
Sudah satu minggu sejak kejadian berciuman diantara Miko dan Shinta. Hubungan mereka masih biasa-biasa saja hanya saja bagi Shinta begitu aneh, karena perlakuan dan sikap suaminya yang begitu manis padanya semakin membuatnya bingung, sebenarnya suaminya mencintainya atau tidak ?
Mengapa Miko tak pernah sekali saja menyatakan cinta padanya. Bukan tanpa alasan bagi Shinta menginginkan hal tersebut, dan mungkin terkesan ke kanak-kanakan bagi orang.
Sebenarnya Shinta menunggu momen di mana Miko menyatakan cintanya, karena selama ini sampai ia menikah Shinta tak mempunyai kekasih. Ia selalu bermimpi menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintai dirinya, namun apalah daya karena permintaan Ayah dan rasa baktinya pada sang Ayah ia harus menikah tanpa rasa cinta ataupun dicintai oleh lelaki yang kini menjadi suaminya, Miko.
Lain halnya dengan Miko, kini pria itu sedang kebingungan bagaimana mengucapkan tiga kata yang selalu menjadi kata-kata keramat untuknya. Berulang kali ia mencoba mengucapkannya tapi tetap saja tidak bisa. Bahkan ia malah menjadi bahan tertawaan Keenan karena sempat bercerita padanya bagaimana cara mengungkapkan cinta pada seorang wanita.
“Shinta..aku..aku..men..cin..aahh..kenapa sulit sekali mengatakannya !” Miko mengusap kasar wajahnya ia benar-benar tak dapat mengucapkannya.
“Kau sedang apa ?” Tanya Keenan yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Miko tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, karena memang begitulah kelakuannya sebagai seorang bos di kantornya.
__ADS_1
Miko menghembuskan kasar nafasnya kala Keenan masuk ke dalam ruangannya secara tiba-tiba. “Tidak ada!” jawab Miko asal.
“Masih memikirkan bagaimana cara mengatakan cinta ? Mau ku bantu ?” Keenan terkekeh melihat wajah bodoh Miko yang akhir-akhir ini seperti benang kusut, tak bersemangat dan bahkan sering marah-marah dengan sekretaris maupun karyawannya padahal hanya melakukan kesalahan kecil.
“Sudahlah, aku tak butuh bantuan mu !” jawan Miko ketus. Ia begitu malas jika harus menjadi bahan tertawaan Keenan lagi, jika bercerita banyak padanya.
“Aku bisa melihat istrimu ternyata tipikal wanita yang menyukai keromantisan, ambil lah cuti tiga hari mulai besok, selesaikan masalahmu dengannya !” Keenan berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan Miko.
... ………...
Shinta sedang memasak di dapur, pikirannya melayang entah kemana sebab ia memasak sambil melamun. Ia terus berpikir tentang Miko. Apakah mungkin Miko mencintainya ? Jika Miko tak mencintai dirinya lantas untuk apa sikap dan perlakuan manis Miko selama ini padanya ? Semua itu membuatnya menjadi bingung.
__ADS_1
Saat Shinta tengah sibuk dengan lamunannya, tiba-tiba ia merasakan ada tangan kekar memeluk perutnya dari belakang dan itu membuat ia memekik kaget.
“Aaaa” pekik Shinta kemudian ia membalikkan tubuhnya dan melihat ternyata Miko yang memeluknya.
“Ini aku !” ucap Miko datar ia kemudian tersenyum saat melihat kegugupan istrinya.
“Mas mengagetkanku !” gerutu Shinta dan itu membuat Miko menjadi gemas.
“Kau memasak sambil melamun, lihatlah sup itu telah mengering dan tak layak untuk dimakan karena sayurnya sudah terlalu lembut.” Miko mematikan kompor dan memegang bahu istrinya.
“Maaf.”lirih Shinta ia benar-benar melupakan masakannya yang seharusnya mereka makan untuk nanti malam.
__ADS_1
“Kita makan di luar saja.” Ajak Miko kemudian menarik tangan Shinta masuk ke dalam kamar mereka dan Shinta hanya bisa menurut pada suaminya.