, dan lemah lembut siapapun akan kagum dengan ketulusan hatinya.
Setelah pertemuan Berliana dengan kedua orang tua Keenan. Berliana pamit pulang di antar oleh Keenan. Sepanjang perjalanan Keenan selalu tersenyum karena bahagia akhirnya ia akan segera menikah dengan Berliana.
"Bagaimana caraku agar kau mau memaafkan ku, Ana ?" ucap Keenan menoleh ke arah Berliana saat mobilnya sudah sampai di depan rumah Berliana.
Berliana menoleh ke arah Keenan, bagaimana caranya ia pun tak tahu apa yang bisa Keenan lakukan padanya agar ia memaafkannya. "Entahlah." ucap Berliana singkat ia kemudian menatap lurus ke depan.
Keenan menggenggam tangan Berliana hingga Berliana menoleh ke arah Keenan. "Apa kau masih mencintaiku ?" tanya Keenan dengan lembut.
__ADS_1
Tatapan mereka saling bertemu, Keenan tahu Berliana sangat mencintainya begitupun Berliana ia melihat ketulusan di mata Keenan. Haruskah Berliana teguh dengan ego nya ? Lalu bagaimana dengan perasaannya ? Bukankah mereka akan sama-sama tersiksa jika berlarut dalam kondisi seperti itu.
... ....